
Manajemen PT BYD Motor Indonesia berkunjung ke kantor pusat Jawa Pos Media, Gedung Graha Penas skm hbd deffy bh
JawaPos.com-Kabar pemerintah yang akan menutup keran insentif impor mobil listrik rupanya tak mendapatkan respons negatif dari pelaku industri. Mereka mengatakan bahwa itu sudah menjadi roadmap untuk membangun industri mobil listrik di tanah air. Untuk mengingkari tersebut justru akan melukai kepercayaan investor.
Head if Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan menanggapi positif mengenai wacana pemerintah mengakhiri insentif impor mobil listrik completely bulit up (CBU). Dia menegaskan bahwa ini bukanlah keputusan dadakan dari pemerintah. Melainkan skema yang sudah dijelaskan kepada pelaku industri sejak awal dibukanya keran tersebut.
''Sejak awal kami diberi penjelasan bahwa insentif CBU hanya sampai akhir tahun ini. Jadi, kami sadar mengenai rencana ini,'' jelasnya saat mengunjungi kantor Jawa Pos Jumat (29/8).
Kebijakan tersebut, lanjut dia, digunakan pemerintah untuk mendorong adopsi mobil listrik lebih cepat. Sehingga, produsen mobil listrik dibebaskan bea impor untuk mobil CBU. Namun, ada syarat dari insentif tersebut. Yakni, jaminan bahwa setelah jenama asing itu mempunyai fasilitas produksi, mereka bakal memproduksi produk yang setara atau dengan nilai lebih,
Artinya, jika pihaknya mengimpor satu unit BYD Atto 1, mereka harus memproduksi satu unit mobil dengan spesifikasi motor listrik dan baterai yang sama. Atau bahkan spesifikasi yang lebih. ''Jadi misalnya, kalau kita impor BYD Atto 1, bisa saja kita lunasi dengan produksi BYD M6. Tapi, kalau Denza D9 ya harus sama krena sepsifikasi yang lebih atas kan tidak ada,'' terangnya.
Produsen pun harus memberikan jaminan setara uang bea impor sebagai bank garansi. Uang jaminan itu baru bisa diambil setelah pabrikan menuntaskan kewajiban tersebut. Karena itu, dia menegaskan bahwa penutupa insentif ini justru menjadi kabar baik bagi pihaknya. Pasalnya, pihaknya sudah membangun pabrik di Subang untuk melaksanakan kewajiban itu. Kabar yang beredar nilai investasinya mencapai USD 1 miliar.
Jika pemerintah akhirnya memperpanjang insentif, hal tersebut justru merugikan pihak yang sudah melakukan investasi besar-besaran. ''Bank garansi kita juga sudah besar. Nilainya sudah melebihi investasi pabrik kami,'' paparnya. (*)

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
