
Musa Maliki. (Dok. Pribadi)
Oleh Musa Maliki
Menjadi pendidik di Indonesia begitu sengsara. Begitulah narasi yang tersebar luas di jagat maya media sosial belakangan ini. Isu itu datang hampir setiap tahun, khususnya di hari pendidikan nasional. Isu dosen dan guru yang menyedihkan itu viral.
Kini suara dosen di Mahkamah Agung terus disuarakan demi dunia pendidikan lebih terhormat. Berharap para pendidik dapat hidup layak (sejahtera) dan menjalankan kemanusiaannya (hidupnya) dengan tidak overload atau burnout.
Menjadi pendidik adalah status idealistik. Citra idealistik tersebut terpatri dalam tradisi ketimuran sebagai seseorang yang adiluhung, berbudi pekerti tinggi, dan memperjuangkan moral. Menjadi pendidik singkatnya, dosen dan guru yang berurusan dengan dataran praksis baik dan buruk.
Namun, di era saintifik yang serbailmiah, semuanya harus objektif atau bebas nilai. Dunia kampus 'didoktrin' untuk serba sistemik tanpa campur tangan subjektivitas nilai atau norma manusia.
Pendidik seperti dosen dan guru dibuat semacam ‘atom’ tanpa emosi, mentalitet, nilai, dan kejiwaan. Dosen dan guru "dirobotkan" atau di-AI-kan (artificial intelligence) dalam sistem negara modern Westphalia dan sistem ekonomi kapitalistik.
Jika merujuk pada founding father kita, Ki Hajar Dewantara menjadi pendidik sangatlah berat sebab harus memberi contoh yang baik dalam hal akhlak dan budi pekerti. Hal ini berlaku dari keluarga sampai kelas pimpinan negara. Permasalahan dunia pendidikan kita yang karut marut tanpa ada konsistensi yang kuat. Landasan yang bisa jadi kuat hanya dalam ornamen, gincu, lipstik identitas saja.
Substansi pendidikan kita tidak bersumber pada nilai kebaikan menurut Ki Hajar Dewantara yang adiluhung, berbudi pekerti luhur, membebaskan, dan beradab. Bergonta ganti rezim justru membuat pendidikan serampangan tanpa dasar riset yang mendalam, konsisten, dan bersumber dari konstruksi mendalam kebudayan kita (Indonesia).
Pendidikan semakin teknikal, praktikal seperti proses mekanik. Misalnya taksonomi Bloom yang muncul 1956 oleh seorang Yahudi tulen, Benjamin S. Bloom. Memang orang Yahudi terkenal dengan kuasa uang, kuasa, dan pendidikan bersemi di Amerika Serikat pasca Perang Dunia II. Dengan kata lain, pendidikan (ilmu pengetahuan dunia) pasca Perang Dunia II memang sangat dipengaruhi Yahudi-Amerika Serikat (AS), khususnya dari Universitas Chicago.
Dengan salah satu bantuan elite global Amerika Serikat, John D Rockefeller (Rockefeller Foundation), pendidikan "Indonesia" dicetak dalam kerangka berpikir Amerika Serikat. Salah satunya proyeknya, banyak sarjana, intelektual, ilmuwan Indonesia diberi beasiswa sangat massif ke Amerika Serikat waktu itu (Phillpott, 2000). Sejak pasca Perang Dunia II, Indonesia masih saja di dalam jagat (realm) Amerika Serikat, termasuk ‘doktrin’ teknikal dan mekanikal taksonomi bloom yang sampai sekarang meninabobokan pendidikan Indonesia sebagai “siren song” dalam kisah Odyssey dalam puisi epic Homer.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Misi John Herdman Demi Semifinal!
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Kejagung Periksa Febrie Adriansyah: Kenakan Rompi Pink dan Tangan Terborgol
Presiden Persebaya Surabaya Angkat Bicara Usai Juara, Azrul Ananda: Menuju Bintang Melalui Kesulitan
Profil Kiper Persebaya Reza Arya Pratama, Tepis 2 Penalti Persib di Final Piala Presiden 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
