
Suparto Wijoyo
DARAH terus tumpah di Jalur Gaza, Palestina. Kecaman hingga seruan kemanusiaan telah dikumandangkan dari bangsa-bangsa beradab. Termasuk oleh negara-negara yang tergabung dalam KTT Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Riyadh yang menghasilkan 31 resolusi pada Sabtu (11/11). Mulai gencatan senjata segera hingga penyaluran bantuan.
Sedangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serasa lumpuh. Hukum internasional, norma perdamaian, dan nilai-nilai humanisme yang tertuang di dokumen-dokumen dunia itu kian terseret mundur ke zaman nirleka, saat kehidupan manusia belum mengenal abjad. Hukum internasional bak mati di lumbung imperialisme. Air mata Gaza dialirkan dalam linang yang mengerang. Jerusalem adalah akar yang menghadirkan kisah tanpa jeda hingga ke Gaza.
Di Jerusalem, monoteisme membangun iman agama-agama. Lambang supremasi kuasa dan panggul penderitaan selalu tertoreh pada rekam jejak peradaban di ”tanah harapan” ini. Kuil suci dan tembok ratapan maupun Al Quds ”bertakhta megah” berselimut ”ornamen teologis” yang kilauannya tidak bisa ditandingi hamparan tanah sekitarnya.
Mimpi dan imaji dikonstruksi dengan membawa gerbong umat yang diberi suguhan daulat Tuhan. Perjuangan adalah kata kunci untuk memperebutkan ”sertifikat religius” paling sahih di hadapan-Nya. Kekuatan adikodrati disorong membungkus kesejatian wilayah penuh keberkahan ini dengan satu tarikan napas: semua iman bermula dari titik koordinat Jerusalem.
Khalayak ramai telah menyimak tentang kisah Jerusalem. Seperti yang dilansir Discovery Channel: hanya segelintir kota yang telah menjadi tuan rumah bagi banyak agama dan aliran politik seistimewa Jerusalem. Bagi orang Yahudi, kota ini adalah ibu kota tanah air mereka dan lokasi Tembok Barat.
Bagi umat Kristiani, the Garden of Gethsemane and Golgotha are here. Khusus bagi muslim, it’s a city inextricably tied to the rise of Islam with such holy sites as the Dome of the Rock. Pesan universalnya amatlah jelas bahwa terhadap ”tanah suci lintas agama” ini haruslah dijaga, bukan malah diusik dengan terus merangsek mengusir warga Palestina.
Kalau para tokoh politik dunia tidak tanggap, persaksikanlah gemeretak tulang-tulang mujahid Palestina. Gelombangnya menggeliat untuk diteruskan anak-anak dalam gelegar Hamas. Akibat ulah Amerika Serikat (AS) yang memanjakan Israel, dan Israel terus berlagak arogan, masyarakat yang berkewarasan menunjukkan sikapnya. Demonstrasi di mana-mana yang menuntun saya menaruh perhatian pada novel I Saw Ramallah atau Ra’aitu Ramallah. Novel yang menuang memori penulisnya yang terbit perdana tahun 1997, Mourid Barghouti, seorang penyair Palestina termasyhur.
Narasi dalam novel itu amatlah padat dan teramat lirih mengenai kisahnya sebagai seorang Palestina dari pengasingan. Ramallah yang berada di Tepi Barat menjadi sangat asing, sebagaimana pula Gaza akibat buldoser Yahudi Zionis yang merebut rumah rakyat. Penindasan terhadap warga Palestina diukir secara destruktif sejak negara ini diproklamasikan 14 Mei 1948. Potret derita Palestina makin gamblang dalam sorotan permufakatan konspiratif negara-negara yang mengklaim sebagai pemenang Perang Dunia II.
Buku lama Palestine: Through Documents karya R. Halloum (Abu Firas)1988 yang saya dapat dari pemerintah Palestina tahun 1992 telah memberikan informasi yang representatif tentang kisah kolonialisme yang menyengsarakan bangsa Palestina. Lembar sejarah Palestina memang hendak ditenggelamkan. Pekik Mourid Barghouti seolah menjadi ”gagasan tentang Palestina”. Realitas Palestina diubah menjadi ”untaian kisah-kisah imajiner tentangnya”.
Rekam jejak nestapa itu sedang menarik sorot mata dunia untuk tertuju menatapnya kembali di Gaza. Bombardir tentara Israel di Gaza terus saja menyesakkan dada. Nasib kaum gelandangan di beberapa kota besar AS tampak kurang mendapatkan kepedulian dari penguasanya. Presiden AS justru lebih sibuk urusan Israel daripada derita warga miskinnya yang makin membengkak. Unjuk rasa hebat yang ”memanaskan” AS dan negara-negara Uni Eropa ternyata belum menjadi fokus perhatian pemerintahan mereka.
Negara-negara Uni Eropa dan AS terpotret aslinya, anti-hak asasi manusia warga Palestina. Gaza hendak dibumihanguskan seperti tanah tidak bertuan. Gaza dianggap hamparan kosong. Tapi, dengan kebangkitan perlawanan milisi Hamas, justru hadir energi kehidupan yang menyapa masyarakat internasional. Gaza adalah hunian kaum beradab yang secara yuridis mendapatkan perlindungan hukum. Kalaulah kini hukum tidak berdaya di Gaza, itu menjadi penanda bahwa masyarakat internasional sedang dinafikan oleh kebiadaban.
Pengesahan secara sepihak bahwa Jerusalem adalah ibu kota Israel merupakan manifes yang mengandung intimidasi serius. Kekerasan verbalnya adalah munculnya terorisme paling brutal. Respons yang muncul dari publik internasional yang melakukan penolakan atas pengibukotaan Jerusalem merupakan bukti bahwa kebijakan tersebut amatlah gegabah. Keputusan yang mengkristalkan teror paling nyata bagi bangsa-bangsa beradab. AS dan sekutunya sedang mengobok-obok perdamaian kawasan Timur Tengah. Israel sendiri adalah teroris yang sangat nyata.
Apa yang terjadi di wilayah Al Aqsa di esok hari pasti mengguncang kemanusiaan siapa pun yang waras. Peristiwa yang menggelegak dalam suasana perjalanan sejarah panjang selama ribuan tahun (2800 SM–2023M) merupakan simbol abadi keangkuhan Israel. Negara ini sesungguhnya sedang memamerkan kekerasan yang sangat menggelisahkan umat manusia.
Tragedi yang dihamparkan di Gaza adalah perlambang bahwa humanisme sedang dipermainkan. Tidak ada alasan yang cukup bagi Israel untuk menggempur Palestina, kecuali ia bangsa yang sedang ”sakit jiwanya”. Palestina yang memiliki Jalur Gaza maupun Masjid Al Aqsa secara geopolitik haram dianiaya. Di dalam negeri aksi, kecaman, seruan, dan doa pendukung perjuangan harus teruslah dilantunkan agar pada saatnya nanti kita saksikan bersama sambil berkata: I Saw Palestina. Akhirnya Kulihat Palestina yang Merdeka. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
