
Ilustrasi cara mengemudi sopir. (istockphoto.com)
JawaPos.com - Tidak banyak yang menyadari bahwa perilaku sopir di balik kemudi punya peran besar dalam menentukan seberapa boros atau hemat konsumsi bahan bakar. Dalam dunia transportasi, setiap gerakan pedal gas, rem mendadak, atau idle berlebihan bisa menggerogoti efisiensi BBM.
Maka tak heran jika pelatihan mengemudi efisien (eco-driving) kini menjadi investasi penting bagi banyak perusahaan logistik. Misalnya, kebiasaan menekan pedal gas terlalu dalam untuk akselerasi cepat dapat meningkatkan konsumsi BBM secara signifikan.
Sebaliknya, jika sopir menjaga kecepatan konstan dan menghindari akselerasi atau pengereman mendadak, konsumsi bahan bakar bisa ditekan hingga 10–15 persen. Angka ini sangat besar bila dikalikan jumlah kendaraan dan hari operasional dalam sebulan.
Dilansir dari cartrack.co.za, gaya mengemudi yang efisien bukan hanya menghemat bahan bakar, tetapi juga memperpanjang umur komponen kendaraan seperti rem, ban, dan transmisi. Sopir yang tahu cara mengatur beban, menghindari idle berlebihan, dan menggunakan gigi transmisi secara tepat, akan lebih jarang berurusan dengan biaya perbaikan mendadak.
Selain itu, pelatihan eco-driving juga melatih sopir untuk lebih memperhatikan kondisi jalan, cuaca, dan lalu lintas. Mereka diajarkan untuk membaca situasi lebih baik sehingga bisa menghindari kemacetan atau jalur yang padat. Semakin lancar perjalanan, semakin hemat pula bahan bakarnya.
Teknologi GPS dan perangkat telematika kini memungkinkan perusahaan memantau gaya mengemudi sopir secara real time. Data tentang kecepatan, idle time, akselerasi, dan pengereman bisa dianalisis untuk memberi umpan balik langsung pada pengemudi. Beberapa perusahaan bahkan memberikan insentif bagi sopir dengan skor eco-driving terbaik.
Perusahaan juga bisa memanfaatkan data ini untuk membuat program pelatihan berkelanjutan. Bukan hanya satu kali pelatihan awal, tetapi pembinaan berkala agar sopir tetap disiplin dan termotivasi menjaga efisiensi. Ini juga memperkuat budaya kerja yang peduli terhadap performa dan efisiensi di seluruh lini operasional.
Di sisi lain, sopir pun mendapat keuntungan langsung dari kebiasaan mengemudi efisien. Perjalanan jadi lebih nyaman, stres berkurang, dan risiko kecelakaan lebih kecil. Dalam jangka panjang, gaya mengemudi yang efisien bukan hanya menghemat uang, tapi juga menjaga keselamatan dan kesehatan kerja.
Dengan edukasi yang tepat dan pemanfaatan teknologi, perilaku sopir bisa diubah secara positif dan berdampak besar pada efisiensi bahan bakar. Ini membuktikan bahwa solusi penghematan tidak selalu butuh teknologi mahal, cukup dengan perubahan kebiasaan dan kesadaran dari manusia di balik setir. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
