
Malware di perangkat Android. (WeLiveSecurity)
JawaPos.com - Serangan siber terhadap ponsel Android terus meningkat tajam sepanjang 2025. Data terbaru Kaspersky menunjukkan, jumlah serangan pada paruh pertama tahun ini melonjak 29 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, bahkan 48 persen lebih banyak dibanding akhir 2024.
Lonjakan tersebut menandakan bahwa para pelaku kejahatan siber semakin agresif memanfaatkan ponsel pintar sebagai pintu masuk untuk mencuri data maupun uang pengguna.
Ancaman yang beredar pun semakin beragam. Malware populer seperti SparkCat, SparkKitty, dan Triada masih mendominasi, namun tren baru menunjukkan munculnya aplikasi palsu dengan kemampuan berbahaya.
Beberapa aplikasi yang diklaim sebagai VPN ternyata justru menyadap kode verifikasi sekali pakai dari pesan teks maupun media sosial, lalu mengirimkannya ke penyerang melalui bot Telegram. Bahkan, ada pula aplikasi dengan konten dewasa yang diam-diam memiliki fungsi untuk meluncurkan serangan DDoS.
Aplikasi penipuan bertema uang cepat juga marak ditemukan. Fakemoney, misalnya, menipu pengguna dengan iming-iming hadiah atau keuntungan instan, tetapi justru mencuri data pribadi dan dana mereka.
Sementara itu, trojan bawaan seperti Triada dan Dwphon lebih berbahaya karena sudah tertanam di firmware sejak proses produksi, sehingga tetap aktif meski ponsel direset ke pengaturan pabrik.
Tak ketinggalan, trojan mobile banking tercatat melonjak hampir empat kali lipat dibanding paruh pertama 2024, menunjukkan meningkatnya ancaman pencurian data finansial secara langsung.
Kaspersky juga menyoroti pola serangan di sejumlah negara. Di Turki, trojan Coper menyamar sebagai aplikasi resmi untuk mencuri data perbankan.
Di India, dropper malware berkedok aplikasi hadiah menyebar luas, sementara di Uzbekistan aplikasi pencarian kerja palsu digunakan untuk mengumpulkan data pribadi.
Brasil pun tak luput, dengan munculnya trojan dropper Pylcasa yang lolos ke Google Play dan menyamar sebagai kalkulator sederhana, sebelum akhirnya mengarahkan korban ke situs phishing dan kasino ilegal.
Fenomena ini mengingatkan bahwa toko aplikasi resmi sekalipun tidak sepenuhnya aman. Menurut Anton Kivva, analis malware Kaspersky, verifikasi pengembang yang dilakukan Google dan Apple memang langkah penting, tetapi bukan jaminan mutlak.
"Penyerang selalu menemukan cara untuk mengelabui sistem keamanan," kata dia melalui laporan terbarunya.
Karena itu, pengguna disarankan untuk lebih selektif dalam memasang aplikasi, rajin memperbarui sistem operasi, serta menggunakan perangkat lunak keamanan tambahan agar tetap terlindungi dari ancaman yang terus berevolusi.

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
