Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 Januari 2024 | 21.51 WIB

Kekhawatiran Perluasan Perang Gaza

IBNU BURDAH - Image

IBNU BURDAH

SEJAK awal aksi Thufan al-Aqsha yang disusul ofensif masif Israel ke Gaza, front di utara Israel sebenarnya diwarnai aksi ’’solidaritas’’ Hizbullah terhadap Hamas dengan melakukan serangan terbatas ke Israel. Namun, hampir semua pihak saat itu tidak melihat potensi perluasan arena perang.

Hizbullah terlihat menahan diri dari terlibat perang total meski mereka terus menyerang ’’ala kadarnya’’. Mungkin untuk menghibur ’’aliansinya’’ di selatan yang dibombardir Israel atau sedikit mengganggu fokus Israel.

Kekhawatiran

Namun, rentetan peristiwa baru-baru ini memperbesar kekhawatiran perluasan atau perpindahan arena perang ke kawasan lain, terutama utara Israel. Serangan rudal jarak jauh kelompok perlawanan Iraq ke kota pelabuhan indah Israel, Haifa, baru-baru ini memang bukan hal besar bagi pertahanan Israel. Tetapi, itu simbol penting sedang bergeliatnya poros Bulan Sabit Syiah. Juga pembunuhan Wissam al-Thawil, salah satu komandan penting Hizbullah, dan Wakil Ketua Biro Politik Hamas Saleh al-Aruri yang menggemparkan di Lebanon Selatan.

Hasan Nashrallah, Sekjen Hizbullah, meradang, kembali berteriak lantang untuk membalas dendam meski pidato ancaman seperti itu sudah jadi kebiasaannya. Aksi saling serang antara Hizbullah dan Israel pun kini faktanya makin meluas.

Menhan Israel Yoav Galant baru-baru ini juga menyatakan kesabaran Israel terhadap Hizbullah sudah habis dan akan mengalihkan ’’arena pertempuran’’ dari Gaza ke utara. Ini bisa dikatakan respons sangat keras pertama Israel terhadap ancaman-ancaman Hizbullah dan aksi kekerasan saling balas antara keduanya.

Peristiwa agak jauh sebelumnya, dua bom yang menewaskan ratusan orang di Kerman, Iran, dalam peringatan haul Qasem Soleimani, jenderal kebanggaan Iran, (3/1) membuat seantero Iran meradang. Tak kurang, Sang Rahbar Al Imam Ali Khomenei menebar ancaman terhadap musuh-musuh Iran yang diduga sebagai otak atau pelaku. Meskipun ISIS mengklaim serangan itu, keyakinan Iran bahwa Israel di balik berbagai peristiwa kematian tokoh-tokoh pentingnya dan proxy-nya sangat kuat.

Juga ’’atraksi” kekerasan kelompok Houthi, Yaman, di perairan Laut Merah membuat Israel dan negara-negara Barat meradang. Aliansi yang dikatakan untuk merespons ancaman pelayaran internasional dibentuk dengan anggota sekitar 20 negara yang kemudian juga direspons Iran dan proxy-nya dengan membentuk milisi pengamanan perairan.

Bara permusuhan aliansi Bulan Sabit Syiah vs Israel yang selama lebih empat dekade ini timbul tenggelam kini kembali mencuat ke permukaan.

Aspek lain yang memperbesar kekhawatiran perluasan perang adalah kuatnya arus dalam negeri Israel yang melihat Iran sebagai ancaman abadi. Netanyahu adalah salah satu tokoh yang dikenal berambisi ’’menyelesaikan” Iran dengan militer. Berkali-kali Israel diprediksi akan melakukan serangan preemptive attack untuk mencegah Iran jadi negara berkapasitas senjata nuklir.

Preemptive attack adalah serangan pendahuluan terhadap sumber ancaman yang berada di luar wilayahnya. Ini adalah salah satu doktrin militer Israel mengingat wilayahnya sempit. Tidak berlebihan jika salah satu mantan komandan NATO, James Stavridis, menyebut angka kekhawatiran terhadap potensi perluasan atau berpindahnya arena perang Gaza kini meningkat dua kali lipat dari 15 persen ke angka 30 persen.

Risiko Besar

Namun, kekhawatiran perluasan itu juga tidak tepat jika dibaca berlebihan. Keputusan perang adalah keputusan besar dengan dampak dan risiko sangat luas bagi kehidupan suatu bangsa dan negara. Negara mana pun yang akan mengambil keputusan itu pasti berupaya menimbang secara saksama, detail, dan berkali-kali mengenai beban dan akibat-akibat perang. Apalagi berperang melawan negara seperti Israel. Risiko-risiko perang pasti diperhitungkan secara matang.

Prioritas Iran saat ini bukan berperang, tapi untuk memperbaiki ekonomi melalui normalisasi hubungan dengan poros negara-negara Arab. Demikian juga para proxy-nya di Lebanon dan Yaman yang ekonominya benar-benar hancur akibat salah kelola dan akibat perang, juga proxy-nya di Iraq yang masih sangat instabil dalam hal apa pun. Ikhtiar yang mulai menampakkan hasil justru terancam ’’ambyar” jika opsi perang mereka ambil.

Meski retorika ’’kemarahan” begitu keras di kalangan para pemimpin Hizbullah, Houthi, Hasyd Sya’biy, dan Iran, tak ada pernyataan eksplisit mengarah pada deklarasi perang. Ancaman melakukan pembalasan memang diteriakkan berkali-kali, tetapi retorika para pemimpin itu terhadap AS dan Israel memang demikian adanya selama ini. Jadi, tidak tampak ada yang benar-benar baru.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore