Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 Juli 2026 | 20.40 WIB

Muktamar PBNU 2026: Jangan Sampai Jabatan Dipersepsikan sebagai Tameng Kekuasaan

Dony Lesmana (dok. Pribadi) - Image

Dony Lesmana (dok. Pribadi)

MUKTAMAR Nahdlatul Ulama (NU) 2026 akan menjadi salah satu momentum paling menentukan bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia. Di forum inilah warga Nahdliyin akan memilih kepemimpinan yang akan membawa NU menghadapi berbagai tantangan baru, mulai dari penguatan ekonomi umat, digitalisasi organisasi, kaderisasi ulama, hingga menjaga posisi NU sebagai perekat kebangsaan. 

Namun, di balik dinamika mulai menghangat, terdapat satu tantangan yang tidak kalah penting, yakni menjaga kepercayaan publik terhadap integritas proses pemilihan. 

Setiap organisasi besar tidak pernah benar- benar steril dari berbagai persepsi publik. Ketika kontestasi kepemimpinan berlangsung, selalu muncul beragam penilaian mengenai motivasi para kandidat.

Ada yang dipandang maju karena ingin melanjutkan pengabdian, ada yang dianggap membawa gagasan pembaruan, dan tidak sedikit pula yang menjadi objek spekulasi bahwa jabatan dapat memperkuat posisi sosial, politik, maupun pengaruh seseorang. 

Persepsi seperti itu bukan hanya terjadi di NU. Hampir seluruh organisasi besar di dunia menghadapi tantangan yang sama. 

Karena itu, yang terpenting bukan memperdebatkan spekulasi tersebut, melainkan membangun mekanisme yang membuat publik yakin bahwa siapa pun yang terpilih memperoleh amanah melalui proses yang bersih, transparan, dan bermartabat. 

Lima Poros Kekuatan Mulai Mengerucut 

Menjelang Muktamar PBNU 2026, konfigurasi kepemimpinan mulai menunjukkan pola yang lebih jelas. Setidaknya terdapat lima poros utama yang menjadi perhatian warga Nahdliyin dan para pengamat organisasi. 

Kelima poros tersebut memiliki basis kekuatan, pendekatan, dan strategi berbeda dalam membangun dukungan. 

1. Poros Petahana: Menawarkan Keberlanjutan Program 

Poros pertama berada di bawah kepemimpinan KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Sebagai Ketua Umum PBNU periode berjalan, Gus Yahyamemiliki keuntungan berupa pengalaman memimpin organisasi nasional serta dukungan dari struktur yang telah bekerja selama lima tahun terakhir. 

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore