
R. BUDIJANTO ROHMAN BUDIJANTO
PERGANTIAN tahun diwarnai drama kepakaran antara BRIN dan BMKG. Peneliti BRIN menge-twit bahwa ada potensi banjir besar di Jabodetabek pada 28 Desember. Itu akibat hujan ekstrem dan badai dahsyat. ’’Tol hujan’’ laut-darat disebutnya sudah terbentuk sehari sebelumnya pada dini hari, pukul 03.00.
Ya, jelas panik lah. Badai dahsyat adalah horor di negeri ’’tiada badai tiada topan kau temui’’ ini. Begitu pula istilah anyar ’’tol hujan’’, membayangkan angin hujan melaju bebas hambatan. Makin seram, karena peringatan pakar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu kemudian digaungkan jadi imbauan oleh Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Santoso. Agar para pekerja melakukan WFH atau bekerja dari rumah.
Ternyata BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) juga ’’panik’’. Karena, menurut BMKG, tak seseram itu. Maka diumumkan bahwa tak ada prediksi badai besar pada 28 Desember. Yang ada hujan ekstrem pada 30 Desember. Kalau hujan ekstrem sudah agak biasa, karena sejak bulan lalu terjadi di mana-mana.
Semestinya kita lega ada koreksi prediksi dari BMKG. Namun, ternyata perbedaan prediksi antara peneliti BRIN dan BMKG malah jadi ’’taruhan’’ netizen di medsos. Siapa di antara dua lembaga saintifik itu yang akurat. Hasilnya, ternyata badai besar tidak terjadi di Jabodetabek. Yang ada memang hujan deras, termasuk pada 30 Desember.
Riuhlah komentar di jagat medsos yang kini jadi media mainstream. Intinya, tergoreslah reputasi BRIN. Setelah kejadian menepuk prediksi memercik ke muka sendiri itu, BRIN sibuk mengelapnya. Ketua BRIN menyebut penelitian itu inisiatif pribadi (Kita bisa bayangkan bila prediksi tersebut akurat, sikap lembaganya pasti akan beda).
Sebenarnya pakar meleset dalam meramal itu biasa. Menjelang Piala Dunia Qatar, viral prediksi Brasil akan bertemu Belgia di puncak final. Peramalnya Joshua Bull, pakar matematika Universitas Oxford. Kabarnya, ramalan tersebut dibantu komputer super. Ternyata, hasilnya super meleset. Brasil tersingkir di perempat final. Bahkan, Belgia tersungkur di fase grup.
Reaksi atas kegagalan ramalan Joshua Bull itu ternyata biasa-biasa saja. Tidak ada kecaman atau makian berlebihan (kecuali oleh yang kalah bertaruh). Karena mungkin disadari, sifat ramalan itu hanya untuk bersenang-senang. Status kepakaran matematika dan Oxford di situ sekadar bungkus agar kelihatan intelek.
Yang penting bagi Joshua Bull, niat viral alias iktikad viral sudah kesampaian. Dia terkenal mendadak. Meski, dia mungkin cemas reputasinya sebagai matematikawan –yang biasa memodelkan pertumbuhan tumor– ternoda. Untung, Universitas Oxford tenang-tenang saja, tak merilis cuci tangan.
Memprediksi skor atau hasil sepak bola atau olahraga lain jelas tak bisa disamakan dengan meramal badai. Yang satu permainan, yang lain bisa menyangkut nyawa. Semestinya memprediksi sesuatu yang serius itu didasari iktikad ilmiah dengan standar yang ketat. Bukan iktikad viral sensasional.
Inilah yang jadi masalah, kata Tom Nichols, penulis buku Death of Expertise (Matinya Kepakaran), ketika pakar menyeberang dari garis menjelaskan ke meramalkan, karena menuruti selera publik. Godaannya memang besar. Pamer diri ala selfie yang selfish alias ’’riya’’ jadi perlombaan, bahkan jadi bisnis. Maka, siapa pun bisa menjadi arus utama (mainstream) yang menawarkan ketenaran instan lewat viral. Awam pun lebih suka ramalan ketimbang penjelasan. Sebab, ramalan menawarkan pegangan atas tanda tanya masa depan. Tak heran, peramal kadang lebih dirubung pernyataannya ketimbang pakar yang ’’hanya’’ menjabarkan penjelasan.
Maka, rem kepakaran bisa blong. Saat Covid-19 yang dimulai Desember 2019 juga muncul ’’ramalan ilmiah’’. Sosok yang dikenal sebagai pakar survei politik pada akhir April 2020, lewat ’’hasil riset’’, meramalkan bahwa 99 persen Covid-19 di Indonesia akan berakhir pada Juni 2020. Hasilnya, 99 persen itu ternyata margin of error. Hingga kini Covid-19 belum berakhir, meski pemerintah menyetop pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada 30 Desember 2022, dua hari lalu.
Sebenarnya penting juga bagi pakar ilmiah untuk memberi penjelasan sekaligus memprediksi. Sebagai peringatan dini. Namun, tak perlu memastikan, apalagi hingga 99 persen. Karena banyak faktor tak terduga yang kompleks. Contoh, ada prediksi terjadinya megathrust (’’mahagempa’’) ala Aceh 2004 di pantai selatan Jawa. Ini penting untuk berwaspada, meski waktunya tak jelas kapan.
Pula seperti tradisi di akhir tahun, muncul banyak pakar yang melakukan outlook atas tinjauan setahun ke depan. Biasanya soal ekonomi. Mereka lumayan layak disimak untuk mengantisipasi peluang dan tantangan. Para outlooker itu juga tak pernah dikontroversikan, karena tak bicara akurasi outlook-nya akhir tahun lalu. Mereka melupakannya karena publik juga tak pernah menagih.
Mungkin pelajarannya, kalau ’’meramal’’ jangan hitungan hari. Karena publik masih akan ingat untuk mengecek kebenarannya. (*)
*) Senior Editor Jawa Pos

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
9 Rekomendasi Gudeg Koyor Paling Nendang di Semarang, Kuliner Tradisional dengan Rasa Sultan
7 Rekomendasi Brongkos Paling Ngangenin di Jogja, Kuliner Khas dengan Rasa Manis Gurih Pedas
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
15 Tempat Kuliner di Jogja untuk Sarapan Pagi Paling Murah Meriah tapi Rasa Tetap Istimewa
Rekomendasi Kuliner Sate Kambing Terenak di Jogja: Daging Empuk di Lidah, Bumbu Meresap Sempurna
Prediksi Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs Madura United di Derbi Suramadu! Misi Bangkit di Hadapan Bonek
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Madura United! Momentum Bernardo Tavares Buktikan Magisnya di GBT
