
Agus Sri Danardana
SEKALIPUN Shakespeare (melalui Juliet dalam Romeo and Juliet) mengatakan, ”Apalah arti sebuah nama,” bagi banyak orang (Indonesia utamanya), nama adalah doa dan diyakini sebagai sumber energi.
Menurut Arkand Bodhana Zeshaprajna, ahli metafisika dari University of Metaphysics International Los Angeles, California, Amerika Serikat, melalui nama itulah objek dikenal dan kekuatan laten dalam nama itu diaktifkan.
Nama Amir, Soeharto, dan Naratungga, misalnya, termaktub harapan (doa) agar (kelak) penyandangnya menjadi pemimpin, kaya, dan terpilih. Ketiga nama itu, bahkan, juga dapat merujuk pada identitas/jati diri: Amir (Islam), Soeharto (Jawa), dan Naratungga (Indonesia).
Belakangan ini, persoalan penulisan nama diri kembali marak diperbincangkan. Pemantiknya adalah pemutakhiran KBBI Daring terbaru (minggu kedua November 2019). Pada kamus itu terdapat perubahan enam ejaan nama diri kata serapan bahasa Arab: Alquran menjadi Al-Qur’an; Baitulmakdis menjadi Baitulmaqdis; Kakbah menjadi Ka’bah; Lailatulkadar menjadi Lailatulqadar; Masjidilaksa menjadi Masjidilaqsa; dan Rohulkudus menjadi Ruhulqudus (kbbi.kemendikbud.go.id).
Sungguh, setiap bahasa memiliki sistem ejaannya sendiri. Bahasa Indonesia, misalnya, mengubah kata massive (Inggris) serta ummat dan kulliyah (Arab) menjadi masif, umat, dan kuliah karena tidak mengenal tasydid ’pengulangan/penekanan huruf’. Kalaupun bahasa Indonesia memiliki kata massa ’orang banyak’, hal itu semata-mata untuk membedakannya dengan kata masa ’waktu, kala, jangka’.
Penyesuaian ejaan seperti itu terjadi pada bahasa apa pun. Bahasa Inggris, misalnya, menyerap al-kuhli dan manaaraat menjadi alcohol dan minaret. Sementara itu, bahasa Arab menyerap pos dan Petrus menjadi bushthah dan Butros.
Bahkan, penulisan nama Muhammad pun terdapat banyak varian, seperti Muhamad, Muchammad, Mohamad, dan Muhammed. Konon, orang-orang Arab di Afrika Utara (seperti Mesir) juga kerap menuliskan u dengan o dan sy dengan sh: Umar Syarif ditulis Omar Sharif.
Contoh itu menegaskan bahwa bahasa sungguh-sungguh arbitrer (manasuka), unik, dan lahir atas kesepakatan. Lalu, salahkah pemutakhiran KBBI Daring pada minggu kedua November 2019 itu?
Tentu tidak salah. Toh bahasa itu berkembang. Namun, bukankah penulisan nama diri memiliki kekebalan: boleh tidak sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia? Buktinya, masih banyak orang yang menulis namanya dengan apostrof (’), oe, dan dh, seperti Mu’jizah, Soeharto, dan Dharma.
Atas dasar itu, pemutakhiran KBBI Daring pada minggu kedua November 2019 itu justru membuka kontroversi. Mengapa? Karena, di samping dikhawatirkan akan mengancam kearbitreran dan keunikan bahasa Indonesia, pemutakhiran itu juga menodai kesepakatan yang telah ada.
Sebagai akibatnya, perubahan enam ejaan atas nama diri kata serapan bahasa Arab itu memaksa Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, sebagai pemegang otoritas kebahasaan, untuk memilih: menambah daftar perkecualian penulisan (seperti Tuhan Yang Maha Esa dan Bhinneka Tunggal Ika) atau mengubah kaidah ejaan.
Celakanya, apa pun pilihannya tetap mengandung risiko karena, konon, salah satu penentu bahasa itu mudah dipelajari adalah kukuhnya kaidah dan sedikitnya perkecualian. (*)
*) Peneliti ahli madya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
