
Photo
INDONESIA sedang mempersiapkan vaksin dalam negeri yang lebih dikenal dengan sebutan vaksin Merah Putih. Tidak kurang dari tujuh kandidat vaksin sedang dikerjakan enam institusi. Yang paling maju pasti Lembaga Eijkman di Jakarta.
Vaksin dengan dukungan dana pemerintah ini diharapkan memasuki fase uji klinis pada trimester kedua atau ketiga tahun depan. Lembaga lain yang terlibat adalah LIPI, ITB, UGM, UI, dan Unair. Di Surabaya, Universitas Airlangga (Unair) bahkan menyiapkan dua kandidat sekaligus dengan platform yang berbeda.
Minggu ini kandidat vaksin Covid-19 dari Vietnam yang pertama memasuki tahap uji klinis. Vietnam bekerja dalam suasana agak senyap tanpa terlalu banyak publikasi internasional. Dalam berbagai pemberitaan, orang masih sangat terkesan dengan capaian negara ini dalam mengendalikan Covid-19. Salah satu negara terbaik di dunia.
Cerita tentang pilot asal Inggris yang berhasil mereka selamatkan dari Covid-19 menggema ke mana-mana. Vietnam habis-habisan berusaha menyelamatkan pilot yang bekerja di maskapai Vietnam Airlines itu untuk mencegah kasus kematian pertama akibat Covid-19 di negara mereka.
Dalam hal vaksin, yang dibuat tim Vietnam adalah vaksin ke-83 di dunia dan yang pertama di Asia Tenggara yang memasuki uji klinis pada manusia. Vaksin ini berbasis protein virus SARS-CoV-2 dan tidak mengandung materi genetik di dalamnya. Nama vaksinnya Nanocovax, mengacu pada Nanogen, nama perusahaan pembuat.
Yang menarik, Nanocovax direncanakan menjalani uji klinis fase ketiga, antara lain di Indonesia juga. Jika berjalan lancar, izin edar akan diajukan paling cepat pada pertengahan 2021. Skenario yang lebih buruk merujuk pada batas waktu akhir 2021. Masih ada tiga kandidat vaksin lain dari negara ini, dua di antaranya juga memasuki fase uji klinis pada trimester pertama tahun depan.
Yang bergerak di depan Vietnam sesungguhnya adalah Thailand. Sejak lama Negeri Gajah Putih mempunyai lembaga penelitian dan pabrik vaksin yang kredibel. Thailand memproduksi sendiri banyak vaksin yang digunakan di dalam negeri. Untuk Covid-19, ada enam lembaga yang terlibat dan mayoritas berasal dari dua perguruan tinggi paling terkemuka, Mahidol dan Chulalongkorn.
Vaksin terdepan yang berbasis mRNA, mirip dengan dua vaksin pertama yang dilisensi di dunia internasional, merupakan hasil kerja Universitas Chulalongkorn di Bangkok dan University of Pennsylvania. Prof Drew Weissman, salah satu pionir teknologi RNA, bekerja sama dengan Thailand karena menginginkan vaksin canggih ini diproduksi negara yang sedang berkembang dan dengan harga lebih murah.
Thailand mampu menyelesaikan uji praklinis sesuai dengan rencana dan bersiap memasuki fase uji klinis sejak Oktober lalu. Uji hewan dengan menggunakan kera besar berjalan mulus. Sayang sekali, uji klinis fase pertama harus tertunda karena pabrik partner mereka di Amerika Serikat tidak dapat menyediakan prototipe vaksin yang akan digunakan sampai trimester pertama 2021.
Hal ini sangat mengecewakan peneliti Thailand, tentu saja, namun tidak banyak yang bisa dilakukan karena teknologi mRNA bukan hal konvensional. Sebenarnya, jika vaksin terwujud, pabrik di AS akan mengalihkan sebagian teknologi ke Thailand.
Masih ada persoalan lain yang dihadapi Thailand yang mungkin pula terjadi di negeri kita. Adanya enam tim yang bergerak bersama untuk proyek yang sangat penting ini menyebabkan para ahli tidak menyatu sebagai sebuah tim impian. Hal serupa menyangkut pendanaan. Akan sulit bagi pemerintah di sana menyiapkan dukungan yang cukup untuk banyak lembaga. Bagaimanapun, negara itu tidak setangguh Singapura dan negara Asia lain yang relatif lebih maju yang mempunyai sumber dana lebih besar.
Singapura pun tidak ketinggalan mempunyai kandidat vaksin Covid-19. Kandidat termaju mereka berbasis mRNA juga dan merupakan kerja sama National University of Singapore (Duke-NUS) dengan Arcturus, perusahaan vaksin Amerika Serikat. Kelebihan vaksin ini adalah berdosis rendah, hanya 7,5 mikrogram per dosis atau seperempat dari dosis vaksin Pfizer.
Vaksin ini mungkin juga diberikan hanya sekali (dosis tunggal). Fase I–II dilakukan di Singapore General Hospital dan hasil yang sedang dianalisis tampak sangat menjanjikan. Saat ini juga mereka bersiap untuk fase ketiga. Vaksin ARCT-021 ini diharapkan bisa beredar di pasar pada akhir trimester pertama 2021. Pemerintah Singapura menyuntikkan dana 45 juta dolar sebagai bagian dari biaya penelitian dan produksi. Jaminan pembelian pertama diketahui bernilai 220 juta dolar.
Baca Juga: Perjelas Makna Gratis Harga Vaksin Covid-19
Dengan tiga negara tetangga bergerak di depan, kita tak perlu kecil hati. Upaya mendapatkan vaksin Merah Putih harus terus dilanjutkan. Sekalipun demikian, kita juga tidak boleh terlalu angkuh. Apabila vaksin sebelah sudah beredar dan bisa kita beli, yang tentu diharapkan berharga relatif murah, opsi pembelian dalam jumlah tertentu perlu dipertimbangkan.
Kebutuhan dalam negeri kita sangat besar. Jika memang herd immunity yang dikejar, tentu diperlukan sangat banyak vaksin untuk mencapainya. Tidak mungkin vaksin Merah Putih siap dengan jumlah besar dalam waktu dekat. Kesejahteraan rakyat adalah yang terpenting. (*)

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
