
KSAU Marsekal M. Tonny Harjono saat memimpin ziarah ke TMP Kalibata dalam rangka peringatan HUT ke-80 TNI AU. (TNI AU)
JawaPos.com - Ketegangan di Timur Tengah masih terus terjadi. Dampak eskalasi global tersebut terasa sampai Indonesia. Suplai energi tersendat akibat perang yang masih berlangsung. Untuk memastikan pelaksanaan tugas latihan dan operasi tetap berjalan, TNI AU melakukan adaptasi. Namun, tanpa mengurangi jam terbang para penerbang.
Menurut Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal M. Tonny Harjono, dinamika yang terjadi saat ini memang kompleks. Dampaknya berpengaruh pada berbagai aspek. Termasuk diantaranya rantai pasok energi. Untuk itu, semua pihak dituntut beradaptasi dan melakukan efisiensi semaksimal mungkin. Angkatan Udara tidak terkecuali.
”Kondisi ini menuntut efisiensi dalam pengelolaan sumber daya tanpa mengurangi kesiapan operasional kita. Oleh karena itu, kita harus mampu beradaptasi agar TNI Angkatan Udara tetap relevan dan tetap ampuh,” kata dia saat menyampaikan amanat dalam Upacara Peringatan HUT ke-80 TNI AU di Jakarta pada Kamis (9/4).
Tonny menyampaikan bahwa TNI AU sangat memahami situasi global saat ini. Perang yang berkecamuk di Timur Tengah menyebabkan fluktuasi harga minyak yang cenderung menunjukkan grafik kenaikan. Dia menyatakan, kondisi itu berdampak secara langsung kepada Angkatan Udara. Sehingga mau tidak mau TNI AU harus berhemat.
”Angkatan Udara memang secara langsung terdampak karena bahan bakar pun harus kami hemat,” ujarnya.
Beberapa langkah sudah dilakukan oleh TNI AU. Misalnya pelaksanaan patroli dalam operasi dikombinasikan dengan latihan. Angkatan Udara juga mengupayakan optimalisasi jam terbang untuk seluruh penerbang. Itu dilakukan semata-mata untuk beradaptasi dengan situasi global. Sehingga dengan keterbatasan saat ini, pelaksanaan tugas operasi dan latihan tetap berjalan.
”Tadi saya sampaikan bahwa dalam satu exercise, kami bisa sekali terbang melaksanakan 2-3 exercise. Sambil misalnya latihan formasi atau latihan penembakan, tapi digabung juga dengan low level misalnya untuk proficiency,” ucap Tonny.
Meski demikian, TNI AU menjamin tidak ada pengurangan jam terbang. Mereka hanya berusaha mengurangi penggunaan bahan bakar dengan menggabungkan beberapa latihan yang biasanya dilakukan terpisah. Dengan begitu, kemampuan para penerbang dan awak pesawat Angkatan Udara tetap terjaga meski pola latihan berubah.
”Kami tidak menurunkan kualitas safety dan kualitas profesionalisme penerbang kami. Itu yang menjadi fokus kami. Jadi, memang benar, jam terbang tidak kami kurangi, sama sekali tidak dikurangi. Hanya pemanfaatan fuel yang kami kurangi dan beberapa metode latihan yang kami jadikan satu,” imbuhnya.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
