
Ilustrasi: Throttle by Wire pada sepeda motor. (Custom Elements)
JawaPos.com - Jika diperhatikan dengan seksama, kebanyakan sepeda motor saat ini, selain sudah tidak lagi menggunakan karburator sebagai metode pembakaran utamanya, juga tidak lagi menggunakan kabel gas untuk kontrol akselerasinya. Rata-rata atau mayoritas sudah demikian, membawa teknologi yang sebelumnya ada pada mobil.
Sebagai pengganti kabel gas, sepeda motor saat ini menggunakan Throttle by Wire (TBW) atau Ride by Wire. Komponen apa? Mari kita bedah.
Dimulai dari bahasan dasar mengenai cara kerja pembakarannya, pada sepeda motor konvensional, jumlah udara yang akan dialirkan ke ruang bakar ditentukan secara tepat oleh seberapa banyak Anda memutar gasnya.
Kabel fisik, yang terhubung ke gas akselerator di satu ujung dan katup kupu-kupu intake di ujung lainnya, mengendalikan jumlah udara yang dialirkan ke ruang bakar. Nah, sering kali, putaran pergelangan tangan yang tiba-tiba oleh pengendara, pada gigi yang lebih tinggi dan kecepatan mesin yang rendah, memasukkan terlalu banyak udara ke area pembakaran.
Hal tersebut menyebabkan pembakaran bahan bakar yang tidak tepat, dan terkadang bahkan mesin mati. Seluruh hubungan ini, pada sepeda motor konvensional, murni mekanis dan tanpa ada otak elektronik yang menghitung berapa banyak udara yang harus dialirkan ke mesin berdasarkan rpm, gigi yang diaktifkan, beban, atau kecepatan roda.
Seiring perkembangan, TBW atau Ride by Wire ini kemudian hadir membuang kabel mekanis yang menghubungkan gas akselerator dengan katup kupu-kupu, menggantinya dengan sensor posisi gas dan kabel listrik yang mengirimkan sinyal ke ECU (Engine Control Unit).
Seperti yang Anda bayangkan, kawat di sini adalah kabel listrik, menggantikan kabel sling konvensional. Namun bedanya, sistem TBW menghilangkan hubungan mekanis antara badan katup gas dan akselerator tangan.
Meskipun pada akhirnya pengendaralah yang memberikan masukan katup gas, sistem ini menggunakan sensor termasuk ECU dan aktuator untuk memiliki kontrol yang lebih akurat pada pasokan udara-bahan bakar.
Dilansir dari laman TVS Motor, sensor di dekat akselerator terus-menerus membaca gerakan melingkar katup gas tangan dan terus-menerus mengirimkan informasi tersebut ke ECU. Komponen ECU, pada bagiannya, terus-menerus memantau kecepatan mesin, gigi yang diaktifkan, kecepatan roda, oksigen atau bahan bakar yang tidak terbakar dalam sistem pembuangan dan parameter penting lainnya untuk memastikan bahwa campuran udara-bahan bakar yang dimasukkan ke dalam ruang bakar selalu optimal.
Semua analisis ini terjadi secara real time, pada kecepatan yang sangat cepat, yang memungkinkan sistem untuk langsung menyesuaikan posisi katup kupu-kupu untuk pembakaran yang paling optimal.
Sebagai teknologi terbaru, sistem ini cerdas dan dilengkapi untuk mengesampingkan masukan katup gas jika tidak sejalan dengan apa yang ideal untuk kejadian spesifik tersebut. Misalnya, jika pengendara membuka pedal gas terlalu banyak pada gigi tinggi, pada kecepatan rendah, sistem dapat meningkatkan pembukaan katup kupu-kupu pada kecepatan yang lebih lambat agar sistem injeksi dapat mengejar ketinggalannya.
Dalam beberapa kasus, sistem bahkan dapat mengurangi pembukaan katup daripada meningkatkannya, bahkan ketika pedal gas dibuka lebar-lebar. Kontrol yang sangat teliti atas pasokan udara dan bahan bakar ini membekali sistem untuk memberikan perpaduan terbaik antara performa dan efisiensi bahan bakar serta emisi terendah.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
