alexametrics

”Fenomena Gila” dan Sabda Rangga Warsita

Oleh SUPARTO WIJOYO *)
16 September 2020, 19:48:16 WIB

AUTOSKEPTIS” atas Kasus Ali Jaber adalah judul Jati Diri harian Jawa Pos Selasa (15/9), yang saya niscayakan menyentak kesadaran keadilan setiap warga yang merasa bahwa republik ini negara hukum (rechtsstaat). Perspektifnya lugas dan sejurus membuka pintu pandora kelamnya rimba berkelok penegakan hukum, dari kasus Novel Baswedan, pemfasilitasan si buron Djoko ”Joker” S. Tjandra, maupun ”kado kerling indah” jaksa Pinangki Sirna Malasari. Situasinya merangkai bayangan perih bagi mata publik, lantas semakin menghunjam dalam sebilah belati ke lengan Ustad Ali Jaber dari pelaku yang hendak diberi jubah ”orang gila”.

Anna Rogulskyj

Tertuang sepenggal cerita di buku True Stories of Crime & Detection karya Gill Harvey (2003). Ada tiga belas perempuan yang meninggal, semuanya dibunuh secara kejam, dan tujuh perempuan lain cedera parah. Kejadian itu mencengangkan Kota Yorkshire di utara Inggris.

Nyaris 20 tahun polisi belum tiba pada penelusuran jejak si pembunuh. Tentu di abad ilmu pengetahuan forensik modern, pastilah dapat bekerja lebih cepat dari itu. Ketika polisi akhirnya menahan seorang sopir truk bernama Peter Sutcliffe, hal itu lebih disebabkan kesempatan yang menguntungkan semata.

Malangnya, serangan yang keji terhadap perempuan bukanlah tidak biasa, tapi sering kali dilakukan seseorang yang dikenal korban. Ketika Anna Rogulskyj diserang dengan kejam dari belakang, pacarnya justru yang pertama diperiksa polisi. Tak lama kemudian, diketahui sang pacar tidak ada kaitannya dengan penyerangan itu.

Anna Rogulskyj selamat, tetapi tidak dapat mengingat apa pun tentang penyerangan. Lelaki yang menyerangnya tidak merampoknya, pun tidak ada motif di balik serangan itu. Serangan demi serangan merupakan misteri.

Kisah panjang mengenai alur kriminalitas dan penyidikannya makin aktual untuk dibaca ulang sehubungan dengan kejadian-kejadian ganjil: penusukan dan pembunuhan tokoh agama yang dilakukan orang gila. Kejadian yang juga pernah menimpa keluarga kiai di Jombang pada era 1990-an serta menyeruak di kasus ”kolor ijo” maupun ”ninja Banyuwangi” tahun 1998. Konteksnya serupa fenomena tentang sebuah ”fragmen kejahatan yang dilakukan orang-orang gila” yang mampu bertindak sistematis.

Tragis. Hal ini bagi saya merupakan wujud betapa ngerinya pengulangan sejarah yang melibatkan ”orang gila” dalam ”tindak pidana”. Sebuah narasi yuridis-historiografis yang ”sangat elegan” dimainkan siapa saja yang sanggup mengontrol segala sumber daya hukum.

Kegaduhan terpotret dinikmati dan ditebar di jalanan. Pada titik ini, sedasar the rule of law, penegak hukum harus selalu waspada, tanggap dan terjaga serta tidak salah bertindak, tidak gagap menghadapi situasi apa pun. Mengikuti peribahasa Madura ”Mella’e pettengnga bingong e’leggana”, yaitu teguh berpegang prinsip tak goyah oleh ajakan menyimpangi norma. Makna dari peribahasa itu adalah: menatap di kegelapan bingung di keluasan dengan pesan tidak elok mengabaikan pertimbangan nalar keadilan menghadapi luasnya cakrawala peristiwa hukum.

Eling lan Waspada

Hadirnya ”orang gila” di panggung hukum sejujurnya membangun persepsi adanya gerakan kaukus memainkan ”orang-orang gila” yang berkecerdasan karena sasaran korbannya terseleksi dengan tepat. Pentas orang-orang gila yang mewarnai penegakan hukum acap kali berkelindan dengan ”tokoh spesifik”. Orang-orang itu mengalami ”metamorfosis” tidak tahan menghadapi kenyataan hidup hingga menjadi sangat tertekan jiwanya karena khawatir tidak dapat menggapai ”mimpi” yang sangat emosional.

Terhadap hal ini, situasinya persis seperti yang dianalisis Jean-Paul Sartre dalam karyanya, Theory of The Emotions (1962). Emosi orang-orang itu merefleksikan sebuah keadaan yang terjadi berulang-ulang dalam situasi yang sulit. Dan hal ini bukanlah soal karakter, melainkan soal perasaan yang fluktuatif. Berarti ”kegilaan orang-orang” dalam peristiwa hukum memenuhi kategori model ”perasaan yang fluktuatif” itu, yang nanti usai ”pembebasan”, dia akan singgah membopong mahkota kaukusnya. Dan untuk selanjutnya mereka tidak menyorongkan periode pencederaan, melainkan berkhotbah untuk ”membadut dalam rangka pemenuhan kebutuhan keluarga”.

Konstruksi sosial politiknya disindir apik Mikhail Alexandrovich Bakuni (1814–1876), seorang ideolog paling terkenal di Eropa, di buku Statism and Anarchy yang ditulis di Rusia, 1873. Dia menerangkan: ”… jalan pertempuran yang tepat tidak diinginkan para pemimpin dan politikus … mereka lebih aman dalam pertempuran tidak berdarah di parlemen … sebagai lembaga untuk latihan retorika”.

Sehubungan orang-orang gila yang pandai memilih momentum untuk membangun kerumunannya, saya mengajak membaca Kitab Kebijaksanaan Orang-orang Gila (’Uqala’ al-Majanin) yang ditulis Abu Al-Qasim An-Naisaburi yang terbit kali pertama 1987. Buku itu memuat 500 kisah muslim genius yang dianggap gila dalam sejarah Islam, ditulis seribu tahun lalu.

Terdapat mutiara hikmah yang banyak dari pustaka ini: Wahai Sa’dun, mengapa engkau tidak bergaul dengan masyarakat? Sa’dun bersyair: Menjauhlah dari orang-orang supaya mereka menyangkamu takut. Tak perlu kau menginginkan saudara, teman, dan sahabat. Pandanglah manusia dari mana pun kau suka. Maka yang akan kau lihat hanyalah kalajengking.

Kalajengking itu bisa berupa sosok yang ”mengayunkan golok umpatan” kepada khalayak. Ini juga barisan ”kegilaan yang mewabah” di masyarakat medsos. Akhirnya kita kembali merenungi dalam hening di kala ramai sambil menyimak Serat Kalatidha Ranggowarsito: Zaman Edan: Amenangi zaman edan; melu edan ora tahan; yen tan melu angklakoni boya keduman, bejo-bejone kang edan, luwih bejo kang eling lan waspodo. Jadi ingatlah pitutur luhur Raden Ngabehi Rangga Warsita (1802–1873) alias Bagus Burhan ini di saat ada ”kaukus orang-orang gila”. (*)


*) Suparto Wijoyo, Akademisi Fakultas Hukum dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads