TAHUN 2022 telah terlewati. Meredanya badai pandemi Covid-19 di Indonesia adalah salah satu hal yang wajib disyukuri. Satu hal signifikan dan penting ketika bergelut dengan pandemi adalah kehadiran teknologi informasi dan digital. Tidak dapat disangkal, percepatannya membantu koordinasi dan penanganan pandemi secara global dan kolaboratif pada tingkatan pengambil kebijakan. Sekuens dan varian virus bisa dengan cepat dipetakan untuk kemudian diinformasikan. Data didapat dan kebijakan dibuat.
Namun, tidak pula dapat diabaikan bagaimana riuh rendah percakapan dan interaksi di ruang publik digital selama pandemi. Tidak mudah dipetakan pola interaksi dan komunikasinya. Imbauan-imbauan tenggelam dalam sentimen publik. Berita duka dan permenungan beradu banyak dan cepat dengan perdebatan.
Sifat ruang publik digital ini menegaskan apa yang pernah disifatkan Rogers (1986) dalam Karman (2014) sebagai interaktivitas, demasifikasi, dan asinkronus. Lalu lintas informasi dan pola komunikasi di ruang publik digital berlangsung ke segala arah, secara masif dalam posisi yang relatif ”setara”, dan dalam waktu yang bersamaan secara singkat. Karakter ini juga sebangun dengan yang pernah dituliskan Manuel Castells sebagai timeless time dan space of flows.
Karakter-karakter unik tersebut adalah tantangan baru bagi dunia komunikasi yang harus secepat mungkin bisa diformulasikan dan disikapi dengan tepat.
Dewasa dan Cerdas Digital
Meskipun film dokumenter Social Dilemma sudah lama berlalu, dilema sosial yang terjadi dalam masyarakat sepertinya masih jauh dari kata usai. Percepatan dan akselerasi teknologi digital telah membawa kehidupan manusia lebih mudah, cepat, dan nyaman. Sebagaimana kehidupan manusia juga masih tersandung-sandung untuk memahami dengan titis setiap informasi yang sangat cepat, sangat melimpah ruah dan dalam fragmen-fragmen.
Mengutip Dr Yuhyun Park (2019), mungkin manusia di era digital ini tidak cukup hanya cerdas intelektual (IQ), cerdas emosional (EQ), dan cerdas spiritual (SQ) saja. Ia juga sangat memerlukan untuk cerdas digital (DQ, digital quotient). Banyak sekali peristiwa di mana orang-orang yang dianggap sudah mapan dalam IQ, EQ, dan SQ diobrak-abrik oleh misinformasi, malinformasi, dan disinformasi dalam ruang publik digital.
Menelisik lebih dalam Park, literasi digital yang selama ini banyak kita berfokus ternyata ”hanyalah” satu aspek saja dari delapan aspek digital lainnya yang perlu untuk dicermati. Di samping literasi digital (digital literacy), masih ada identitas digital (digital identity), penggunaan digital (digital use), keselamatan digital (digital safety), keamanan digital (digital security), kepekaan emosi digital (digital emotional intelligence), komunikasi digital (digital communication), dan hak cipta digital (digital rights).
Kecakapan dalam aspek-aspek digital tersebut akan membantu kita untuk secara perlahan dan bertahap mencapai tingkat kematangan dan kedewasaan digital. Tidak hanya menjadi pengasup dan konsumen digital yang seolah tanpa batas, tapi bisa turut mengisi ruang publik digital dengan muatan yang saling memberi manfaat dan saling menyelamatkan. Tidak hanya berhenti di titik turut mengisi (content creator), tapi dengan sinergi dan kolaborasi bisa menawarkan solusi dan pendekatan-pendekatan atas permasalahan aktual yang terjadi di masyarakat. Park menyebut tingkat kedewasaan digital di titik ini sebagai digital competitiveness.
Crowd Wisdom
Mengacu hipotesis mendasar sosiologi dan komunikasi, bahwa lanskap sosiologi masyarakat adalah resultan resiprokal dari interaksi dan pola komunikasi antarkomponen dalam masyarakat itu sendiri, maka dampak negatif dan kebisingan dalam ruang publik digital bisa jadi terletak pada titik ungkit yang sama: kebiasaan berkomunikasi (digital). Dalam era digital ini informasi tidaklah dicari sebagaimana dua hingga tiga dekade silam, tapi mendatangi. Informasi datang memasuki keseharian manusia karena ia datang melalui device kita berupa notifikasi-notifikasi pada aplikasi-aplikasi digital. Kita kemudian meresponsnya. Di ujung simpul-simpul komunikasi lainnya, setiap orang juga meresponsnya sehingga membentuk jejaring komunikasi digital yang terus membesar dan complicated. Mungkin inilah apa yang dulu pernah disampaikan Castells sebagai the networked society.
Tidak banyak orang yang sadar, meskipun mengetahui, bahwa informasi yang mendatangi kita bukanlah informasi yang sepenuhnya ”bebas”, melainkan ia berjalan dalam koridor dan deretan algoritma tertentu. Dengan kata lain, informasi tersebut sudah terkurasi oleh sebuah ”mesin” yang terus ”belajar” (machine learning). Ia belajar dan mempelajari perilaku dan kebiasaan penggunanya untuk kemudian mengustomisasi jenis dan tipe informasi yang disodorkannya ke masing-masing device secara unik. Ini adalah salah satu pangkal dari dampak negatif digital yang disebut sebagai ruang gema (echo chamber).
Namun, ada satu peluang kecil di sini. Kalau para pengguna digital ini lebih dewasa dan cerdas, kebiasaannya akan ”direkam” oleh algoritma yang pada ujungnya akan memperbaiki kualitas informasi yang sampai. Hasil ”kurasi” algoritma akan terus membaik dan memperbaiki diri. Informasi yang mendatangi si A yang terbiasa mengumpat dan si B yang terbiasa menyaring sebelum sharing akan sangat berbeda.
Jika hal tersebut dilakukan secara masif sebagai sebuah gerakan bersama, akan bisa dicapai sebuah kondisi di mana terjadi crowd wisdom atau wisdom of crowds. Kebijaksanaan atau kearifan yang ”dihasilkan” oleh pola interaksi dan komunikasi dari sekumpulan orang. Kearifan ini yang akan mampu mengimbangi kemungkinan karakter manipulatif dan eksploitatif dari beberapa algoritma digital yang sebenarnya juga masih berdiri di atas kepentingan kapital sebagai model bisnisnya (Aral, 2020).
Penutup
Selain meredanya pagebluk, banyak peristiwa di 2022 yang patut kita catat, khususnya dalam bingkai ruang publik digital, seperti peristiwa Bjorka, perhelatan G20, maupun berbagai ”bencana”: gempa Cianjur adalah yang terkini. Meskipun ilmu komunikasi adalah tentang menyampaikan sesuatu. Namun, karakteristik ruang publik digital yang unik membutuhkan pendekatan dan penyikapan yang unik pula.
Anak tangga pertama yang saya tawarkan untuk naik ke dewasa dan cerdas digital adalah apa yang pernah saya baca dari khazanah pengetahuan Islam: ”mengetahui apa yang perlu disampaikan itu penting, tetapi mengetahui apa yang tidak perlu disampaikan itu jauh lebih penting”. Semoga ini bermanfaat, wabil khusus untuk menyambut 2024.
(*)
*) SUKO WIDODO, Akademisi Universitas Airlangga, Wakil Ketua Komite Komunikasi Digital Jawa Timur