Nazla Mariza. (Dok. Pribadi)
Banyak anak Indonesia memulai sekolah, tetapi tidak semuanya sampai ke jenjang menengah. Tantangan terbesar pendidikan kita hari ini bukan lagi sekadar akses, melainkan memastikan mereka bertahan dan lulus dengan pembelajaran yang bermakna.
---
Setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi momen refleksi: sejauh mana sistem pendidikan di negeri ini benar-benar membuka peluang bagi setiap anak untuk berkembang. Berbagai kebijakan telah dijalankan Pemerintah untuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Komitmen wajib belajar 12 tahun, program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Program Keluarga Harapan (PKH), serta transformasi pembelajaran melalui Merdeka Belajar menjadi fondasi penting. Upaya ini mendorong capaian positif, terutama pada jenjang pendidikan dasar yang kini mendekati universal (Kemendikbudristek, 2024).
Namun salah satu tantangan besar saat ini yakni memastikan keberlanjutan partisipasi pendidikan dari jenjang dasar hingga menengah secara utuh. Jika akses pendidikan dasar kini relatif tinggi, titik rawan justru muncul pada fase transisi—terutama dari SMP ke SMA/SMK.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata lama sekolah Indonesia masih 9,1 tahun pada 2023—setara jenjang SMP. Dengan kata lain, mimpi pendidikan banyak anak Indonesia masih berhenti di bangku SMP. Hal ini tercermin dari angka partisipasi sekolah usia 16–18 tahun yang masih sekitar 75 persen (BPS, 2024), yang berarti satu dari empat anak tidak melanjutkan ke SMA/SMK—padahal fase ini krusial dalam membentuk kesiapan kerja maupun melanjutkan pendidikan.
Di sinilah target wajib belajar 12 tahun diuji. Tanpa intervensi yang tepat, kesenjangan akan semakin melebar, anak-anak dari keluarga rentan dan wilayah terpencil berisiko tertinggal lebih jauh. Memperluas akses saja tidak cukup. Kini yang dibutuhkan memastikan anak bertahan dan menuntaskan pendidikan hingga jenjang menengah.
Tantangan menjadi lebih kompleks di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), terutama pada jenjang pendidikan menengah. Keterbatasannya tidak pada fasilitas saja, tetapi juga jumlah sekolah dan tenaga pengajar. Di banyak wilayah 3T, jumlah SMA/SMK jauh lebih terbatas dibanding SD dan SMP, sehingga siswa harus menempuh jarak jauh atau berhenti setelah lulus SMP. Analisis berbagai studi, termasuk Bank Dunia, menunjukkan kepadatan sekolah menengah di wilayah terpencil jauh lebih rendah dibanding wilayah perkotaan, yang berdampak langsung pada partisipasi pendidikan (World Bank, 2020).
Tantangan pemerataan juga terlihat pada distribusi guru. Secara nasional, Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta guru, dengan rasio murid-guru relatif ideal—sekitar 1:14 di jenjang dasar dan 1:16–1:20 di jenjang menengah (BPS, 2025). Namun, angka ini menyembunyikan ketimpangan antarwilayah. Di sejumlah daerah 3T, rasio dapat mencapai 1:30 hingga 1:40 siswa per guru. Tidak jarang satu guru harus mengajar lintas mata pelajaran atau menangani beberapa kelas sekaligus, sementara di wilayah perkotaan tertentu justru terjadi kelebihan guru. Ketimpangan ini memengaruhi kualitas pembelajaran (World Bank, 2020; Kemendikbudristek, 2023).
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
