Foto udara pegunungan pasca longsor dan banjir Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Senin (1/12/2025). (Biro Setpres)
HAMPIR dua pekan pasca wilayah Sumatera dilanda bencana banjir bandang. Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat masih berduka. Jumlah korban yang teridentifikasi terus bertambah. Hingga Minggu malam, 7 Desember 2025, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jumlah korban meninggal sudah mencapai 921 orang. Sedangkan warga hilang yang masih dalam proses pencarian kini 392 orang. Angka yang tidak sedikit.
Belum lagi kerugian lain dari dampak banjir bandang, ribuan rumah hanyut, desa hilang, kendaraan terseret hingga kini tidak punya nilai, jembatan putus, jalan hancur ditimpa longsor dan dipenuhi lumpur yang dibawa banjir bandang.
Belum lagi temuan kayu-kayu gelondongan di pantai, di laut dan di sepanjang aliran banjir. Jumlahnya tidak terhitung. Kayu gelondongan itu terpotong presisi. Ada yang memiliki nomor. Kayu-kayu itu semua diklaim sebagai kayu potongan yang hanyut. Bukan kayu yang sengaja dipotong oleh pihak-pihak tertentu.
Statemen dari pejabat yang menyatakan demikian sangat melukai hati publik. Mereka terluka karena di balik kayu gelondongan itu ada ratusan nyawa melayang, ribuan orang kehilangan tempat tinggal.
Bagi warga yang selamat dari sapuan banjir bandang, kini mereka mengalami trauma berat. Terbukti ketika hujan kembali mengguyur daerah di Sumatera Barat, baik di Maninjau Kabupaten Agam atau kawasan Batu Busuak, Kota Padang, warga setempat cepat-cepat berlari mencari tempat aman. Khawatir air berwarna cokelat dari hulu sungai yang beserta hujan tiba kembali membawa petaka. Ibu-ibu panik. Yang mereka cari adalah anak-anaknya dipastikan ada dan ikut menyelamatkan diri bersama.
Sedangkan bapak-bapak pucat pasi sembari beristigfar. Antara pasrah atau tidak tahu lagi apa yang bisa diperbuat. Bisa jadi masyarakat itu sudah lelah bertahan. Bertahan sudah 10 hari lebih tidak mendapat asupan gizi sesuai. Lelah mencari sanak keluarga yang belum bertemu, lelah melihat rumahnya masih tertimbun lumpur, lelah mencari rumah yang sudah hanyut dibawa banjir. Jika mendapat makan, tentunya makanan dari bantuan yang diantarkan para relawan, pejabat, atau negara melalui petugasnya.
Di Jakarta, DPR sibuk mececar pejabat-pejabat terkait. Mereka menuding Pemerintah lalai. Lalai karena memberikan izin pengelolaan lahan yang over sehingga tutupan hutan di Sumatera berkurang drastis. Apalagi data dari Greenpeace menyatakan bahwa hutan alam di Sumatera saat ini sudah kurang dari 30 persen. Angka yang sangat miris. Hutan di Indonesia yang selama ini disebut-sebut sebagai "jantung dunia" kondisinya tidak lagi sehijau seperti data-data yang diperdengungkan.
Padahal semua orang sudah tahu bahwa hutan di Indonesia memiliki peran sangat vital. Mulai dari penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen yang merupakan paru-paru dunia. Kini kondisinya semua orang tahu. Ketika banjir bandang lalu, air bah tidak hanya menyalir dengan warna cokelat belaka. Air bah atau air galodo (seperti disebut orang Minang) membawa kayu-kayu gelondongan.
Berkurangnya tutupan hutan di Indonesia, khususnya di Sumatera terjadinya bukan dalam waktu yang singkat. Tentu sudah bertahun-tahun. Apalagi data dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) deforestasi di Indonesia terus meningkat hingga 2024, meskipun diklaim pada 2025 mengalami penurunan 49.766 hektare (ha).
Jika dilihat trennya, deforestasi itu tetap naik, 119.092 (2020), 139.087 (2021), 119.449 (2022), 145.439 (2023), 216.216 (2024), 166.450 (2025). Angka 166.450 yang baru per September 2025 tetap lebih tinggi dibandingkan 2023 dan sebelumnya. Penurunannya hanya dibandingkan 2024. Artinya tren deforetasi terus meningkat.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
