Ilustrasi: BBM yang diblending dengan etanol. (Michigan Engineering News).
JawaPos.com - Pemerintah bersiap menerapkan kebijakan wajib penggunaan bahan bakar beretanol 10 persen (E10) mulai tahun 2026. Langkah ini diklaim sebagai bagian dari strategi transisi energi hijau dan upaya mengurangi impor minyak mentah.
Namun di sisi lain, muncul pertanyaan dari masyarakat: apakah bahan bakar ini akan membuat kendaraan jadi lebih irit atau justru lebih boros?
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Pengamat dan reviewer otomotif Fitra Eri menilai, penggunaan etanol dalam bahan bakar memang membawa manfaat lingkungan, tapi juga menyimpan konsekuensi teknis yang bisa berdampak langsung ke konsumen.
“Etanol bisa meningkatkan oktan dan membantu mengurangi pemakaian bahan bakar fosil. Tapi nilai energinya lebih kecil, jadi tenaga mesin bisa sedikit menurun dan konsumsi BBM bisa lebih boros,” kata Fitra melalui akun Instagram-nya.
Berbagai sumber otomotif kredibel dan jurnal internasional juga menjelaskan, secara teori, etanol memiliki kandungan energi sekitar 30 persen lebih rendah dibanding bensin murni.
Artinya, kendaraan yang menggunakan campuran E10 cenderung membutuhkan volume bahan bakar lebih banyak untuk menempuh jarak yang sama.
Namun, keunggulannya terletak pada pembakaran yang lebih bersih, menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah, dan berkontribusi terhadap pengurangan polusi udara, hal yang jadi perhatian utama pemerintah dalam kebijakan energi hijau.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut, kebijakan ini juga diharapkan meniru keberhasilan biodiesel sawit (B40) yang mampu mengurangi ketergantungan pada impor minyak sekaligus memperkuat industri energi berbasis sumber daya lokal.
Selain itu, menurut Fitra, tidak semua kendaraan di Indonesia bisa langsung menggunakan bahan bakar beretanol tanpa risiko.
“Mobil-mobil modern umumnya sudah kompatibel. Tapi mobil lawas keluaran tahun 1980–1990-an belum tentu aman, karena bahan bakarnya bisa menyebabkan korosi di komponen mesin,” ujarnya.
Masalah lain adalah kesiapan infrastruktur. Banyak SPBU swasta saat ini belum menyesuaikan aditif bahan bakar mereka untuk etanol. Jika distribusi dan formula bahan bakar tidak seragam, risiko kerusakan mesin bisa meningkat.
Selain soal efisiensi bahan bakar, transisi ke E10 juga berpotensi mengubah pola konsumsi energi masyarakat.
Baca Juga: Etanol Masuk ke Tangki BBM Kendaraan Mulai 2026, Pakar Otomotif: Konsumsi BBM jadi lebih Boros!
Jika biaya per liter tidak dikompensasi oleh efisiensi, pengguna mobil pribadi dan transportasi umum bisa merasakan kenaikan biaya operasional harian. Di sisi lain, bahan bakar beretanol berpotensi mengurangi emisi, yang berarti udara kota bisa jadi lebih bersih.

Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Port FC di Piala Presiden 2026: Green Force Bisa Sapu Bersih Laga!
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Prediksi Skor Persija Jakarta vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Jaga Asa ke Semifinal!
Jadwal Aston Villa vs Indonesia All Stars: Jam Kick-off, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad
Hasil Babak Pertama Persebaya vs Port FC: Miguel Pereira Cetak Gol Perdana, Skor Masih 1-1
Prediksi Persebaya Surabaya vs Port FC: Bruno Moreira Dikabarkan Cedera, Bernardo Tavares Buka Peluang Rotasi Pemain
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
