Wamenkomdigi, Nezar Patria. (Dok. Komdigi)
JawaPos.com - Teknologi yang semakin maju membuat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin canggih. Kini, AI mampu menciptakan konten audio-visual secara realistis dan sulit dibedakan dari kenyataan.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menjelaskan bahwa Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sedang merancang kurikulum literasi digital baru yang menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Tujuannya, agar masyarakat lebih memahami cara kerja algoritma media sosial serta mampu mengenali konten hoaks yang dihasilkan oleh AI.
"Dengan cara lama sudah tidak efektif lagi karena teknologinya sudah berubah sehingga dibutuhkan pendekatan yang baru," kata Nezar di Jakarta, dikutip Kamis (6/11).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Kementerian Komdigi akan terus berkolaborasi dengan Polri, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), serta Badan Intelijen Negara (BIN) untuk memperkuat upaya penanganan penyebaran konten negatif, terutama yang berpotensi menimbulkan perpecahan di masyarakat.
Di sisi lain, dirinya juga menyoroti bahwa platform media sosial kini semakin gencar berupaya menjaga pengguna tetap aktif di dalam ekosistemnya. Salah satu caranya adalah dengan menampilkan konten yang disesuaikan dengan minat dan preferensi pengguna melalui algoritma yang memantau perilaku interaksi mereka terhadap berbagai jenis konten.
Dia menilai, pola ini membuat pengguna hanya terekspos pada informasi yang sejalan dengan pandangan mereka sendiri, sehingga memunculkan fenomena echo chamber atau bilik gema. "Jadi, setiap orang di dalam algoritma, media sosial sebetulnya hidup dalam bilik gemanya masing-masing karena dia akan mendapatkan informasi yang sejalan dan sesuai dengan apa yang dia mau," jelas dia.
Menurutnya, echo chamber tersebut dapat memicu fenomena lain, yakni post-truth dan hyperreality, di mana pengguna media sosial mulai lebih mempercayai informasi yang memicu emosi atau sentimen tertentu dibandingkan fakta sebenarnya.
"Karena sentimen lebih tinggi pengaruhnya, ketimbang fakta maka kebenaran itu menjadi tidak penting lagi. Jadi, media sosial membentuk persepsi. Di situ yang salah bisa jadi benar, yang benar bisa jadi salah," tandasnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
