PENANTIAN panjang selama 31 tahun rupanya belum cukup untuk merebut kembali medali emas sepak bola SEA Games bagi timnas Indonesia. Harapan tinggi untuk meraih medali emas SEA Games itu setelah tampil apik di AFF Cup 2020 (yang digelar 2021) ternyata hanya mimpi belaka. Kecewa dan sedih tentu saja menghiasi hati fans sepak bola Indonesia. Pelatih sekaliber Shin Tae-yong (STY) belum juga cukup untuk mewujudkan mimpi masyarakat pencinta sepak bola negeri ini.
Menurut perenungan penulis, sekalipun timnas Indonesia dilatih Pep Guardiola atau Jurgen Klopp, rasa-rasanya akan mustahil juga untuk berprestasi. Bahkan di ajang sekelas SEA Games pun sulit. Apalagi di level yang lebih tinggi dari itu. Lalu apa yang salah dengan sepak bola kita sehingga selalu akrab dengan kata kegagalan?
Lubang Hitam
Diolah dari Wikipedia, kira-kira pengertian dari lubang hitam (black hole) adalah bagian dari ruang waktu yang memiliki gravitasi paling kuat. Objek itu dapat menyerap apa pun yang berada di sekitarnya dan tidak dapat kembali lagi. Bahkan cahaya dan benda-benda angkasa lainnya. Lalu apa kaitannya dengan problem sepak bola
Indonesia?
Mari kita mengingat-ingat berita-berita di media saat timnas sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti sebuah turnamen. Siapa pun yang pernah melatih timnas, beritanya selalu sama. Saat pemain dipanggil ke pemusatan latihan, selalu saja kondisinya di bawah standar. Mulai standar fisik, teknik, bahkan mental. Bahkan, pelatih STY harus memberikan teknik-teknik dasar sepak bola kepada pemain timnas senior sebelum menghadapi AFF Cup 2020. Padahal, saat itu para pemain sedang menjalani kompetisi.
Seharusnya pemain yang tengah mengikuti kompetisi, saat dipanggil timnas untuk mengikuti pelatnas, minimal tidak lagi bermasalah dengan fisik dan teknik. Pelatih mungkin akan kehabisan waktu untuk meningkatkan standar-standar tersebut ketimbang memoles untuk mempersiapkan strategi dan teknik di lapangan.
Bisa dicek di jejak digital, setelah AFF Cup 2020, STY memanggil kembali sebagian besar pemainnya untuk persiapan SEA Games 2021
Vietnam (yang digelar 2022). Apa yang terjadi? Pemain yang telah dipolesnya dulu, saat dipanggil kembali, terlihat kedodoran fisik, teknik, dan mentalnya. Padahal, di jeda tersebut mereka juga sedang berkompetisi di Liga 1. Kejadian itu selalu berulang-ulang siapa pun yang menjadi pelatih timnas Indonesia.
Dari fakta-fakta tersebut, penulis beropini bahwa kompetisi dan klub di Indonesia menjadi ”lubang hitam” bagi prestasi sepak bola Indonesia. Sungguh ironis. Sesaat setelah timnas Indonesia U-23 meraih medali perunggu di SEA Games lalu, salah satu harapan STY terhadap
Marselino Ferdinan dan Ronaldo Kwateh (pemain termuda dalam skuad Garuda) adalah mereka meneruskan kariernya di liga luar negeri. Minimal di Korea atau Jepang. Atau bahkan di Vietnam atau Thailand sekalipun. Mungkin saja STY khawatir kemampuan teknik, fisik, dan mental kedua pemain bintangnya akan tersedot di ”lubang hitam” Liga 1.
Standar Mutu Kompetisi
Bila ada yang mengikuti pertandingan timnas U-23 di SEA Games 2021 lalu, terlihat pemain-pemain kita ”kalah matang” dengan pemain Vietnam dan Thailand. Dengan Malaysia kita masih imbang. Sedangkan timnas Indonesia dengan mudah mengalahkan Timor Leste, Filipina, dan Myanmar. Melawan tiga negara terakhir, seharusnya memang wajar kita menang. Sebab, masalah mereka hampir sama atau bahkan lebih buruk ketimbang kompetisi di Liga 1.
Dalam suatu berita, Alexandre Polking, pelatih timnas
Thailand, sangat yakin anak asuhnya akan mampu meredam timnas Indonesia ketika berlaga di semifinal. Walaupun rekam jejak Indonesia cukup mengerikan di fase grup. Yang membuat Polking yakin adalah kualitas skuad timnas Thailand yang telah matang di kompetisi dalam negerinya. Dia hanya memotivasi dan mempersiapkan strategi untuk menghadapi Indonesia. Dari sisi proses permainan dan hasil sudah bisa kita lihat.
Bahkan, bila ditelusuri lagi, kita bisa lihat di Liga Champions Asia. Klub-klub Thailand sudah bisa menyaingi klub-klub Tiongkok, bahkan Korea dan Jepang. BG Pathum United adalah salah satu klub Thailand yang saat ini lolos ke fase grup Liga Champions Asia. Tidak tanggung-tanggung, mereka menjadi juara grup dengan mengalahkan klub papan atas dari Asia Timur tersebut.
Itu bukan hanya kebetulan. Buriram FC juga beberapa kali melakukan hal yang sama. Bahkan, saat ini klub Vietnam dan Malaysia sudah mulai mengikutinya. Bagaimana klub-klub Liga Indonesia? Dalam sejarah, mereka selalu dibantai bila bertemu dengan klub dari Korea dan Jepang.
Kalau kemudian timnas Thailand, Vietnam, atau bahkan kini
Malaysia mulai sering merajai turnamen di Asia Tenggara, itu adalah hal yang wajar. Kompetisi domestik mereka sudah dapat menciptakan lingkungan kondusif untuk membentuk pemain-pemain timnas yang tangguh secara fisik, teknik, dan mental.
Kita bisa melihat Jepang yang melakukan revolusi sepak bola mereka pada 1992. Dimulai dengan membuat standar tinggi bagi klub-klub yang akan berkompetisi di negara mereka. Hasilnya, dari sekian banyak klub, hanya delapan klub yang dianggap layak dan hanya merekalah yang akhirnya mengikuti liga profesional
Jepang.
Konsistensi mereka membuat kompetisi makin baik dari tahun ke tahun dan jumlah klub yang layak berpartisipasi pun akhirnya kian banyak. Hasilnya terlihat di tahun 1998, kali pertama Jepang lolos ke Piala Dunia di Prancis dan hingga saat ini tidak pernah absen.
Kompetisi adalah mesin utama untuk membentuk timnas yang tangguh. Kompetisi Liga 1 selama ini memang telah berjalan dengan semarak. Namun dengan standar kualitas yang rendah untuk ukuran sepak bola modern. Pelatih kaliber dunia sekalipun tidak akan bisa membawa Indonesia juara tanpa federasi (PSSI) menyelesaikan dulu ”lubang hitam” sepak bola kita. PR besar untuk PSSI. Tetap semangat!
(*)
*) PUTU GDE ARIASTITA, Dosen Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota ITS Surabaya