Pakar Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ing. Ir. Tri Yuswidjajanto Zaenuri melakukan pengukuran RON BBM. (Istimewa)
JawaPos.com-Pakar Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ing. Ir. Tri Yuswidjajanto Zaenuri melakukan pengukuran Research Octane Number (RON) pada BBM yang dijual di Indonesia menggunakan alat Oktis-2. Pengukuran itu dilakukan di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Baca Juga: April 2025 Membawa Hoki Tanpa Henti: 6 Shio Ini Diramalkan akan Mendapatkan Cuan Melimpah
Metode pengetesan dilakukan untuk 12 sampel bensin RON 90, 92, 95 dan 98 aneka merek dari SPBU di Jakarta. Pengujian tersebut sekaligus membuktikan apakah pengukuran RON Bensin dengan Oktis-2 tersebut akurat atau tidak.
Hal tersebut juga untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, tentang pengukuran RON yang benar. Disiapkan dua alat ukur Oktis-2 untuk perbandingan pengukuran. “Terbukti dalam satu bahan bakar ada hasil RON sama tapi ada juga yang berbeda. Jadi secara prinsip alat Oktis-2 tidak terlalu stabil atau akurat,” jelas Dr. Tri Yuswidjajanto Zaenuri.
Oktis-2 diatur berdasarkan acuan pengukuran Rusia atau Eropa (PYC). Karena standar Rusia dan Eropa menggunakan standar RON seperti di Indonesia. Alat ini juga bisa diseting untuk standar Amerika (USA), namun standarnya AKI atau Anti Knocking Index. AKI merupakan rata-rata dari penjumlahan MON (Motor Octane Number) dan RON.
MON lebih rendah sekitar 6–12 poin dibanding RON, sehingga AKI lebih rendah 3 – 6 poin di bawah RON. Standar ini berbeda dengan Indonesia. Lewat mencelupkan pipa ke dalam sampel bahan bakar otomatis alat membaca sifat dielektrik dari cairan bahan bakar.
Ada 3 kali pembacaan data pengukuran. Hasilnya semua angka yang dikorelasikan dengan RON adalah di atas angka klaim yang dibuat oleh produsennya. Sebetulnya alat ini mengukur sifat dielektrik dari senyawa bahan bakar, hanya saja dikorelasikan dengan RON.
’’Alat ini tidak mencerminkan kondisi sebenarnya karena tidak ada pembakaran. Definisi RON adalah ketahanan bahan bakar untuk tidak terbakar dengan sendirinya di bawah tekanan dan temperatur yang tinggi (detonasi). Untuk mengetahui RON yang tepat harus dites dengan CFR engine di 600 RPM,” tambah Dr. Tri Yuswidjajanto Zaenuri.
Saat bersamaan juga diuji RON sampel bahan bakar sejenis di laboratorium independen menggunakan Coordinating Fuel Research (CFR) Engine. Pengujian sesuai standar metode American Society for Testing and Material (ASTM) D2699. Seluruh proses pengujian divalidasi dan alat yang digunakan selalu dikalibrasi. Rangkain pengukuran berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam dan diuji langsung oleh operator yang memiliki sertifikat. (*)
Berikut ini hasil dari masing-masing pengujian:
Photo

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
