Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Ilham Safutra
Kamis, 29 Oktober 2026 | 23.59 WIB

Hujan Sehari Akankah Padamkan Karhutla?

Ilham Safutra. (Dery Ridwansah/JawaPos.com) - Image

Ilham Safutra. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Hujan sehari hilang panas setahun

Pepatah itu sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Sudah diajarkan sejak di bangku sekolah dasar (SD). Setiap musim kemarau tiba dan berlangsung panjang, lalu memicu kekeringan, orang-orang menantikan musim hujan. Kala hujan itu turun, panas yang terik berhari-hari dan berbulan-bulan terasa sirna sekejap.

Sepertinya lupa panas yang berkepanjang nan hampir setahun ini. Hujan yang mengguyur pun "dirayakan" dengan berbagai macam cara. Baik berdoa, menampung airnya, mengalirkan hujan ke kolam-kolam yang sudah kering, dan bahkan disiramkan pada tanaman yang kering kerontang.

Nah, bagaimana dengan cuaca panas ekstrem belakangan ini? Emang rasanya tidak sampai setahun mungkin. Hanya saja, beda saja rasa hujan yang dialami penduduk tanah air. Bagi penduduk di Pulau Kalimantan dan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), panas yang mereka rasakan tidak sekadar dari teriknya matahari, tetapi dari api-api yang membakar hutan dan lahan. Hutan-hutan itu dikenal sebagai paru-paru dunia. Sumber oksigen di bumi ini.

Sejak beberapa bulan terakhir panas di sana "disambut" dengan api sehingga membakar hutan dan lahan.

Peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang akrab disebut karhutla itu ramai dipercakapkan di media sosial. Diduga karena ulah tangan-tangan ajaib untuk menjadikannya sebagai lahan sawit.

Karhutla ini tidak hanya menghanguskan ribuan hektare lahan, juga "mengusir" satwa-satwa langka yang endemik mereka di Pulau Kalimantan dan Sumsel. Tidak jarang kita lihat orang utan terpaksa mengungsi ke rumah penduduk atau mencari permukiman baru untuk menjauh dari paparan asap.

Namun, sejauh apa pun fauna itu bermigrasi mencari tempat perlindungan, asap lebih cepat memapari pernapasan mereka. Di Kalimantan fauna yang menjadi korban tidak hanya orang utan, ada juga bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir. Mereka pergi mencari sumber udara yang dihirup untuk bertahan hidup, mencari air agar bisa melepas dahaga.

Terdampaknya satwa langka ini membuat para relawan pemadaman api berjibaku mengevakuasinya ke tempat lebih aman. Akan tetapi upaya relawan atau petugas penyelamat tidak secepat api yang membakar lahan. Tidak sesigap asap yang menyergap hidung-hidung makhluk hidup di areal kebakaran.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore