Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 April 2022 | 20.36 WIB

Ngopi di Petekan Riverside, Selfie Berlatar Kapal

Photo - Image

Photo

SEKITAR dua minggu lagi Lebaran. Insya Allah. Setelah lelah dikurung pandemi, sangat mungkin Lebaran tahun ini kunjungan tamu akan lebih marak dibanding dua Lebaran sebelumnya. Setidaknya tanda kesemarakan itu tampak dari kemunculan beberapa meme di grup-grup WA belakangan.

Misalnya, berupa video latihan menerima tamu di rumah, promosi jualan kue Lebaran, dan kue gosong karena dibakar. Tidak digoreng sebagaimana mestinya karena minyak goreng masih langka dan mahal.

Tapi, wong Suroboyo kadang bingung jika mendapat kunjungan sahabat atau keluarga dari luar kota. Sebab, seakan ada kewajiban yang melekat pada tuan rumah untuk mengajak tamunya jalan-jalan nongkrong ke tempat-tempat khas Surabaya. Lha.. mau diajak ke mana?

Tentu prioritasnya bukan ke mal. Karena hampir di semua kota di Indonesia terdapat mal yang umumnya kondisinya tak jauh berbeda.

Barangkali lebih mudah jika tamu tersebut anak-anak usia sekolah. Mereka bisa diajak ke Museum Tugu Pahlawan, Monumen Kapal Selam (Monkasel), Atlantis Kenjeran, atau ke Jembatan Suramadu.

Tapi, jika para tamu itu lebih dewasa –apalagi ibu-ibu– mereka biasanya lebih tertarik pada sesuatu yang khas dan nonmainstream (yang tidak biasa atau belum banyak dikenal luas).

Salah satu pilihan –dan paling mudah– dibawa ke Kampung Ampel. Situasi kampungnya khas dengan lorong-lorong kecil dan di pintu tiap rumah umumnya dilapisi kerai. Biasanya di balik kerai itu ada orang yang melihat ke jalanan kampung. Salah satu lorong yang langsung menuju Masjid Ampel yang legendaris itu dimanfaatkan warganya untuk membuka lapak atau toko kecil yang menjual peralatan salat, Alquran, baju koko, topi haji, juga parfum dengan aroma khas. Selain itu, ada kurma dan sejenisnya. Di kawasan Ampel juga banyak dijual aneka makanan dan kue khas Timur Tengah.

Di daerah ini banyak warung makan yang buka sampai subuh. Pengunjung cukup membeli secangkir kecil kopi, mereka bisa ngobrol sampai warung kukut (tutup). Kawasan Ampel dan sekitarnya kini sudah ditetapkan sebagai objek wisata religi.

Di beberapa kawasan Surabaya sebetulnya terdapat beberapa kampung khas asli Surabaya. Hanya, belum betul-betul digali potensinya.

Mungkin suatu hari pemkot bisa bikin acara –apa pun namanya– untuk membuka potensi kampung-kampung khas tersebut. Di Surabaya masih banyak gedung kuno yang berfungsi sebagai kantor, bank, maupun hunian. Kadang ada fotografer yang memanfaatkan tempat itu untuk pre wedding atau yang lain.

Dengan membuat acara ’’kunjungan’’ atau apa saja yang mungkin akan mampu ’’menghidupkan’’ kampung itu. Teknisnya, tentu pihak pemkot dan pakar pariwisata lebih paham.

Semakin banyak kampung khas yang muncul, bukan tidak mungkin akan lebih banyak kunjungan wisatawan –mancanegara maupun domestik– ke kota ini.

Tiga tahun belakangan Surabaya punya tempat jujukan baru yang cukup bisa dipamerkan kepada tamu. Tempatnya tak jauh dari kawasan Ampel. Tepatnya di sekitar Jembatan Petekan. Hampir semua warga Surabaya tahu jembatan di kawasan Perak ini.

Konon jembatan ini bisa dibuka tutup untuk memberi akses perahu masuk Kalimas lebih ke dalam kota. Tapi, saat ini jembatan tersebut hanya berfungsi sebagai jembatan biasa. Mungkin sudah tidak bisa dibuka tutup. Pengunjung hanya bisa melihat sisa-sisa peninggalan berupa roda-roda gigi yang terpasang di pilar jembatan.

Di sisi jembatan itulah tempat nongkrong itu berada. Ngopi, ngobrol, dan menikmati makanan di pinggir kali tentu asyik. Namanya keren –sebagaimana tertulis di situ –Petekan Riverside. Sedangkan warga sekitar menyebut tempat itu sebagai Taman Petekan.

Di situ memang terdapat taman yang cukup asri. Banyak kios makanan yang enak untuk nongkrong. Tempat ini lebih hidup di malam hari. Angkat topi untuk PT Pelindo III yang berhasil menyulap tempat yang dulu kumuh itu menjadi tempat wisata kuliner yang nyaman dan menyenangkan.

Kawasan yang dibuka pada 2020 itu juga pas untuk rekreasi keluarga. Di situ terdapat area bermain pasir, ada live music, dan masih banyak lagi. Kini perlu dipikirkan upaya mengajak warga untuk menjaga kawasan pinggir kali itu agar tetap indah, asri, aman, nyaman, dan mudah-mudahan berkembang makin baik.

Satu lagi tempat nongkrong yang layak untuk menjamu tamu adalah Surabaya North Quay yang memanfaatkan lantai 2 dan 3 gedung terminal pelabuhan Gapura Surya, Tanjung Perak. Lantai 2 digunakan untuk ruang pameran aneka produksi, sedangkan lantai 3 merupakan food court. Dari teras lantai tiga ini pengunjung bisa melihat pelabuhan atau kapal yang lalu-lalang dari Pelabuhan Tanjung Perak. Selain itu, pengunjung juga bisa melihat kapal pesiar mewah yang kadang merapat di Gapura Surya. Tak sedikit pengunjung yang memanfaatkan tempat ini untuk swafoto dengan latar belakang laut atau kapal mewah. Bahkan, kadang pengelola menyiapkan kapal untuk rekreasi putar-putar laut sekitar sampai mendekati Jembatan Suramadu. Tentu dengan tiket berbayar. Rekreasi yang mampu menambah wawasan –utamanya bagi bocah yang di zaman ini lebih akrab dengan gawai.

Pelindo III sebagai pengelola rasanya perlu lebih galak mempromosikan Surabaya North Quay (SNQ) untuk menarik pengunjung. Apalagi menjelang Lebaran seperti ini. Sayang, jika tempat seperti itu terus sepi, lalu pelan-pelan mati. Semangat Ndan!!! Selamat Lebaran, mohon maaf lahir-batin. *

*) Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos 2007-2008.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore