Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Agustus 2026 | 20.58 WIB

Menjadi Pendidik di Jagat Kapitalisme

Musa Maliki. (Dok. Pribadi) - Image

Musa Maliki. (Dok. Pribadi)

Oleh Musa Maliki

Menjadi pendidik di Indonesia begitu sengsara. Begitulah narasi yang tersebar luas di jagat maya media sosial belakangan ini. Isu itu datang hampir setiap tahun, khususnya di hari pendidikan nasional. Isu dosen dan guru yang menyedihkan itu viral.
 
Kini suara dosen di Mahkamah Agung terus disuarakan demi dunia pendidikan lebih terhormat. Berharap para pendidik dapat hidup layak (sejahtera) dan menjalankan kemanusiaannya (hidupnya) dengan tidak overload atau burnout.

Menjadi pendidik adalah status idealistik. Citra idealistik tersebut terpatri dalam tradisi ketimuran sebagai seseorang yang adiluhung, berbudi pekerti tinggi, dan memperjuangkan moral. Menjadi pendidik singkatnya, dosen dan guru yang berurusan dengan dataran praksis baik dan buruk.

Namun, di era saintifik yang serbailmiah, semuanya harus objektif atau bebas nilai. Dunia kampus 'didoktrin' untuk serba sistemik tanpa campur tangan subjektivitas nilai atau norma manusia. 

Pendidik seperti dosen dan guru dibuat semacam ‘atom’ tanpa emosi, mentalitet, nilai, dan kejiwaan. Dosen dan guru "dirobotkan" atau di-AI-kan (artificial intelligence) dalam sistem negara modern Westphalia dan sistem ekonomi kapitalistik.

Falsafah Pendidik Keindonesiaan

Jika merujuk pada founding father kita, Ki Hajar Dewantara menjadi pendidik sangatlah berat sebab harus memberi contoh yang baik dalam hal akhlak dan budi pekerti. Hal ini berlaku dari keluarga sampai kelas pimpinan negara. Permasalahan dunia pendidikan kita yang karut marut tanpa ada konsistensi yang kuat. Landasan yang bisa jadi kuat hanya dalam ornamen, gincu, lipstik identitas saja. 

Substansi pendidikan kita tidak bersumber pada nilai kebaikan menurut Ki Hajar Dewantara yang adiluhung, berbudi pekerti luhur, membebaskan, dan beradab. Bergonta ganti rezim justru membuat pendidikan serampangan tanpa dasar riset yang mendalam, konsisten, dan bersumber dari konstruksi mendalam kebudayan kita (Indonesia). 

Pendidikan semakin teknikal, praktikal seperti proses mekanik. Misalnya taksonomi Bloom yang muncul 1956 oleh seorang Yahudi tulen, Benjamin S. Bloom. Memang orang Yahudi terkenal dengan kuasa uang, kuasa, dan pendidikan bersemi di Amerika Serikat pasca Perang Dunia II. Dengan kata lain, pendidikan (ilmu pengetahuan dunia) pasca Perang Dunia II memang sangat dipengaruhi Yahudi-Amerika Serikat (AS), khususnya dari Universitas Chicago.

Dengan salah satu bantuan elite global Amerika Serikat, John D Rockefeller (Rockefeller Foundation), pendidikan "Indonesia" dicetak dalam kerangka berpikir Amerika Serikat. Salah satunya proyeknya, banyak sarjana, intelektual, ilmuwan Indonesia diberi beasiswa sangat massif ke Amerika Serikat waktu itu (Phillpott, 2000). Sejak pasca Perang Dunia II, Indonesia masih saja di dalam jagat (realm) Amerika Serikat, termasuk ‘doktrin’ teknikal dan mekanikal taksonomi bloom yang sampai sekarang meninabobokan pendidikan Indonesia sebagai “siren song” dalam kisah Odyssey dalam puisi epic Homer.         

Editor: Ilham Safutra
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore