Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Juli 2022 | 01.41 WIB

Sensasi Baru Nonton Fashion Show di Dukuh Atas

Photo - Image

Photo

SEBELUM membuat tulisan ini, saya sempat liputan fashion show tiga desainer kondang tanah air. Mereka adalah Biyan, Sebastian Gunawan, dan Didi Budiardjo. Ketiganya diadakan di hotel berbintang lima.

Usai meliput pergelaran nan eksklusif, perhatian saya lantas tertuju ke kawasan Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Kawasan yang viral dengan sebutan SCBD. Bukan Sudirman Central Business District di Jakarta Selatan, melainkan Sudirman-Citayam-Bojonggede-Depok. Sudirman merupakan stasiun kereta dekat Stasiun MRT Dukuh Atas. Stasiun Sudirman terhubung ke stasiun-stasiun kereta di Depok, Bekasi, dan Bogor (Citayam adalah nama salah satu daerah di Bogor). Karena kemudahan akses inilah anak-anak dari ketiga daerah itu kerap datang ke kawasan Dukuh Atas yang memang Instagrammable.

Nggak cuma nongkrong, ngonten, atau jajan cilok dan minuman serbuk, anak-anak muda ini –yang banyak berasal dari kelas menengah ke bawah– juga memperlihatkan berbagai gaya busana.

Maksudnya, mereka datang ke sana untuk nongkrong dan main. Tapi, tanpa mereka sadari, mereka dipotret oleh seseorang yang lalu-lalang di kawasan Dukuh Atas dan fotonya diunggah ke media sosial. Beberapa saat kemudian, boom, gaya mereka viral di medsos dengan tagar #CitayamFashionWeek. Gaya mereka pun berpotensi jadi acuan untuk berpenampilan. Tepat seperti yang dikatakan oleh Harriet Worsley dalam Decades of Fashion (2013) bahwa siapa pun bisa jadi inspirasi fashion di era internet dan media sosial.

Selain karena pengaruh media sosial yang sanggup memviralkan sesuatu, ada hal lain yang membuat gaya anak-anak SCBD terkenal. Kawasan Sudirman dan Dukuh Atas merupakan areal bisnis dan perkantoran serta lalu-lalang para pekerja kelas menengah ke atas dari perusahaan besar. ”Biasanya yang lewat situ bergaya sleek atau rapi khas metropolitan. Lalu muncullah anak-anak remaja dengan gaya yang menonjol dan bukan berasal dari situ,” kata stylist Hagai Pakan.

Berbagai gaya pakaian memang muncul di Dukuh Atas. Ada yang bergaya khas grunge era ’90-an dengan kemeja flanel, jins belel, bandana, serta rambut tergerai atau acak-acakan. Ada yang bergaya Y2K atau era awal 2000-an dengan kaus pas badan, celana low-rise, hoodie, varsity jacket, cropped top, rok a-line, kardigan rajut, atau tank top.

Gaya era 2000-an akhir dan 2010-an juga muncul. Misalnya gaya ala personel boyband atau girlband Korea. Suatu ketika saya melihat remaja putri dengan celana jins warna-warni mirip yang dikenakan personel SNSD di klip video Gee. Atau, ada cowok berambut polem (poni lempar) yang percaya diri dengan kemeja tanpa lengan dan celana bahan hitam. Mirip personel Super Junior di klip video Bonamana.

Dikotomi gaya ala medsos pun ada. Mulai cowok/cewek kue yang cerah ceria dengan busana warna-warni, cowok/cewek Mamba yang misterius dan rebel dengan busana warna hitam atau gelap dan aksesori khas punk atau rock n roll, hingga cowok/cewek bumi yang –seperti namanya– membumi dengan busana warna earth-tone macam krem, cokelat, nude, dan gradasi hijau.

Tak hanya itu, sejumlah remaja juga meniadakan batas-batas gender dalam berbusana. Ada remaja putra yang lihai melenggok dengan sepasang high heels dan cropped top. Ada remaja putri yang percaya diri dengan kemeja, celana, dan sepatu hasil meminjam dari abangnya atau teman lelakinya.

”Ada juga yang new wave. Mereka menggabungkan beberapa genre gaya di satu tampilan. Misalnya mod ala ’60-an dengan elemen gaya sporty ’90-an,” tambah Hagai. Menurut Worsley (2013), elemen gaya mod muncul dari potongan slim-fit, tailored atau jahitan rapi, aksen colorblock, permainan motif atau pattern, serta rok mini.

Yang lebih menarik, harga atau biaya bergaya kebanyakan dari anak-anak ini sungguh ekonomis. Dari hasil obrolan saya dengan beberapa di antara mereka, kebanyakan nyari baju di online shop atau marketplace. Harganya juga murah banget. Kaus dan kemeja ada yang hanya Rp 50 ribu. Ada yang mencari bursa barang bekas atau thrift. Sepotong celana jins bisa didapat dengan harga sekitar Rp 100 ribu. ”Atau ya minjem temen atau keluarga. Ini sepatu saya minjem emak,” ujar Febri, 14, remaja putri asal Bojonggede. Febri menambahkan bahwa di daerah asalnya, ada beberapa pasar atau pasar malam tempat dirinya dan remaja lain bisa berburu fashion item yang harganya miring.

Dengan keberagaman gaya nan ekonomis ABG-ABG ini, mereka tak hanya merebut kembali ruang publik. Mereka merebut kembali makna fashion. Fashion bukan cuma milik mereka yang elite dan berduit. Fashion bisa dikenakan, dipraktikkan, dan dinikmati semua kalangan. Sama seperti industri kreatif lainnya, fashion pun punya segmentasi pasar yang didasarkan pada kelas ekonomi.

Selain sanggup memilih fashion item ekonomis, anak-anak ABG di Dukuh Atas punya akses ke media sosial, tempat mereka menemukan inspirasi gaya berbusana. Atau, dengan cara melihat ke sesama ABG yang nongkrong di daerah tersebut.

Organik yang Bikin Unik


Sengaja atau tidak, viral atau tidak, bagi saya keberagaman busana dan gaya anak-anak ABG dan dewasa muda di kawasan Dukuh Atas adalah sebentuk fashion show. Tidak seperti peragaan busana koleksi desainer atau pekan mode yang terstruktur, terorganisasi, dan eksklusif, fenomena anak nongkrong di kawasan Dukuh Atas berlangsung organik dan inklusif. Organik artinya berlangsung secara alami, tanpa koreografer, pengarah show, atau tenaga profesional. Inklusif artinya siapa saja bisa melihat atau bahkan menjadi bagian dari peragaan busana jalanan itu.

Stylist Hagai Pakan menyebut bahwa sebenarnya fenomena fashion show organik ini sudah ada sejak lama. ”Dulu di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, banyak juga anak-anak yang nongkrong dengan streetwear. Atau di kawasan Taman Ismail Marzuki banyak anak IKJ (Institut Kesenian Jakarta, Red) dan seniman yang gayanya artsy. Atau di Jalan Braga di Bandung,” papar stylist yang berhasil meraih Piala Citra kategori Penata Busana Terbaik Festival Film Indonesia 2020 itu.

Saat melihat fashion show organik di kawasan Dukuh Atas, saya mendapat pengalaman baru yang tidak saya temukan ketika nonton pergelaran yang terorganisasi. Yang paling kentara, ya, soal akses. Untuk bisa ke Dukuh Atas, kita nggak perlu undangan atau beli tiket fashion show. Gratis, nggak perlu daftar, reservasi, atau antre. Kita hanya perlu keluar uang buat transportasi ke sana.

Lalu, kita juga bisa melihat detail busana yang mereka kenakan lebih dekat. Tak perlu duduk di front row atau bangku terdepan layaknya undangan VVIP di pergelaran busana pada umumnya. Kita bisa melihat struktur dan tekstur busana para ABG ini lebih dekat. Saya sendiri ketika ngobrol dengan salah satu remaja diizinkan menyentuh bahan kaus dan jaketnya untuk mengamati secara lebih jelas.

Oh iya, untuk melihat fashion show organik di Dukuh Atas, kita juga dibebaskan dari aturan berpakaian. Mau pakai kaus oblong-celana pendek, ayo. Mau pakai singlet sama jins, silakan. Mau pakai barang hasil nge-thrift di pasar, boleh.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya pribadi merasa unsur organik dan merakyat fashion show di Dukuh Atas kian berkurang. Hampir saban hari, ada saja golongan menengah ke atas atau elite yang ngonten di situ. Mereka tidak nongkrong, melainkan hanya syuting atau foto-foto untuk keperluan feeds Instagram atau video di YouTube lalu cling...pergi. Semuanya serba terencana, serba diatur, dan...yah, demi keuntungan pribadi.

Selain itu, acap kali busana yang dikenakan oleh para selebriti atau influencer itu agak kurang sejalan dengan konsep fashion yang merakyat. Harganya berkisar antara Rp 500 ribu hingga di atas Rp 1 juta. Gaya busana pun kerap melenceng dari konsep streetstyle. Misalnya beberapa orang yang mengenakan setelan jas formal lengkap (yang saya yakin harganya di atas Rp 1 juta) dan berjalan di zebra cross Dukuh Atas.

Atau, ada juga influencer yang turun ke Dukuh Atas untuk mempromosikan produk bisnisnya. Semua dengan dalih ”mempromosikan produk lokal”. Padahal ya belum tentu produk lokal punya harga yang sesuai dengan kondisi ekonomi ABG-ABG yang nongkrong di Dukuh Atas.

Puncaknya, model dan YouTuber Paula Verhoeven –yang juga sempat ngonten di Dukuh Atas– menawarkan Rp 500 juta ke Bonge, salah satu ABG asal Cilebut, Bogor, yang viral setelah nongkrong di kawasan Dukuh Atas. Katanya, uang itu untuk dana mengadakan Citayam (Sebenarnya disebut Citayam ya kurang pas, wong lokasinya di Dukuh Atas. Lagian anak-anak yang datang ke sana nggak semua dari Citayam, Bestie. Ada yang dari Depok, Bekasi, Ciledug, Tangerang, atau ya Jakarta).

Yang pasti, jika ada pihak yang ingin mengadakan pekan mode terorganisasi atau terencana di kawasan Dukuh Atas, unsur organik dan realistis fashion di situ akan berkurang. Semua seolah diajak berlomba memoles diri alih-alih tampil apa adanya. Semua seolah harus teratur plus tunduk pada prosedur dan standar alih-alih bebas bergaya.

Lagi pula, buat apa sih memberi uang? Memacu kreativitas? Masak sih? Bukankah Bonge, Kurma, dan rekan-rekannya sudah cukup kreatif dalam memilih busana sesuai bujet dan memadupadankan sesuai selera mereka? Sebab, kreativitas tidak melulu ditunjang dengan banyaknya uang. (*)




*) GLANDY BURNAMA, Wartawan Jawa Pos

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore