Mobil listrik BYD Atto 1 pada pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (23/7/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Persaingan harga kian ketat pada pasar otomotif nasional. Terlebih setelah kedatangan sejumlah produsen mobil asal Tiongkok yang agresif dan menjadi perhatian serius kalangan industri.
Baca Juga: Produsen Otomotif Tiongkok Pakai Strategi Harga Miring, Toyota dan Suzuki Tetap Tak Bergeming
Harga jual pun menjadi sangat kompetitif, bahkan menyaingi segmen Low Cost Green Car (LCGC). Fenomena ini dinilai menyerupai strategi “bakar uang” seperti yang pernah terjadi di sektor e-commerce.
“Ini mirip seperti persaingan di marketplace. Produsen asal Tiongkok cenderung mengutamakan penetrasi pasar dan portofolio penjualan, bukan margin. Fokusnya bukan cuan hari ini, tapi penguasaan pasar ke depan,” kata Yohannes M. Pasaribu, pengamat otomotif dari ITB, dalam diskusi otomotif di ICE BSD, Tangerang Selatan, Kamis (31/7).
Dia menjelaskan, pendekatan agresif tersebut tak lepas dari kondisi overproduction yang sedang melanda industri otomotif Tiongkok. Dengan kapasitas produksi yang sangat besar dan efisiensi teknologi yang tinggi, mereka mampu menawarkan harga jual yang rendah tanpa mengurangi fitur atau desain.
“Tiongkok itu sekarang bukan hanya pusat produksi, tapi juga pusat inovasi. Bahkan produk global sekelas Apple pun dibuat di sana. Maka jangan heran, produk otomotif pun bisa mereka dorong ke luar dengan harga yang sangat bersaing,” lanjut Yohannes.
Dalam kesempatan yang sama, James Luhulima, pengamat otomotif senior, menjelaskan bahwa perang harga sudah mulai terlihat. Hal ini tampak dari dominasi merek Jepang ke Tiongkok pada segmen mobil listrik dan hybrid.
Menurutnya, pada semester I/2025 sendiri, mobil listrik terjual 35.846 unit dan hybrid 28.817 unit. Namun, pertumbuhan ini bukan menambah pangsa pasar baru, melainkan memakan ceruk yang sudah ada.
Merujuk pada data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total penjualan mobil pada paruh pertama 2025 mencapai 390.467 unit. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Artinya, pasar tidak bertumbuh, tetapi jumlah pemain terus bertambah sehingga persaingan harga semakin tajam.
“Ini berisiko tinggi. Karena saat target penjualan tak tercapai, pabrikan mau tidak mau menekan harga. Tapi perusahaan besar, seperti Jepang, punya beban lebih besar: karyawan banyak, jaringan luas. Kalau margin makin tipis, ada risiko efisiensi, bahkan PHK,” kata James.
Dia menjelaskan, dampak penurunan industri tidak hanya dirasakan pabrikan atau vendor komponen, tetapi juga merembet ke sektor pendukung seperti logistik, warung, penyedia tempat kos, bahkan media otomotif.
Masalah lain yang menambah beban adalah ketimpangan antara harga mobil yang terus naik dan daya beli masyarakat yang tidak ikut berkembang. Yohannes mencatat bahwa sejak 2013, harga mobil rata-rata meningkat 7 persen per tahun, sedangkan kenaikan pendapatan masyarakat hanya sekitar 3 persen.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
