Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Oktober 2025 | 01.37 WIB

Inreyen Motor Baru Perlu Dilakukan Atau Sebatas Mitos

Pengunjung melihat motor Suzuki Access 125 dalam pameran Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (24/9/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Pengunjung melihat motor Suzuki Access 125 dalam pameran Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (24/9/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Ketika membeli motor baru biasanya muncul istilah inreyen atau melakukan adaptasi atau penyesuaian dari mesin dan komponen bergerak dengan kondisi mesin baru. Namun banyak pertanyaan apakah ini hanya mitos?

Sebenarnya inreyen adalah bahsa Belanda dengan ejaan huruf yang benar adalah inrijden yang artinya running-in. Istilah ini memang sudah tertanam lama dan pelafatannya juga versi Indonesia.

Inreyen sebenarnya perlu dilakukan pada setiap motor baru. Namun sayangnya, ritual ini mulai ditinggalkan karena dianggap kuno. Mitos ini bisa terbukti karena kesalahan prosedur inreyen.

Paling sering terdengar adalah anjuran tidak boleh menggeber motor baru. Ini memang ada benarnya namun berlaku di motor keluaran lama, karena komponen mesin dan piston belum terlalu presisi.

Seiring kemajuan teknologi, pabrikan sepeda motor semakin meningkatkan tingkat presisi mesin sehingga kinerjanya sudah mendekati sempurna ketika selesai diproduksi. Pemilik motor boleh langsung memacu motor baru, tapi tetap ada batasnya.

Usahakan tidak menahan posisi gigi dalam kecepatan tertentu cukup lama. Proses perpindahan gigi juga sebaiknya tidak mencapai putaran tinggi, namun tetap memiliki torsi ideal.

Kesalahan lainnya yaitu lupa memanaskan mesin saat motor baru datang dari diler ke rumah. Sebaiknya panaskan mesin terlebih dahulu dan tak butuh waktu lama tidak sampai 10 menit membiarkan mesin hidup dalam kondisi langsamnya.

Tanpa memanaskan mesin, proses inreyen tidak akan maksimal. Bahkan akan menyiksa komponen di dalamnya akibat tidak terlapisi pelumas dengan baik karena mesin belum dipanasi. Usahakan selama masa inreyen, setiap pagi atau setelah motor diparkir lebih dari 6 jam tetap dipanasi sekitar 3 menitan.

Memang, pabrikan sepeda motor menyatakan inreyen tidak wajib dilakukan. Alasannya, karena motor baru sudah mengalami proses pengujian yang ketat di pabrik. Setiap bagian komponen sudah dibuat sedemikian presisi dan minim friksi.

Dalam masa inreyen motor baru, komponen-komponen mesin motor sedang dalam masa penyesuaian dan masih saling muncul friksi dalam skala kecil. Masa inreyen sebaiknya tetap dilakukan sebagai bentuk antisipasi.

Sebab, setiap produk yang mereka hasilkan belum tentu durabilitasnya sama-sama awet untuk jangka panjang. Dengan inreyen ini, kita bisa mensirkulasikan oli secara merata dengan kondisi mesin belum bekerja keras.

Jika mesin dijalankan secara asal-asalan, maka komponen yang bergesekan di dalam mesin akan mengalami keausan yang lebih cepat. Tidak menutup kemungkinan, pemakaian yang sembarangan ini bisa menyebabkan kerusakan komponen.

Perlu diketahui, manfaat dari proses inreyen yaitu membuat kemampuan mesin motor awet untuk jangka panjang.

 
Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore