Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Mei 2025 | 02.15 WIB

Fiber Optik: Tulang Punggung Konektivitas Digital Masa Depan Indonesia

Diskusi terkait peran serat optik di Indonesia dalam mendorong transformasi digital. (Rian Alfianto/JawaPos.com) - Image

Diskusi terkait peran serat optik di Indonesia dalam mendorong transformasi digital. (Rian Alfianto/JawaPos.com)

JawaPos.com - Indonesia tengah memasuki fase krusial dalam upaya mewujudkan visi transformasi digital nasional. Dengan populasi lebih dari 279 juta jiwa dan tingkat penetrasi internet yang telah mencapai 74,6 persen pada Januari 2025, kebutuhan akan infrastruktur digital yang andal, cepat, dan aman menjadi sangat mendesak.

Lonjakan permintaan terhadap layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), distribusi konten digital, dan konektivitas 5G, juga kian mendorong pentingnya infrastruktur dasar yaitu serat optik. Teknologi tersebut diyakini terbukti memiliki kapasitas besar, kecepatan tinggi, serta latensi rendah, menjadikannya tulang punggung konektivitas digital masa depan.

Dalam diskusi yang digelar di Jakarta, Rabu (7/5), sejumlah pelaku industri dan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) membahas peran strategis fiber optik untuk mendukung transformasi digital di Indonesia. Kegiatan tersebut membahas tantangan di lapangan serta memperkenalkan pendekatan teknologi terkini dalam manajemen jaringan serat optik.

Direktur Strategi & Kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Denny Setiawan mengungkapkan, sistem infrastruktur digital kita membutuhkan arsitektur yang menyeluruh. Mulai dari, data center sebagai pusat kehidupan digital dan konten, jalur backbone, dan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang menghubungkan wilayah dan dunia internasional.

"Selain itu, ada pula jalur PLN/jalan/rel sebagai arteri rute penetrasi, serta jaringan FO yang menyentuh langsung rumah dan titik layanan publik," ujarnya di diskusi tersebut.

Berdasarkan laporan Telecom Review Asia, pasar infrastruktur jaringan serat optik di Asia Pacific diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sebesar 15,9 persen hingga 2028. Tren ini, menandai tingginya urgensi dan potensi besar investasi di sektor ini. "Kolaborasi lintas pemangku kepentingan adalah kunci. Kami percaya inisiatif ini akan membantu industri lebih siap mendukung target digitalisasi nasional yang dicanangkan pemerintah," ujar Teguh Prasetya, Direktur Utama Alita Praya Mitra dalam kesempatan yang sama.

Sejak tahun 2020, Alita telah mengimplementasikan sistem Optical Network Management System integrated (ONMSi) sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan keandalan pengelolaan infrastruktur serat optik. Hasil implementasi tersebut diklaim menunjukkan dampak signifikan dalam peningkatan kinerja operasional.

Misalnya, mengurangi potensi denda layanan hingga 98 persen berkat deteksi dini dan penanganan gangguan yang lebih cepat. Efisiensi perawatan preventif juga bisa dikejar hingga mencapai 22 persen, melalui pemantauan jaringan secara proaktif dan berbasis data real-time.

Paling penting, efisiensi perawatan korektif hingga 56 persen, dengan sistem pelaporan otomatis yang mempersingkat waktu identifikasi dan perbaikan gangguan. "Langkah ini memperkuat posisi Alita sebagai penyedia infrastruktur digital yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tuntutan industri telekomunikasi modern," Teguh melanjutkan.

Vice President, Sales VIAVI, Rajesh Rao mengungkapkan dalam di acara tersebut menyatakan, pihaknya mendukung transformasi digital Indonesia melalui solusi pengujian dan penjaminan kualitas yang terpercaya, yang memungkinkan penggelaran jaringan fiber berperforma tinggi.

"Kami memberdayakan penyedia layanan dan penyedia dark fiber untuk mempercepat konektivitas, memastikan keandalan jaringan, dan mewujudkan visi Indonesia sebagai negara digital yang maju," katanya.

Namun, urgensi membangun ekosistem digital yang menyeluruh, termasuk membangun jaringan serat optik tak lepas dari beberapa tantangan yang masih kerap dihadapi. Ketua Umum Apjatel, Jerry Siregar mengungkapkan, pembangunan serat optik masih kerap terhadang harmonisasi regulasi telekomunikasi di Indonesia.

Menurutnya, Rencana Tata Ruang Wilayah kerap tidak terinformasi kepada pemilik jaringan utilitas. Sehingga, menyebabkan penataan jaringan yang sulit terkendali. Kini, penataan jaringan yang lebih memperhatikan estetika dan keamanan kota, mulai diterapkan.

"Kami mendukung transformasi digital dan mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan implementasi penataan fiber optic yang lebih baik dan terstandarisasi," ujar Jerry. Berbagai rencana strategis pembangunan pun kini dilakukan untuk meminimalkan kerusakan jaringan yang telah tertata.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore