Kerusakan akibat banjir yang membawa material pohon dan lumpur di pemukiman rumah warga di wilayah Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padan, Sumbar, pada Kamis (27/11). (BNPB)
BENCANA alam menimpa silih berganti. Hampir setiap tahun ada bencana alam terjadi di negeri ini. Baik bencana hidrometeorologi, gempa bumi, gunung meletus, longsor, dan sebagainya.
Di balik duka yang menimpa korban, rakyat Indonesia bergegas berbuat. Bergegas membantu mengurangi beban dan duka yang dialami para korban. Rakyat Indonesia mengambil peran, mulai dari menjadi relawan membantu para korban di lokasi bencana.
Bagi yang tidak kuat fisiknya, tetapi memiliki sedikit rezeki, mereka menitipkan bantuan lewat lembaga filantropi atau lembaga sosial. Bahkan ada yang datang langsung membawa beras berkarung-karung, baju berlusin, selimut berlembar untuk para korban mereka tidak kelaparan, tidak kedinginan.
Masyarakat Sumatera Barat memiliki caranya sendiri mengirim bantuan untuk korban bencana. Berkirim rendang yang jumlahnya berton-ton. Baik untuk korban bencana gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB); Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), erupsi gunung Semeru di Jawa Timur; Gunung Agung di Bali; gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat (Jabar); korban banjir besar di Bener Meriah, Aceh; tsunami yang melanda Banten-Lampung, dan beberapa daerah lainnya.
Kini di Sumatera Barat terdapat ratusan orang meninggal dunia akibat dilanda banjir bandang (galodo). Berdasar data Badan SAR Nasional (Basarnas) per 1 Desember 2025 pukul 21.00 WIB, jumlah korban meningga dunia akibat banjir bandang di Sumbar 166 orang, sebanyak 116 jiwa masih dalam pencarian, dan 29.483 telah dievakuasi.
Semenjak viralnya video-video banjir bandang di media sosial (medsos) terkait Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, masifnya pemberitaan media arus utama yang menunjukkan begitu mencekamnya bencana alam, para penggiat sosial, pekerja kreatif, novelis, dan publik figur, bergerak melalui akun mereka menggalang dana dari publik.
Mereka menggandeng lembaga sosial dan filantropi. Mereka mengetuk hati masyarakat Indonesia untuk bahu membahu mengurangi beban dan mengobati duka keluarga korban agar tetap tabah. Selang beberapa hari total bantuan terkumpul mencapai miliaran rupiah. Bantuan pun dikirim dan diantar langsung. Mereka menembus jalan-jalan yang terputus, dan daerah-daerah terisolasi dengan cara bergotong royong.
Gelombang bantuan pun datang dari para perantau Minangkabau. Tanpa dimobilisasi, mereka bergerak menghubungi sanak keluarganya berkirim bantuan dengan cara sendiri tanpa komando. Mereka mengakses sanak keluarga yang masih selamat untuk dijadikan perpanjangan tangan membantu saudara-saudara yang tertimpa bencana. Minimal bantuan itu membuat yang terkena bencana bisa makan. Perut mereka tidak kosong. Baju bisa diganti karena sudah kuyup kena hujan dan banjir.
Selain itu, ada para relawan lainnnya yang mewakafkan tenaga dan pikirannya membantu mencari dan menyelamatkan korban di lokasi bencana. Hingga hari ini pencarian masih berlangsung. Segudang harapan masih ditumpukan keluarga korban kepada relawan.
Cara itu dilakukan masyarakat karena geramnya publik terhadap pernyataan pihak-pihak tertentu yang melukai hati mereka. Lambannya sikap pemerintah memberi respons terhadap bencana. Lebih parah lagi, publik marah terhadap banjir bandang ini tidak sekadar membawa air bah. Ada yang lebih parah dari itu, potongan kayu-kayu gelondongan yang hanyut dari hulu sungai. Jumlahnya begitu banyak. Semua itu diklaim oleh pihak-pihak tertentu hanya sisa potongan kayu tua. Padahal potongan kayu ukurannya besar. Potongannya presisi. Potongan itulah yang menyeret pondasi rumah warga di tepi sungai.
Banjir bandang tidak hanya lewat ke sungai-sungai yang mengalir selama ini. Banjir bandang lewat di jalur yang bukan jalur air. Hal itu yang membuat rumah-rumah dan kampung-kampung tenggelam. Masyarakat tidak sempat menyelamatkan harta bendanya.
Baca Juga: Masyarakat Terdampak Bencana Banjir Dapat Uang Kompensasi Senilai Rp 4 Juta Lebih, Tapi di Thailand
Tidak elok rasanya jika melupakan peran dari aparat kepolisian, petugas Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan relawan sosial lainnya. Mereka hadir dari hari pertama menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Mengevakuasi warga yang terkepung banjir. Hingga kini mereka masih bahu membahu membantu warga. Aparat-aparat itu juga bagian dari keluarga korban. Mereka menempatkan hati nuraninya menyelamatkan para korban.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
