
Ilustrasi serangan siber kian ganas menunggangi tren teknologi AI. (Training Camp)
JawaPos.com - Aplikasi mobile kini menjadi tulang punggung berbagai model bisnis digital, mulai dari layanan keuangan, perdagangan daring, transportasi, hingga platform berbasis langganan. Namun di balik perannya yang krusial, aplikasi mobile juga semakin rentan menjadi sasaran utama kejahatan siber yang kian kompleks dan otomatis.
Memasuki 2026, lanskap ancaman diprediksi akan didominasi oleh sepuluh jenis serangan yang langsung beroperasi di perangkat pengguna. Berbeda dari pola lama yang menargetkan infrastruktur server, serangan ini memanfaatkan celah di sisi klien aplikasi, area yang kerap luput dari pengawasan sistem keamanan backend.
Salah satu risiko terbesar datang dari serangan bot otomatis. Bot mampu melakukan pembuatan akun palsu, transaksi semu, hingga eksploitasi promo dalam skala besar. Praktik ini tidak hanya menggerus pendapatan, tetapi juga menurunkan kualitas layanan dan kepercayaan pengguna.
Ancaman serius lainnya adalah pengambilalihan akun (account takeover) serta credential stuffing. Dengan memanfaatkan data login yang telah bocor, pelaku dapat menguasai akun pengguna secara ilegal, melakukan transaksi tanpa izin, memicu keluhan pelanggan, dan mencoreng reputasi perusahaan.
Selain itu, teknik overlay dan screen injection menunjukkan bagaimana tampilan aplikasi dapat dimanipulasi untuk mencuri informasi sensitif langsung dari layar perangkat. Di sisi lain, penyalahgunaan API membuka peluang transaksi ilegal melalui jalur komunikasi aplikasi yang tampak normal dan sah.
Kerentanan autentikasi juga terekspos lewat praktik session hijacking dan device spoofing, yang menegaskan bahwa identitas saja tidak lagi cukup sebagai benteng keamanan. Ancaman makin meluas dengan hadirnya malware mobile serta eksploitasi layanan aksesibilitas yang memungkinkan pelaku mengendalikan perangkat tanpa sepengetahuan pengguna.
Serangan juga berlanjut melalui modifikasi aplikasi (tampering dan app repackaging), serta man-in-the-middle attack yang masih sering terjadi, terutama di jaringan publik. Pemanfaatan kecerdasan buatan semakin mempercepat skala kejahatan lewat AI-assisted fraud dan teknik rekayasa sosial yang lebih personal dan sulit dikenali.
Menurut Jan Sysmans, Mobile App Security Evangelist Appdome, dunia bisnis digital kini menghadapi persoalan struktural dalam merespons ancaman-ancaman tersebut.
“Kecepatan dan otomatisasi serangan mobile telah melampaui kemampuan proses keamanan manual yang masih banyak digunakan organisasi,” kata Jan dalam keterangannya.
Ia menekankan bahwa keamanan aplikasi mobile tidak lagi bisa dipandang sebagai pelengkap.
“Keamanan harus menjadi bagian dari operasional bisnis. Pertahanan perlu tertanam langsung di aplikasi agar ancaman bisa dipantau dan dihentikan secara real-time,” ujarnya.
Dengan menerapkan arsitektur pertahanan yang terintegrasi sejak di tingkat aplikasi, bisnis dinilai dapat melindungi pendapatan, menjaga kualitas pengalaman pengguna, serta mempertahankan reputasi merek di tengah meningkatnya ancaman siber di ekosistem mobile. (*)

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
