Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 Juni 2020 | 02.48 WIB

Kebangkitan Inovasi Indonesia

Photo - Image

Photo

DI tengah pandemi Covid-19, Presiden Jokowi menggunakan momen Hari Kebangkitan Nasional untuk meluncurkan 55 alat kesehatan dari konsorsium peneliti Indonesia. Dengan tajuk Kebangkitan Inovasi Indonesia, produk-produk tersebut diharapkan mempercepat penanganan Covid-19 di negara kita.

Sebagai langkah awal untuk mewujudkan kemandirian bangsa di sektor kesehatan (+90 persen Indonesia mengimpor bahan baku obat dan alat kesehatan), tentu upaya para peneliti yang tergabung dalam konsorsium untuk menciptakan alat kesehatan inovatif tersebut patut dihargai. Pertanyaannya, bagaimana mengoptimalkan hasil riset yang ada guna mendukung kemandirian Indonesia di sektor kesehatan (dan sektor strategis lain)?

Riset dan Inovasi Indonesia

Laporan terbaru World Economic Forum (WEF) menempatkan Indonesia #50 pada Global Competitiveness Report (GCR) 2019 (turun 5 peringkat dibandingkan 2018). Dari 12 indikator yang ada, hanya indikator market size yang konsisten dan meyakinkan naik ke #7. Sisanya konsisten turun, termasuk indikator terakhir: kapabilitas inovasi (#74 pada 2019, #68 pada 2018). Singapura menempati #13, diikuti Malaysia (#30) dan Thailand (#50). Konsisten dengan GCR, posisi Indonesia pada Global Innovation Index (GII) #85 (belum beranjak dari tahun sebelumnya). Negara ASEAN lain memiliki posisi yang lebih tinggi: Singapura (#8), Malaysia (#35), Vietnam (#42), Thailand (#43), Filipina (#54), dan Brunei Darussalam (#71).

Dana riset yang dialokasikan pemerintah sebesar Rp 27,1 triliun dan tersebar pada 81 kementerian/lembaga (K/L). Masalahnya, hanya 13 K/L yang melakukan kegiatan riset, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jumlah tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan negara tetangga. Malaysia dan Thailand mengalokasikan +1 persen dari PDB, sedangkan Indonesia dalam 20 tahun terakhir hanya 0,1 persen. Negara maju rata-rata mengalokasikan 2 persen hingga 4,5 persen dari PDB yang dimiliki. Fakta itu menunjukkan bahwa anggaran R&D terhadap PDB berkorelasi positif pada kemajuan bangsa.

Yang menarik, alokasi anggaran R&D di negara maju tidaklah hanya dari negara, namun industri aktif melakukan pengembangan dari hasil riset dasar yang telah dibiayai negara (khususnya oleh perguruan tinggi/PT). Menurut GII 2019, beberapa perusahaan memiliki R&D expenditure sangat besar. Terdapat 4 perusahaan yang memiliki pengeluaran USD 16 miliar (Samsung, Alphabet, Volkswagen, dan Microsoft). Huawei mengeluarkan USD 14 miliar (setara dengan Austria dan sedikit lebih kecil dari yang dikeluarkan Israel).

Peran Industri dalam Inovasi

Kajian terbaru yang dilakukan Arora dkk (2019) pada Harvard Business Review menunjukkan bahwa pertumbuhan produktivitas AS menurun sejak 1970-an. Dalam jangka panjang, daya saing AS dalam berinovasi maupun dominasinya dalam ekonomi dunia akan berkurang. Hal itu cukup mengejutkan, mengingat data National Science Foundation (NSF) menunjukkan investasi dalam pengetahuan meningkat 5x, jumlah doktor (2x), dan publikasi ilmiah (7x).

Yang menarik, mereka berargumentasi bahwa minimnya keterlibatan industri dalam riset ilmiah menjadikan rendahnya aplikasi penemuan yang ada. Sebagai ilustrasi, publikasi ilmiah yang dihasilkan unit R&D milik DuPont pada Journal of the American Chemical Society lebih tinggi daripada gabungan milik MIT dan Caltech pada 1960-an. Bahkan, Bell Labs milik AT&T yang mengkhususkan diri pada transistor dan teori informasi menghasilkan 14 pemenang Nobel dan 5 pemenang Turing Award.

Kombinasi tekanan pemegang saham, tingginya persaingan, dan gagal mendapatkan kepercayaan publik menjadikan banyak perusahaan menarik diri dari investasi pada ilmu pengetahuan. Bila pada 1985, 30 persen R&D didanai industri, pada 2015 menjadi hanya 20 persen. Hal itu disebabkan stagnasi dana research yang dialokasikan meskipun pada development tumbuh stabil. Akibatnya, publikasi ilmiah yang dihasilkan industri di AS turun 20 persen per dekade dari 1980 hingga 2006. Bila pada 1971 sebanyak 41 persen pemenang inovasi adalah perusahaan yang masuk dalam Fortune 500, pada 2006 tinggal 6 persen saja. Tidaklah mengherankan jika laporan dari World Intellectual Property Organization (WIPO) menunjukkan turunnya dominasi AS pada paten yang diajukan (sebanyak 5.401.401), kalah dibandingkan Tiongkok 7.750.082 pada 2008–2017.

Kondisi itu menunjukkan pemisahan peran antara industri dan PT, di mana product development dilakukan industri dan research oleh PT. Akibatnya, riset yang dihasilkan PT kurang aplikatif karena keterbatasan skala dan cakupan yang dimiliki, sedangkan breakthrough innovation yang ditawarkan industri makin berkurang. Dan tentunya perbedaan motif antara riset yang dihasilkan, peneliti di PT mendapatkan insentif pada who comes first, sedangkan riset di industri pada kegunaannya (does it work). Salah satu solusi yang ditawarkan adalah memfasilitasi scientific entrepreneurial talents (SET) untuk bekerja lebih dekat dengan industri, sebagaimana yang dilakukan Cyclotron Road di Berkeley Lab atau Runway pada Cornell Tech yang menyediakan fellowships bagi ilmuwan untuk mentransisikan penemuan (research) ke aplikasi (development).

Sektor kesehatan sangat strategis bagi Indonesia dan negara lain yang pertumbuhan ekonominya semakin didominasi sektor jasa. Sektor health care and social assistance di AS menyerap 12,40 persen (2018) dengan pengeluaran kesehatan mencapai 17,90 persen (2017) dari GDP. Hal itulah yang menjadikan investasi pada sektor kesehatan dan bioteknologi tumbuh dan berkembang, dan salah satu pasar potensial yang dituju adalah Indonesia. Demikian juga negara-negara maju lain yang menjadikan kesehatan sebagai sektor strategisnya.

Dalam beberapa kesempatan, presiden menekankan perlunya hilirisasi riset dan inovasi yang dihasilkan PT. Harapan itu cenderung susah dicapai karena gap yang ada antara riset yang dihasilkan oleh PT dan industri. Dan, ini diawali perbedaan motif dari riset yang dilakukan. Uraian di atas menunjukkan pentingnya peran R&D yang dilakukan industri bagi daya saing dan kemandirian bangsa dalam jangka panjang, dengan menduplikasi program SET. Secara tak langsung, peneliti Indonesia dalam tiga bulan ini melakukan SET guna menjawab permasalahan Covid-19.

Bagi pemerintah, insentif yang atraktif perlu diberikan agar industri di Indonesia tertarik untuk mengalokasikan R&D budget, misalnya akselerasi super tax deduction bagi industri yang melakukan riset dan insentif-insentif lain yang dapat diberikan. Bagi PT, sebuah keharusan mengalokasikan topik riset yang tinggi relevansinya dengan kebutuhan industri agar pemanfaatannya bisa optimal. Selain itu, memfasilitasi dan mengapresiasi penelitinya untuk aktif bekerja sama dengan industri dalam mengaplikasikan hasil risetnya-program SET adalah langkah krusial.

Kita berharap, transformasi ekonomi yang diawali oleh kebangkitan inovasi di sektor kesehatan dapat diikuti sektor-sektor strategis lain sehingga Indonesia bisa lepas dari middle income trap, visi yang dijanjikan oleh kabinet. (*)




*) Badri Munir Sukoco, Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=-SawoBNFE38

https://www.youtube.com/watch?v=2jfjBpXjL40

https://www.youtube.com/watch?v=ofqLLH0UGPc

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore