
FANTASTIS: Sebuah mobil plug-in hybrid sport BMW i8 hanya membutuhkan 2,1 liter untuk menempuh 100 km. Monster yang berakselerasi dari diam ke 100 km/jam dalam 4,4 detik itu juga mampu mencapai kecepatan 250 km/jam.
JawaPos.com- Pabrikan memiliki berbagai opsi untuk mengembangkan teknologi yang menekan penggunaan bahan bakar minyak. Turbo, hybrid, dan mobil listrik adalah sedikit di antaranya.
President Director PT Toyota Astra Motor (TAM) Hiroyuki Fukui mengakui, pihaknya memilih mengembangkan teknologi hybrid yang mengombinasikan mesin konvensional berbahan bakar bensin dengan tenaga yang bersumber dari baterai. Kedua sumber tenaga saling mengisi dengan perannya masing-masing.
”Pilihan lainnya adalah EV (electric vehicle alias mobil listrik). Tapi, EV butuh infrastruktur dan harus dipastikan ketersediaannya sehingga bisa mengisi baterai di mana saja,” kata Fukui.
Head of Services Department PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Riecky Patrayudha menerangkan, pabrikan mobil mengembangkan kapasitas mesin yang lebih kecil agar lebih irit. Pada kurun 70-an hingga 80-an, mobil-mobil ber-cc kecil lazim ditemui. Misalnya, Daihatsu Hijet 100, Mazda B600, Suzuki ST20 truntung, Suzuki Jimny, dan lainnya.
Selain hybrid, kini banyak mobil dengan cc kecil yang dipersenjatai teknologi force induction. Misalnya, Daihatsu Copen 660 cc dengan compact turbo intercooler atau Chevrolet Trax yang bermesin 1.400 cc, tetapi dilengkapi turbo charged.
”Kalau kejar efisiensi, memang mesin kecil. Kalau pakai turbo, ya bisa saja. Bukan teknologi mahal, tapi membutuhkan kekhususan. Oli harus khusus, durability pemakaian, dan sebagainya,” paparnya.
Pada dasarnya, turbo meningkatkan tenaga dari mesin dengan rasio yang sangat baik. ”Dengan melimpahnya tenaga yang ada, pengemudi tak perlu menginjak gas lama-lama sehingga akan menghasilkan konsumsi bahan bakar yg lebih irit,” ujar Andre, owner Traffic Motorsport.
Sayang, teknologi turbo menuntut kualitas bahan bakar yang baik. Karena itu, mobil-mobil turbo sangat digemari di Singapura. Di sisi lain, Indonesia masih memiliki kendala tersebut.
Sementara itu, Senior Vice President R&D and Engineering Faraday Future Nick Sampson menjelaskan, pengembangan otomotif menilai masa depan mobil adalah hybrid electric vehicle. Gabungan antara mesin konvensional dan mesin listrik.
BMW, misalnya. Pabrikan Jerman tersebut memamerkan BMW i8 yang mengusung mesin turbo 1.5L yang disandingkan dengan baterai lithium-ion 7.1 kWh. Pabrikan kuda jingkrak Italia alias Ferrari juga punya hybrid ganas, LaFerrari, yang menggendong mesin V12 6.3 L plus motor elektrik berdaya 120 kw. Konfigurasi itu mampu menghantarkan tenaga hingga 949 hp dengan kecepatan maksimal sekitar 350 km/jam. (gen/agf/c21/noe)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
