Mengenai truk yang mengalami kecelakaan, kemarin terjadi di ruas Tol Cipularang, dari Bandung arah Jakarta di KM 92. Truk melibas puluhan kendaraan lain di depannya saat sedang berhenti karena lalu lintas tersendat.
Dalam video viral yang beredar di media sosial, terlihat bahwa truk melaju dengan kecepatan tinggi di lajur kanan. Padahal area tersebut dikenal memiliki turunan panjang dan berkelok.
Yang bikin geleng-geleng kepala adalah polisi menemukan bahwa truk dalam posisi gigi tinggi setelah dilakukan olah TKP. Ditemukan bahwa truk dalam posisi gigi empat dari yang seharusnya berada di gigi rendah karena jalur menurun dan dalam posisi membawa muatan berat.
Jadilah truk tidak bisa mengerem. Kalaupun ada kesempatan mengerem, pakar keselamatan berkendara menilai bahwa pengereman truk tidak akan optimal.
Memang diketahui, kendaraan besar seperti truk ini punya beberapa mekanisme pengereman. Jadi nggak cuma satu saja.
"Di truk itu ada beberapa rem (tergantung jenis dan merknya) yangbberfungsi untuk menahan lajunya terutama di jalan menurun. Kalau mengandalkan rem kaki atau service brake pastinya bisa membuat oli rem panas dan menyebabkan blong. Jadi bisa memaksimalkan engine brake, exhaust brake atau gigi crawling," jelas Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana dihubungi JawaPos.com, Selasa (12/11).
Pada jenis kendaraan berat seperti truk, terdapat beberapa jenis mekanisme pengereman. Pertama, rem udara atau exhaust brake, merupakan sistem yang umum digunakan untuk truk dan bus besar.
Saat Anda mengaktifkan pedal, aliran udara dikompresi oleh filter udara. Kemudian, udara tersebut dialirkan ke reservoir menuju katup unloader. Ia mencapai ruang tepi yang akhirnya memberikan tekanan pada mekanik dan memperlambat roda.
Kemudian ada juga rem hidrolik, populer karena sangat andal untuk memperlambat truk Anda dengan aman. Rem ini juga sangat praktis.
Tekanan hidrolik berarti bahwa rem menggunakan cairan untuk memberikan gaya pengereman. Rem hidrolik bekerja berdasarkan Hukum Pascal dalam fisika. Pada dasarnya, tekanan di dalam area yang terisolasi dapat didistribusikan ke berbagai arah.
Dengan kata lain, jumlah cairan yang relatif kecil dapat memberikan gaya yang besar sehingga menyebabkan truk Anda berhenti dengan cepat.
Kemudian ada juga rem transmisi menggunakan transmisi truk, bukan memberikan tekanan langsung pada roda. Rem ini juga disebut rem trans.
Rem trans populer bagi pengemudi truk dan manajer armada yang ingin akselerasi yang lebih tinggi. Jika awak memacu truk hingga RPM penuh, misalnya, untuk berpindah dari jalan masuk, ini mungkin merupakan jenis rem yang baik untuk dipertimbangkan.
Kemudian pada beberapa truk modern ada juga brake retarder menggunakan mekanisme elektromagnetik. Fungsi retarder adalah sebagai alat bantu pengereman.
Jadi ketika truk melewati turunan panjang, pengemudi tidak perlu menginjak lama pedal rem dan bisa memakai retarder untuk mengurangi kecepatan kendaraan. Hal ini bisa mencegah truk mengalami rem blong.