Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Juli 2023 | 15.17 WIB

Ilmuwan Meta Sebut AI Tak Lebih Pandai dari Pada Anjing, Kok Bisa?

Ilustrasi: Ilmuwan . (CU Management).

 
JawaPos.com - AI atau Artificial Intelligence telah menjadi topik diskusi selama bertahun-tahun, dan perkembangannya sangat pesat. Namun, menurut Yann LeCun, kepala ilmuwan di perusahaan induk Facebook, Meta, menyebutkan kalau kehebatan AI bahkan belum secerdas hewan anjing.
 
Hal itu disampaikannya dalam acara Viva Tech di Paris, Perancis belum lama ini. Dia mengklaim bahwa tingkat kecerdasan AI saat ini tidak sebaik anjing dan karenanya tidak boleh dianggap sebagai ancaman bagi umat manusia. 
 
"Sistem itu (AI) masih sangat terbatas, mereka tidak memiliki pemahaman tentang realitas yang mendasari dunia nyata, karena mereka murni terlatih dalam teks, teks dalam jumlah besar," kata LeCun.
 
 
Pernyataan ini mungkin mengejutkan banyak orang, mengingat kemajuan teknologi AI. Terlebih saat ini, popularitas AI tengah naik daun berkat ChatGPT, chatbot yang didukung teknologi AI generatif.
 
Buat yang belum tahu, AI sendiri mengacu pada kemampuan mesin untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia. Tugas-tugas ini termasuk belajar, penalaran, dan pemecahan masalah.
 
Sistem AI dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori yakni AI sempit atau lemah dan AI umum atau kuat. AI sempit dirancang untuk melakukan tugas tertentu, sedangkan AI umum dirancang untuk melakukan tugas intelektual apa pun yang dapat dilakukan manusia.
 
Mengapa kecerdasan AI tidak setinggi anjing?
 
Terlepas dari kemajuan kecerdasan AI, AI belum sepintar anjing, mengapa LeCun membuat pernyataan ini? Menurut LeCun, sistem AI perlu dibuat sebagai “sistem yang dapat dikontrol dan dilatih”. 
 
Artinya, sistem AI perlu dirancang untuk belajar dari lingkungannya dan beradaptasi dengan situasi baru. Anjing, di sisi lain, dilahirkan dengan kemampuan untuk belajar dari lingkungannya dan beradaptasi dengan situasi baru. Mereka juga dapat memahami emosi manusia dan menanggapinya dengan sesuai.
 
Dilansir via ITHome, alasan lain mengapa AI tidak sepandai anjing adalah karena sistem AI tidak memiliki akal sehat. Akal sehat adalah kemampuan untuk memahami dunia di sekitar kita dan membuat keputusan berdasarkan pemahaman itu. 
 
Sistem AI, di sisi lain, tidak memiliki kemampuan ini. Mereka hanya dapat membuat keputusan berdasarkan data yang telah mereka latih. Ini berarti bahwa sistem AI dapat membuat kesalahan saat menghadapi situasi baru yang belum pernah mereka latih.
 
Apa yang perlu dilakukan untuk menjembatani kesenjangan tersebut?
Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, sistem AI perlu dirancang untuk belajar dari lingkungannya dan beradaptasi dengan situasi baru.
 
Artinya, sistem AI perlu dibuat sebagai “sistem yang dapat dikontrol dan dilatih”. Sistem AI juga perlu dirancang untuk memahami emosi manusia dan meresponsnya dengan sesuai. Ini akan membutuhkan sistem AI untuk dilatih pada data yang mencakup isyarat emosional.
 
Cara lain untuk menjembatani kesenjangan tersebut adalah dengan mengembangkan sistem AI yang memiliki akal sehat. Ini akan membutuhkan sistem AI untuk dilatih pada data yang mencakup informasi tentang dunia di sekitar kita. Sistem AI juga perlu dirancang untuk memahami konteks situasi dan membuat keputusan berdasarkan pemahaman tersebut.
 
 
 
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore