Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 Mei 2026 | 01.29 WIB

Potensi Bahaya Tersembunyi Pada Mahasiswa Kesehatan di Indonesia

dr. Adi Pratama Putra P., MHPE, FFRI. (Istimewa). - Image

dr. Adi Pratama Putra P., MHPE, FFRI. (Istimewa).

 oleh: dr. Adi Pratama Putra P., MHPE, FFRI 

DI BALIK CITRA mahasiswa kesehatan sebagai kelompok "unggul", sesungguhnya tersembunyi krisis yang tidak lagi bisa dianggap normal. Data global menunjukkan lebih dari sepertiga mahasiswa kedokteran mengalami depresi dan kecemasan, sementara sebagian melaporkan ide bunuh diri dalam satu tahun terakhir. Situasi ini bukanlah hanya anomali individu semata, namun Ini adalah suatu pola yang sistemik.

Masalahnya bukan sekadar beban belajar yang berat. Sistem pendidikan kesehatan saat ini dibangun di atas asumsi keliru, yaitu semakin banyak informasi diberikan maka semakin kompeten lulusan yang dihasilkan. Banyak yang tidak menyadari bangunan asumsi ini sangat keliru karena realita justru menunjukkan sebaliknya. Mahasiswa dijejali materi tanpa mekanisme integrasi. Mereka menghafal, tetapi tidak memahami. Mereka lulus ujian, tetapi tidak siap menghadapi pasien.

Kondisi ini diperparah oleh burnout kronis, yaitu kelelahan emosional yang sesungguhnya bukan hanya isu psikologis, tetapi berdampak langsung pada fungsi kognitif. Sejumlah penelitian pendidikan telah menemukan dampak kognitif dari burnout seperti konsentrasi menurun, memori melemah, dan kemampuan pengambilan keputusan yang terganggu. Dalam konteks klinis, ini bukan lagi persoalan akademik, melainkan risiko keselamatan pasien. Tentu akan menjadi tidak bijak bila keselamatan pasien dibebankan kepada calon tenaga kesehatan yang telah mengalami kelelahan emosional sejak masa pendidikan.

Sesungguhnya akar masalah ini terletak pada desain pendidikan yang tidak selaras dengan cara manusia belajar. Proses belajar masih didominasi pengulangan pasif seperti membaca ulang dan menandai teks yang pada akhirnya hanya menciptakan ilusi pemahaman. Sementara itu, asesmen atau ujian lebih banyak mengukur kemampuan mengenali jawaban benar daripada menghasilkan penalaran. Desain pendidikan membuat para mahasiswa kesehatan dilatih memilih, bukan untuk berpikir.

Fragmentasi kurikulum memperburuk desain pendidikan institusi kesehatan di Indonesia. Masih banyak ditemukan institusi pendidikan yang menggunakan desain kurikulum Ilmu dasar dan ilmu klinik yang terpisah, sehingga mahasiswa gagal membangun kerangka sebab-akibat. Hal ini membuat kesulitan pada mahasiswa kesehatan ketika mereka dihadapkan pada kasus nyata karena perlu waktu tambahan dalam menerapkan pengetahuan yang dimiliki.

Solusi untuk menghentikan krisis sesungguhnya tidak cukup dengan menambah jam belajar atau memperketat seleksi mahasiswa kesehatan. Saat ini yang lebih dibutuhkan adalah perubahan mendasar yaitu peralihan desain belajar menjadi recall aktif dan penalaran, bukan sekadar paparan informasi. Selain itu, integrasi lintas disiplin harus menjadi inti, bukan pelengkap. Terakhir, asesmen perlu didesain untuk menguji cara berpikir, bukan hanya daya ingat jangka pendek.

Jika reformasi desain pendidikan kesehatan tidak dilakukan, sistem akan terus memproduksi lulusan yang tampak kompeten di atas kertas, tetapi rapuh dalam praktik. Krisis ini tidak terlihat karena dapat tersembunyi dengan sempurna di balik nilai dan gelar. Namun dibalik persembunyianya, dampak yang ditimbulkan sangat amat nyata karena bukan hanya bagi mahasiswa, tetapi bagi kualita pelayanan kesehatan di Indonesia.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore