Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Juli 2023 | 04.51 WIB

Ditjen Imigrasi Dibobol Bjorka, Data Pakar Kamsiber Pratama Persadha Ikutan Kena

ILUSTRASI Peretasan data nasabah perbankan. - Image

ILUSTRASI Peretasan data nasabah perbankan.

JawaPos.com - Hacker Bjorka kembali menggemparkan ruang siber Indonesia dengan melakukan pencurian hampir 35 juta data pribadi yang diklaim bersumber dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).
 
Setelah pada bulan Juni lalu hacker Bjorka juga sudah membobol dan membagikan 35 juta data yang berasal dari database Telkom Indonesia untuk aplikasi Myindihome, kasus baru yang melibatkan Ditjen Imigrasi ini turut bikin geger publik.
 
Pakar Keamanan Diber (Kamsiber) Pratama Persadha mengungkapkan kalau dugaan data bocor milik Ditjen Imigrasi ini valid. Bahkan, kasus kebocoran data yang kabarnya merupakan data paspor ini turut menimpa dirinya.
 
 
"Data yang dibagikan sebagai data sample tersebut adalah data yang valid karena di salah satu baris data di file sample yang dibagikan tersebut juga ada data paspor lama saya yang sudah kedaluwarsa pada tahun 2011. Untuk saat ini tidak dapat diketahui dengan pasti apakah data yang dibagikan tersebut memang berasal dari server Ditjen Imigrasi atau Bjorka mengambil data tersebut dari data kebocoran lainnya," jelas Pratama saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (6/7).
 
Sebagai informasi, hacker Bjorka memberikan informasi kebocoran data serta membagikan sample data dari database yang berhasil di retasnya di laman blognya. Seperti ditulis di laman blognya, hacker Bjorka sudah seringkali menggegerkan dunia keamanan siber Indonesia dengan melakukan pencurian data dari berbagai sumber seperti 26 juta data history browsing pelanggan Indihome, 1,3 miliar data registrasi SIM Card dan beberapa kasus lainnya.
 
Data pribadi yang berhasil didapatkan oleh hacker Bjorka kali ini adalah data paspor yang berisikan data pribadi berupa nama, jenis kelamin, tanggal lahir, nomor paspor serta tanggal kedaluwarsa paspor. Hacker Bjorka juga membagikan satu juta data contoh dari 34 juta data yang berhasil diperoleh nya. 
 
"Kebocoran data ini tentu saja sangat berbahaya bagi masyarakat yang datanya termasuk dalam data yang didapatkan oleh Bjorka tersebut, karena data pribadi yang ada tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang lain untuk melakukan tindak kejahatan seperti penipuan, baik penipuan secara langsung kepada orang yang datanya bocor tersebut, maupun penipuan lain dengan mengatasnamakan atau menggunakan data pribadi orang lain yg bocor tersebut," lanjut Chairman CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) ini.
 
Yang lebih berbahaya lagi jika data pribadi tersebut dipergunakan untuk membuat identitas palsu yang kemudian dipergunakan untuk melakukan tindakan terorisme, sehingga pihak serta keluarga yang data pribadinya dipergunakan akan mendapat tuduhan sebagai teroris atau kelompok pendukungnya.
 
 
Kebocoran data yang terjadi juga dapat merugikan pemerintah, karena sumber kebocoran di klaim berasal dari Ditjen Imigrasi yang merupakan salah satu lembaga pemerintahan, sehingga pihak lain akan  menyimpulkan bahwa faktor keamanan siber sektor pemerintahan adalah cukup rendah. 
 
"Hal ini tentu saja akan mencoreng nama baik pemerintah baik dimata masyarakat Indonesia maupun di mata dunia internasional, karena pemerintah tidak sanggup melakukan pengamanan siber untuk institusi nya, padahal banyak pihak yang memiliki kompetensi tinggi seperti BSSN, BIN serta Kominfo," pungkas Pratama.
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore