Masdar Hilmy
PUPUS sudah hasrat bangsa ini untuk bisa menyaksikan tunas-tunas muda kita berlaga di ajang bergengsi Piala Dunia U-20 di negeri sendiri. Kepastian itu diperoleh setelah FIFA membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 (Jawa Pos, 30/3). Sekalipun FIFA tidak menyebutkan secara eksplisit, diduga kuat penolakan kehadiran timnas Israel oleh sejumlah pihak menjadi alasan pembatalan tersebut.
Pembatalan itu tak ayal menjadi pukulan telak bagi sepak bola di tanah air mengingat Piala Dunia U-20 menjadi kesempatan emas bagi atlet-atlet muda kita menjajal atmosfer kompetisi tingkat internasional. Keikutsertaan timnas U-20 diperoleh melalui posisi Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tanpa posisi tuan rumah, hampir dapat dipastikan timnas Indonesia sulit mendapatkan kesempatan berlaga di ajang bergengsi tersebut.
Tanpa bermaksud mencari kambing hitam di balik itu semua, pelajaran berharga yang bisa diambil adalah pentingnya kecermatan, kematangan, dan kedewasaan dalam menyikapi isu internasional agar tidak kontraproduktif terhadap masa depan olahraga bangsa kita di ajang internasional. Karena itu, segera setelah pembatalan oleh FIFA, Presiden Jokowi menginstruksikan agar ketua umum PSSI merumuskan cetak biru (blueprint) persepakbolaan di tanah air.
Terorisme dan Olahraga
Israel pernah mengalami masa kelam dalam sejarah keikutsertaannya pada Olimpiade Musim Panas 1972 di Munich, Jerman Barat, yang dikenal dengan ’’pembantaian Munich” (Munich massacre). Dalam peristiwa tersebut, dua anggota tim Israel tewas dan sembilan lainnya disandera oleh serangan organisasi militan Palestina ’’September Hitam” (Black September). Sepanjang sejarah Olimpiade, ini adalah peristiwa kekerasan terorisme pertama yang berhasil menyita perhatian dunia.
Pembantaian tersebut sebenarnya merupakan buntut dari perang Arab-Israel pada 1948. Para pelaku menuntut pembebasan 234 warga Palestina yang dipenjara oleh otoritas Israel dengan cara membarter sembilan sandera. Kesembilan sandera akhirnya tewas setelah pihak otoritas Jerman melakukan tindakan penyelamatan namun gagal.
Pembantaian Munich menyadarkan pihak Israel tentang risiko kekerasan terhadap setiap warga negaranya dalam berbagai ajang olahraga internasional. Sejak saat itu, Israel –dengan melibatkan agen rahasia Mossad– bersikap sangat keras terhadap siapa pun yang mengancam keselamatan warga negaranya di luar negeri.
Sekalipun terorisme tidak punya relevansi dengan olahraga, terdapat hubungan yang kuat di antara keduanya. Hubungan di antara keduanya sangat jelas jika kita melihat fakta terjadinya 6.714 peristiwa terorisme internasional sejak akhir 1960-an sampai awal 1990-an (Weimann & Winn, 1994). Dari jumlah tersebut, 168 serangan terorisme telah terjadi di arena olahraga sejak 1972 sampai 2004 (K. Clark, 2004). Karena itu, sangat boleh jadi salah satu alasan pembatalan FIFA adalah soal isu keamanan penyelenggaraan ajang empat tahunan tersebut, terutama menyangkut keselamatan timnas Israel U-20.
Sarana Diplomasi
Olahraga sejak dari awalnya bersifat netral. Olahraga bisa menyatukan atau memisahkan manusia. Olahraga dapat menjadi sarana persaudaraan antar-sesama manusia, apa pun latar belakang suku, ras, budaya, dan agama. Seorang figur atlet olahraga yang dicintai pengagumnya dapat menyatukan miliaran manusia dengan latar belakang agama yang berbeda. Misalnya, Muhammad Ali, Mike Tyson, Zinedine Zidane, Mohamed Salah, Lionel Messi, Maradona, Pele, Roger Federer, Rafael Nadal, dan lain-lain.
Olahraga juga dapat menjadi alat diplomasi yang ampuh untuk meredakan ketegangan antarnegara. Contoh paling gamblang dari fenomena ini adalah ’’diplomasi ping ping’’ tahun 1971 yang dapat mencairkan ketegangan antara AS dengan RRC. Selain itu, olahraga dapat menjadi sarana menghukum negara-negara tertentu yang dianggap melanggar konvensi internasional seperti agresi militer atau konvensi internasional. Karena itulah Goodhart dan Chataway (1968) menyebut olahraga sebagai ’’perang tanpa senjata” (war without weapons).
Pelajaran Berharga
Kasus penolakan timnas U-20 Israel di satu sisi dapat dipahami sebagai konsistensi kita dalam menolak penjajahan bangsa Palestina oleh Israel. Di sisi lain, penolakan tersebut sebenarnya tidak menyelesaikan masalah yang terjadi di Palestina. Bahkan, kasus itu justru memperburuk citra Indonesia sebagai negara yang tidak bisa memisahkan politik dari olahraga. Padahal, keberpihakan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina bisa tetap diperjuangkan tanpa harus menolak kehadiran timnas U-20 Israel karena keduanya merupakan isu yang berbeda.
Yang lebih memprihatinkan adalah membawa agama sebagai pembenar bagi penolakan tersebut. Menggunakan argumentasi agama untuk menegaskan sikap kita atas penolakan timnas U-20 Israel menjadi absurditas yang sulit dinalar akal sehat mengingat masing-masing tidak memiliki relevansi satu sama lain. Dalam konteks ini, kedewasaan kita masih kalah jauh dibanding dengan sejumlah negara di Timur Tengah yang tetap memperjuangkan kemerdekaan Palestina namun menjalin hubungan diplomatik dengan Israel seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Maroko.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
