
ARIS SETIAWAN
ZIKRIA Dzatil, perempuan tersangka ujaran kebencian terhadap Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, menangis tersedu. Dia mengaku menyesal, memohon ampunan dan meminta maaf kepada Risma. Karakter itu berbanding terbalik dengan apa yang ditulis di media sosialnya, menghujat, menghina dengan begitu pongahnya. Begitulah wajah media sosial kita hari ini. Siapa pun dapat menjadi rupa-rupa wajah dengan rupa-rupa karakter lewat media sosial. Kenyataan itu sering kali menjungkirbalikkan logika kita.
Apakah Anda pernah menyaksikan film fiksi ilmiah yang berjudul Avatar (2009)? Saat seorang Marinir yang kakinya lumpuh bernama Jake Sully memasuki sebuah tabung, kemudian dirinya seolah dilahirkan kembali, menjadi makhluk lain, berekor dengan wajah yang asing dan aneh. Dia tidak lagi lumpuh, tapi lincah berlari dan bertenaga.
Makhluk itu adalah avatar, semacam tubuh rekaan yang dioperasionalkan dari jarak jauh oleh tubuh manusia yang sesungguhnya. Bukankah peristiwa yang demikian telah menimpa manusia kiwari? Lewat media sosial, kita bisa berperan dan menjadi karakter avatar apa pun.
Jungkir Balik
Di pojok kampung, seorang anak dapat dengan mudahnya meretas situs pemerintah di ibu kota. Sementara di tengah kota, seorang pemuda justru teralienasi di antara hiruk pikuk dan keramaian lalu-lalang orang. Seorang pria bule asal Prancis datang jauh-jauh ke pelosok Wonogiri untuk menikahi wanita desa pujaannya yang dikenalnya lewat media sosial.
Pertemuan-pertemuan awalnya dilangsungkan tidak lagi berbekal tubuh, melainkan ruang imajiner yang sering kali disebut sebagai ”dunia maya”. Hal itu yang kemudian menimbulkan satu pertanyaan penting, di manakah kenyataan, saat tubuh menjadi makhluk-makhluk rekaan baru berupa avatar di dunia virtual?
Mendatangi tempat wisata, mengunjungi teman yang sakit, makan di restoran mewah, atau sekadar ingin berfoto dengan presiden. Semua itu tidak penting, tapi menjadi mendesak untuk segera dilakukan agar dapat diunggah di media sosial demi mendapatkan komentar, like, lalu berlanjut pada pertanyaan-pertanyaan dan wacana-wacana baru dalam kehidupan virtual. Mengunjungi teman yang sakit barang kali hanya lima menit, tapi obrolan tentangnya dapat menjadi berhari-hari dalam ruang daring. Kenyataan yang sebenarnya terdistorsi dengan ”kenyataan baru” yang sering kali lebih terasa nyata.
Lewat media sosial, avatar-avatar diri diciptakan. Jumlahnya tak hanya satu, namun banyak. Satu orang dapat memiliki lebih dari dua ”tubuh” media sosial, dapat dioperasikan sesuai kebutuhan dan keinginan. Seseorang yang kesehariannya cenderung diam dan pemalu kemudian dapat menjadi ramai dan cerewet di ujud avatarnya, begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, dunia imajinasi baru tercipta, selayaknya dalam dongeng, film, dan mitos-mitos.
Hal itu mengubah paradigma berpikir kita, realitas tubuh atau eksistensi diri adalah dunia yang semu, sementara avatar berwujud media sosial adalah dunia yang senyatanya. Karena persoalan itulah, anak-anak terlihat khusyuk di pojok kamar bermain game online seharian atau tertawa sendiri selayaknya orang gila, padahal dia sedang terhubung dengan jaringan masyarakat lintas batas di berbagai penjuru dunia.
Lingkungan sekitar rumah tak lagi menjadi ruang bermain, kemudian dipandang tidak aman, menjadi ancaman yang menakutkan. Pagar-pagar tinggi dibangun menjulang di depan rumah, menjadi batas antara ”luar dan dalam”, tentang ”siapa aku dan kamu”.
Di dalam pagar dianggap sebagai wilayah yang aman, di luar pagar adalah ancaman. Anak-anak tak diperkenankan bermain melewati pagar. Lebih nyaman mengembara di dunia virtual, menjadi avatar lewat game online. Tubuh mereka semakin tambun, banyak makan, sedikit bergerak. Tak ada lagi pertemuan dengan teman sebayanya. Tak ada lagi lari-lari, jatuh, kemudian menangis dan segera kembali tertawa.
Nilai-nilai kebersamaan, humanisme, dan juga komunikasi sosial semakin menunjukkan kebangkrutan. Tak lagi mengenal tetangga kanan kiri, yang ada adalah teman dalam bentuk avatar-avatar virtual yang penuh tipu daya dan kepura-puraan.
Dunia virtual berupaya ”melipat dunia”. Apa yang terjadi di dunia virtual dipandang lebih penting dan realistis dibanding dunia senyatanya. Pergerakan-pergerakan besar hari ini dilakukan lewat media sosial. Beberapa kali pemerintah secara khusus mengimbau agar tidak membuat kegaduhan di media sosial dan menyebarkan hoaks. Bahkan saat kerusuhan terjadi di Jakarta 22 Mei tahun lalu, pemerintah membatasi pemakaian media sosial, sementara hal serupa justru tidak diberlakukan dalam kehidupan dunia nyata.
Peristiwa itulah yang menjungkirbalikkan logika berpikir kita. Apa yang kita sebut sebagai dunia maya itu kini berubah menjadi dunia nyata dan apa yang awalnya kita sebut sebagai dunia nyata itu berubah semakin kelihatan maya.
Peristiwa itu menuntut bergesernya makna kehidupan, bahkan pada takaran yang paling hakiki dan privat, yakni agama dan kebertuhanan. Doa-doa yang awalnya didaraskan lewat surau dan keheningan malam itu berganti didengungkan atau dituliskan lewat media sosial. Berharap Tuhan dan malaikat dapat membacanya. Tapi, tentu saja membaca apa yang tertulis di media sosial itu tak pernah dapat dilakukan bila tak memiliki akun media sosial serupa. Dengan kata lain, Tuhan dan malaikat pun dituntut untuk bermedia sosial.
Hal itulah yang membuat manusia menjadi makhluk rekaan atau avatar. Yang sering kali berupaya menyembunyikan realitas yang sesungguhnya. Yang ada adalah citra kehidupan yang gemerlap, kemewahan, atau sering kali berpamer kesombongan dan kebodohan diri. Galak di media sosial, rapuh di kenyataan. Aduh!!! (*)
Aris Setiawan, esais, pengajar di ISI Surakarta

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
