
Photo
SEBELUM membuat tulisan ini, saya sempat liputan fashion show tiga desainer kondang tanah air. Mereka adalah Biyan, Sebastian Gunawan, dan Didi Budiardjo. Ketiganya diadakan di hotel berbintang lima.
Usai meliput pergelaran nan eksklusif, perhatian saya lantas tertuju ke kawasan Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Kawasan yang viral dengan sebutan SCBD. Bukan Sudirman Central Business District di Jakarta Selatan, melainkan Sudirman-Citayam-Bojonggede-Depok. Sudirman merupakan stasiun kereta dekat Stasiun MRT Dukuh Atas. Stasiun Sudirman terhubung ke stasiun-stasiun kereta di Depok, Bekasi, dan Bogor (Citayam adalah nama salah satu daerah di Bogor). Karena kemudahan akses inilah anak-anak dari ketiga daerah itu kerap datang ke kawasan Dukuh Atas yang memang Instagrammable.
Nggak cuma nongkrong, ngonten, atau jajan cilok dan minuman serbuk, anak-anak muda ini –yang banyak berasal dari kelas menengah ke bawah– juga memperlihatkan berbagai gaya busana.
Maksudnya, mereka datang ke sana untuk nongkrong dan main. Tapi, tanpa mereka sadari, mereka dipotret oleh seseorang yang lalu-lalang di kawasan Dukuh Atas dan fotonya diunggah ke media sosial. Beberapa saat kemudian, boom, gaya mereka viral di medsos dengan tagar #CitayamFashionWeek. Gaya mereka pun berpotensi jadi acuan untuk berpenampilan. Tepat seperti yang dikatakan oleh Harriet Worsley dalam Decades of Fashion (2013) bahwa siapa pun bisa jadi inspirasi fashion di era internet dan media sosial.
Selain karena pengaruh media sosial yang sanggup memviralkan sesuatu, ada hal lain yang membuat gaya anak-anak SCBD terkenal. Kawasan Sudirman dan Dukuh Atas merupakan areal bisnis dan perkantoran serta lalu-lalang para pekerja kelas menengah ke atas dari perusahaan besar. ”Biasanya yang lewat situ bergaya sleek atau rapi khas metropolitan. Lalu muncullah anak-anak remaja dengan gaya yang menonjol dan bukan berasal dari situ,” kata stylist Hagai Pakan.
Berbagai gaya pakaian memang muncul di Dukuh Atas. Ada yang bergaya khas grunge era ’90-an dengan kemeja flanel, jins belel, bandana, serta rambut tergerai atau acak-acakan. Ada yang bergaya Y2K atau era awal 2000-an dengan kaus pas badan, celana low-rise, hoodie, varsity jacket, cropped top, rok a-line, kardigan rajut, atau tank top.
Gaya era 2000-an akhir dan 2010-an juga muncul. Misalnya gaya ala personel boyband atau girlband Korea. Suatu ketika saya melihat remaja putri dengan celana jins warna-warni mirip yang dikenakan personel SNSD di klip video Gee. Atau, ada cowok berambut polem (poni lempar) yang percaya diri dengan kemeja tanpa lengan dan celana bahan hitam. Mirip personel Super Junior di klip video Bonamana.
Dikotomi gaya ala medsos pun ada. Mulai cowok/cewek kue yang cerah ceria dengan busana warna-warni, cowok/cewek Mamba yang misterius dan rebel dengan busana warna hitam atau gelap dan aksesori khas punk atau rock n roll, hingga cowok/cewek bumi yang –seperti namanya– membumi dengan busana warna earth-tone macam krem, cokelat, nude, dan gradasi hijau.
Tak hanya itu, sejumlah remaja juga meniadakan batas-batas gender dalam berbusana. Ada remaja putra yang lihai melenggok dengan sepasang high heels dan cropped top. Ada remaja putri yang percaya diri dengan kemeja, celana, dan sepatu hasil meminjam dari abangnya atau teman lelakinya.
”Ada juga yang new wave. Mereka menggabungkan beberapa genre gaya di satu tampilan. Misalnya mod ala ’60-an dengan elemen gaya sporty ’90-an,” tambah Hagai. Menurut Worsley (2013), elemen gaya mod muncul dari potongan slim-fit, tailored atau jahitan rapi, aksen colorblock, permainan motif atau pattern, serta rok mini.
Yang lebih menarik, harga atau biaya bergaya kebanyakan dari anak-anak ini sungguh ekonomis. Dari hasil obrolan saya dengan beberapa di antara mereka, kebanyakan nyari baju di online shop atau marketplace. Harganya juga murah banget. Kaus dan kemeja ada yang hanya Rp 50 ribu. Ada yang mencari bursa barang bekas atau thrift. Sepotong celana jins bisa didapat dengan harga sekitar Rp 100 ribu. ”Atau ya minjem temen atau keluarga. Ini sepatu saya minjem emak,” ujar Febri, 14, remaja putri asal Bojonggede. Febri menambahkan bahwa di daerah asalnya, ada beberapa pasar atau pasar malam tempat dirinya dan remaja lain bisa berburu fashion item yang harganya miring.
Dengan keberagaman gaya nan ekonomis ABG-ABG ini, mereka tak hanya merebut kembali ruang publik. Mereka merebut kembali makna fashion. Fashion bukan cuma milik mereka yang elite dan berduit. Fashion bisa dikenakan, dipraktikkan, dan dinikmati semua kalangan. Sama seperti industri kreatif lainnya, fashion pun punya segmentasi pasar yang didasarkan pada kelas ekonomi.
Selain sanggup memilih fashion item ekonomis, anak-anak ABG di Dukuh Atas punya akses ke media sosial, tempat mereka menemukan inspirasi gaya berbusana. Atau, dengan cara melihat ke sesama ABG yang nongkrong di daerah tersebut.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
