Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Maret 2024 | 14.38 WIB

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ketahanan Pangan

Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si, Dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa

Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si *)

INDONESIA dengan kekayaan alamnya yang melimpah dan populasi yang besar, memiliki potensi besar untuk mencapai ketahanan pangan yang kokoh dan berkelanjutan. Namun, realitasnya menunjukkan bahwa perjalanan menuju kemandirian pangan masih dihadapkan pada berbagai tantangan yang perlu diatasi.

Modal besar Indonesia, seperti lahan pertanian yang luas, kekayaan sumber daya alam, dan keragaman agroklimatik, seharusnya menjadi keuntungan besar dalam membangun ketahanan pangan.

Namun, perubahan iklim yang semakin tidak terduga menjadi ancaman serius bagi produktivitas pertanian Pola curah hujan yang tidak`menentu, perubahan suhu yang ekstrim, dan dampak lainnya telah mengakibatkan kerugian pada produksi tanaman pangan dan meningkatkan risiko ketidakstabilan pangan.

Kesulitan juga dialami dalam mengatasi kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan serta ketidak merataan akses terhadap teknologi dan infrastruktur pertanian, menjadi hambatan utama dalam mencapai ketahanan pangan yang merata di seluruh negeri. Ketergantungan pada impor pangan tertentu juga menimbulkan ketidakpastian pasokan dan harga pangan, terutama saat terjadi gangguan dalam rantai pasok global.

Pentingnya Ketahanan Pangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Ketahanan pangan memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan kesejahteraan masyarakat. Ketahanan pangan tidak hanya masalah teknis terkait produksi dan distribusi pangan, tetapi juga merupakan fondasi penting bagi kesejahteraan dan stabilitas masyarakat secara keseluruhan.

Berikut beberapa alasan mengapa ketahanan pangan menjadi krusial bagi kepentingan masyarakat:

1. Kesehatan Masyarakat: Akses terhadap pangan yang bergizi dan aman merupakan fondasi utama untuk menjaga kesehatan masyarakat. Ketahanan pangan yang baik akan memastikan bahwa setiap individu memiliki akses terhadap makanan yang cukup dan seimbang gizi, yang secara langsung berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup dan produktivitas.
2. Ketahanan Ekonomi: Ketahanan pangan yang kuat juga berdampak positif pada stabilitas ekonomi masyarakat. Dengan memiliki akses terhadap pangan yang cukup dan terjangkau, masyarakat dapat mengalokasikan sumber daya mereka ke sektor-sektor ekonomi lainnya, yang pada gilirannya akan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
3. Ketahanan Sosial: Ketahanan pangan juga membantu dalam membangun ketahanan sosial masyarakat. Dengan memiliki akses terhadap pangan yang mencukupi, masyarakat menjadi lebih tangguh dalam menghadapi krisis dan perubahan, serta lebih mampu untuk mendukung diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
4. Kedaulatan Pangan: Ketahanan pangan juga merupakan aspek penting dari kedaulatan pangan suatu negara. Dengan membangun kemandirian pangan, negara dapat mengurangi ketergantungannya pada impor pangan dari luar negeri dan memiliki kendali lebih besar atas pasokan pangan dalam negeri.

Dengan pemahaman akan pentingnya ketahanan pangan bagi kesejahteraan masyarakat, Indonesia perlu mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi tantangan perubahan iklim yang mengancam ketahanan pangan.

Upaya kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil menjadi krusial dalam membangun sistem pangan yang kuat dan berkelanjutan untuk masa depan yang lebih baik bagi semua orang di Indonesia.

Baca Juga: FTP Universitas Warmadewa Gelar Kompetisi Bambu Internasional

Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan menjaga ketahanan pangan, Indonesia juga dihadapkan pada transformasi ekonomi yang memengaruhi sektor pertanian. Transformasi ini berdampak pada konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian, mengancam ketersediaan pangan. Alih fungsi lahan pertanian, terutama sawah, mengurangi jumlah lahan yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan, yang berpotensi mengurangi produksi pangan. Diperlukan kebijakan yang berfokus pada peningkatan produksi pangan, pengelolaan sumber daya, dan pengurangan kerentanan terhadap perubahan iklim

Dengan demikian, penanganan tantangan perubahan iklim dalam konteks ketahanan pangan tidak hanya memerlukan pendekatan teknis dalam produksi pangan, tetapi juga membutuhkan kebijakan yang holistik dan kolaboratif untuk mengatasi dampak perubahan iklim dan memastikan ketersediaan pangan yang cukup, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.

Perubahan iklim global berdampak nyata pada produksi tanaman pangan. Secara global, perubahan iklim diproyeksikan dapat menurunkan produksi tanaman, terutama di wilayah pertanian yang terletak di lintang rendah akan mengalami dampak negatif.

Dampak negatif tersebut dikarenakan wilayah lintang rendah memiliki suhu udara yang berada pada batas toleransi tanaman (di bawah 10oC dan di atas 29oC). Berdasarkan simulasi model tanaman, dilaporkan bahwa kenaikan suhu 1oC dan kenaikan curah hujan 5% akan menurunkan produktivitas padi hingga 0,33 ton/ha.199 Sementara itu, kejadian iklim ekstrem yang seringkali berakibat pada kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia juga berdampak negatif terhadap produksi tanaman pangan.

Proyeksi pemanasan global dapat meningkatkan frekuensi kejadian El Niño–Southern Oscillation (ENSO) yang ditandai dengan kejadian El Niño dan La Niña. El Nino merupakan kejadian dimana musim panas yang relatif lebih panjang sehingga berimplikasi pada kejadian kekeringan, sementara La Nina ditandai dengan intensitas curah hujan tinggi yang berdampak pada banjir.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore