Pengunjung melihat mobil BYD Atto 1 pada pameran Gaikindo Jakarta Auto Week 2025 di Ice BSD, Tangerang, Banten, Jumat (21/11/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com-Perang harga mobil listrik di Indonesia membuat kendaraan listrik semakin terjangkau dan diminati. Namun di balik banderol yang terus ditekan, muncul kekhawatiran baru di kalangan konsumen: siapa yang menjamin layanan purnajual ketika margin produsen semakin menipis?
Fenomena banting harga Battery Electric Vehicle (BEV) dinilai memang menguntungkan konsumen dalam jangka pendek. Pilihan model bertambah dan selisih harga dengan mobil berbahan bakar bensin semakin kecil.
Tetapi sejumlah pengamat mengingatkan bahwa layanan purnajual, mulai dari ketersediaan suku cadang, kualitas servis, hingga dukungan baterai, bisa menjadi korban tersembunyi dari perang harga yang terlalu agresif.
Margin Tertekan, After-Sales Terancam
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai perang harga yang dibiarkan tanpa pengaturan berisiko menggerus fondasi layanan purnajual.
“Dengan harga yang ditekan sedemikian rendah, ruang produsen untuk berinvestasi di after-sales menjadi sangat terbatas. Padahal untuk kendaraan listrik, layanan purnajual itu krusial,” ujar Yannes dihubungi JawaPos.com.
Berbeda dengan mobil konvensional, kendaraan listrik sangat bergantung pada sistem baterai, perangkat lunak, dan komponen elektronik yang membutuhkan dukungan teknis jangka panjang. Tanpa jaringan servis yang memadai dan pasokan suku cadang yang terjamin, konsumen berpotensi menghadapi masalah serius setelah masa awal kepemilikan.
Risiko Nyata bagi Konsumen
Beberapa risiko yang dikhawatirkan muncul antara lain keterbatasan bengkel resmi, waktu tunggu suku cadang yang panjang, hingga ketidakjelasan pembaruan perangkat lunak.
Dalam kondisi ekstrem, produsen atau merek yang tidak memiliki rencana bisnis jangka panjang berisiko hengkang dari pasar, meninggalkan konsumen tanpa dukungan.
“Mobil bisa saja murah saat dibeli, tetapi biaya dan kerepotan setelahnya bisa jauh lebih mahal,” kata Yannes.
Kondisi ini menjadi semakin sensitif karena pasar mobil listrik Indonesia masih dalam tahap awal. Tingkat literasi konsumen terhadap aspek teknis EV, termasuk perawatan baterai dan sistem kelistrikan, dinilai belum merata.
Sikap Produsen: Tak Semua Mau Ikut Banting Harga
Sejumlah produsen menegaskan tidak ingin terjebak dalam perang harga yang dinilai tidak berkelanjutan. PT BYD Motor Indonesia, misalnya, menilai persaingan harga ekstrem justru berpotensi merugikan konsumen.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022