Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 31 Juli 2019 | 15.26 WIB

Kenali Gejala Belt Wajib Diganti, Biar Nggak Pusing di Jalan

Jenis-jenis belt atau sabuk mesin. (RianAlfianto/JawaPos.com). - Image

Jenis-jenis belt atau sabuk mesin. (RianAlfianto/JawaPos.com).

JawaPos.com – Tak hanya yang berbahan metal, ada pula komponen berbahan nonmetal pada mobil yang tak kalah penting fungsinya. Komponen tersebut adalah sabuk mesin atau belt.

Kendati berbahan karet, belt mengemban tugas yang krusial. Belt menghubungkan komponen lain seperti AC, dinamo pengisian atau alternator, dan mesin itu sendiri kepada sistem pendinginan kipas pada mobil keluaran lawas. Belt juga kini digunakan di sepeda motor dengan transmisi otomatis sebagai pengganti rantai.

Sebagai komponen berbahan nonmetal, belt tidak memiliki usia pakai sepanjang komponen berbahan metal. Apa lagi di tengah penggunaannya, belt bergesekan dengan bahan metal yang menyebabkan dirinya semakin rentan jika tidak diperhatikan dengan saksama.

Soal belt dan penanganannya, Marketing Aftermarket PT Bando Indonesia Alphonso Purwono menjelaskan, belt sebetulnya memiliki usia pakai yang cukup panjang dan cenderung bebas perawatan. Namun begitu, belt tetap butuh perhatian.

Dia mengatakan, ada gejala-gejala yang bisa jadi indikator sebelum pada akhirnya belt harus diganti. Sebab kalau putus di jalan bisa repot dan bikin pusing.

Namun, sebelum bicara soal gejala-gejala tersebut, ada baiknya mengenal jenis-jenis belt pada kendaraan. Sebab belt pada setiap jenis kendaraan dalam hal ini mobil berbeda.

Perbedaan juga mengacu pada tahun produksi mobil. "Jenisnya macam-macam. Berbeda-beda, tergantung jenis mobil dan tahun produksinya," jelasnya kepada JawaPos.com belum lama ini.

Jenis paling umum diketahui masyarakat adalah v-belt dengan penampang potongan belt-nya seperti huruf V. Belt ini dikenal dengan bentuk penampang pulley-nya yang rata, tebal, dan tidak terlalu lebar.

V-belt digunakan pada mobil-mobil keluaran lawas seperti Toyota Kijang, keluarga Corolla lawas, dan sejenisnya di era sama. Jenis selanjutnya adalah v-ribbed belt yang merupakan gabungan alur luar berbentuk v-belt.

Lapisan inti penguat terdapat pada bagian datar belt. V-belt berkemampuan memindahkan power tergantung pada aksi jepit antara alur dan belt.

V-ribbed belt bisa diketahui pada jenisnya yang cenderung pipih dan lebar penampangnya. Jenis ini umum dikenakan pada mobil-mobil saat ini seperti yang populer Toyota Avanza, Toyota Kijang Innova, Suzuki Ertiga, dan sejenisnya.

Yang juga tak kalah familiar digunakan kendaraan di Indonesia adalah cogged v-belt. Jenis ini secara sederhana mirip dengan jenis V-belt.

Bedanya, pada cogged v-belt terdapat gerigi atau gigi-gigi. Cogged v-belt bisa juga digunakan untuk mengganti v-belt biasa untuk ketahanan yang lebih maksimum.

Sejenis cogged v-belt ada juga toothed belt. Belt ini umum digunakan pada motor skuter matik (skutik).

Photo

ILUSTRASI. Mobil mogok bikin pusing. (dok. OpenBay).

Kembali ke belt, perawatannya dan cara mengetahui kerusakannya, Alphonso mengatakan bahwa ada dua cara sederhana mengetahui belt sudah harus diganti. Cara tersebut berlaku sama untuk jenis-jenis belt di atas. Cara tersebut adalah melihat dan mendengar.

"Sebetulnya belt itu tidak perlu dirawat. Tapi juga perlu perhatian. Biasanya kalau belt sudah waktunya diganti adalah terdengar suara decitan dari sektor mesin. Kemudian kalau kita cek, belt-belt di mesin sudah terlihat retak-retak atau getas. Nah, itu sudah harus diganti," tuturnya.

Decitan memang tak selalu menjadi acuan usia belt sudah masanya diganti. Bisa jadi belt dengan pulley di mesin tidak center.

Hal tersebut juga bisa menimbulkan decitan. Namun, jika kondisi itu dibiarkan dalam waktu lama, maka bisa menyebabkan usia pakai belt semakin menyusut. Sebab gesekannya menjadi semakin berat.

Kemudian yang juga penting namun mudah dilakukan menurut Alphonso adalah dengan melihat belt di mesin. Ada atau tidak retakan, getas, dan belt yang terlihat kering juga bisa jadi tanda belt segera diganti.

Friksi atau gesekan antara belt yang berbahan karet dicampur serat metal membuat belt tipis. Belt yang terlihat tenggelam ke dalam mangkuk atau penampang pulley juga bisa jadi isyarat belt wajib diganti.

Sebagai informasi, Bando adalah merek komponen aftermarket populer. Bando juga menyuplai belt ke pabrikan otomotif dan menjual eceran di bengkel-bengkel.

Biasanya, mobil baru menggunakan belt besutan Bando. Belt sendiri dikatakan Alphonso umumnya memiliki usia pakai 2-5 tahun, tergantung tingkat kelelahan mesin mobil.

Belt sendiri bukan komponen fast moving kendaraan yang harga unitnya bikin bokek. Umumnya belt untuk mobil dijual dengan harga mulai Rp 70 ribuan saja.

Untuk mobil-mobil sekarang harganya juga tak mahal. Penggantian belt bisa dilakukan sendiri dengan membeli belt yang dijual di kisaran Rp 170 ribuan.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore