
Ilham Safutra. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Hujan sehari hilang panas setahun
Pepatah itu sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Sudah diajarkan sejak di bangku sekolah dasar (SD). Setiap musim kemarau tiba dan berlangsung panjang, lalu memicu kekeringan, orang-orang menantikan musim hujan. Kala hujan itu turun, panas yang terik berhari-hari dan berbulan-bulan terasa sirna sekejap.
Sepertinya lupa panas yang berkepanjang nan hampir setahun ini. Hujan yang mengguyur pun "dirayakan" dengan berbagai macam cara. Baik berdoa, menampung airnya, mengalirkan hujan ke kolam-kolam yang sudah kering, dan bahkan disiramkan pada tanaman yang kering kerontang.
Nah, bagaimana dengan cuaca panas ekstrem belakangan ini? Emang rasanya tidak sampai setahun mungkin. Hanya saja, beda saja rasa hujan yang dialami penduduk tanah air. Bagi penduduk di Pulau Kalimantan dan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), panas yang mereka rasakan tidak sekadar dari teriknya matahari, tetapi dari api-api yang membakar hutan dan lahan. Hutan-hutan itu dikenal sebagai paru-paru dunia. Sumber oksigen di bumi ini.
Sejak beberapa bulan terakhir panas di sana "disambut" dengan api sehingga membakar hutan dan lahan.
Peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang akrab disebut karhutla itu ramai dipercakapkan di media sosial. Diduga karena ulah tangan-tangan ajaib untuk menjadikannya sebagai lahan sawit.
Baca Juga:Karhutla Picu 3.560 Kematian pada September 2026, Total Korban Polusi Udara Tembus 5.310 Jiwa
Karhutla ini tidak hanya menghanguskan ribuan hektare lahan, juga "mengusir" satwa-satwa langka yang endemik mereka di Pulau Kalimantan dan Sumsel. Tidak jarang kita lihat orang utan terpaksa mengungsi ke rumah penduduk atau mencari permukiman baru untuk menjauh dari paparan asap.
Namun, sejauh apa pun fauna itu bermigrasi mencari tempat perlindungan, asap lebih cepat memapari pernapasan mereka. Di Kalimantan fauna yang menjadi korban tidak hanya orang utan, ada juga bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir. Mereka pergi mencari sumber udara yang dihirup untuk bertahan hidup, mencari air agar bisa melepas dahaga.
Terdampaknya satwa langka ini membuat para relawan pemadaman api berjibaku mengevakuasinya ke tempat lebih aman. Akan tetapi upaya relawan atau petugas penyelamat tidak secepat api yang membakar lahan. Tidak sesigap asap yang menyergap hidung-hidung makhluk hidup di areal kebakaran.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
5 Pekerjaan Terbaik untuk Introvert, Pilihan Karir yang Sesuai dengan Kelebihan Diri
KPK: Kerugian Negara dalam Kasus Bea Cukai yang Terkait PT Djarum Capai Triliunan
Perkuat Kerja Sama Intelijen Hadapi Ancaman Terorisme, Indonesia Pimpin CTIF Council
KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sejumlah Uang Tunai Diamankan
Bill Gates Puji AI Meta Milik Zuckerberg, Muse Dinilai Mampu Mengubah Cara Orang Bekerja
Fitrah Maulana Syukuri Debut dan Cleansheet di ACL Two Bersama Persib Bandung
Prediksi Skor Dewa United vs Persija di Super League: Macan Kemayoran Amankan Poin Penting di Banten
Prediksi Skor Elversberg vs Mainz 05: Tim Tamu Incar Kemenangan usai Tersingkir dari DFB Pokal
OM WAWES, Guyon Waton, hingga MASDDDHO Putuskan Batal Tampil di RANS Carnival Maguwoharjo

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022