Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Desember 2022 | 02.48 WIB

Resesi Seks dan Tubuh yang Rasis

Photo - Image

Photo

TAK hanya resesi ekonomi dan politik, negeri ini juga dihantui resesi seks. Sosiolog UNS (Solo) Drajat Tri Kartono memaparkan riset mengejutkan terkait hal ini. Katanya, hampir 60% perempuan kelas menengah tak ingin buru-buru menikah. Sekitar hampir 20% benar-benar memutuskan tak ingin menikah dan memiliki anak. Artinya, bangsa kita akan menjadi penyalur bangsa jomblo di dunia.

Secara global, negeri kita bukan satu-satunya yang diterpa badai resesi seks. Tahun lalu, jurnal The Atlantic telah mencatat sejumlah negara maju yang dilanda resesi seks. Di antaranya, Jepang, Tiongkok, Inggris, dan Amerika. Hampir 50% perempuan di sana enggan berkeluarga. Umumnya, disebabkan dua alasan utama.

Pertama, mereka tak ingin merasakan beban derita menjalani fase melahirkan. Kedua, ekonomi perempuan yang mulai mapan dan ekonomi negara yang tak tentu arah. Baginya, lebih baik menikmati hidup tanpa anak. Termasuk tanpa ada pasangan hidup di hari tua. Supaya menekan biaya hidup di negeri mereka.

Di Tiongkok, misalnya, tiga tahun terakhir ini angka kelahiran menurun drastis. Rata-rata di bawah 10 juta setiap tahun. Angka ini merosot dibanding sejak tahun 1949 yang rata-rata di atas 10 juta. Di Amerika, reproduksi seksual itu juga terus menukik di bawah 50% pada periode yang sama. Di Inggris, fenomena prostitusi dan layanan diri semakin marak. Demi bertahan hidup di tengah resesi ekonomi, perempuannya lebih memilih melacur atau bermasturbasi (self service). Begitu pula lelakinya.

Fenomena resesi seks di banyak negara menunjukkan titik balik tubuh yang rasis. Tubuh yang rasis meniscayakan adanya pengendalian tubuh sosial di masyarakat. Gerakan gender berparadigma liberal menganggap tubuh adalah arena politik. Aliran gender ini meyakini kaum lelaki sebagai biang keroknya.

Tetapi, aliran gender posmodern menganggap maskulinitas tak sebatas lelaki. Perempuan juga sama agresif, keras, dan represifnya dengan lelaki. Tak jarang dijumpai sosok perempuan lesbian dan masokis. Bahkan, ada yang sadis pada anaknya, mengintimidasi pasangannya, dan memperbudak pembantunya.

Kala raja Victoria berkuasa di abad ke-17, tubuh rakyatnya dianggap penuh noda. Sebaliknya, tubuh penguasa dan keluarga raja adalah tubuh paling suci dan mulia. Sehingga, hanya penguasa yang berhak mengatur dan mengawasi privatisasi tubuh warganya. Inilah sejarah tubuh yang rasis bermula di Eropa dan menular hingga ke tanah-tanah jajahannya. Praktik kekuasaan ini disebut operasi rezim panoptikon. Riset genealogi Foucault (1978 dan 1985) berhasil menunjukkannya. Tubuh yang rasis ini bisa dibaca dalam The History of Sexuality (Vol. 1 dan 2).

Dalam tubuh yang rasis, sistem pengetahuan rakyatnya dikebiri rezim kebenaran. Tujuannya, membersihkan pikiran, perkataan, pengetahuan, dan tindakan penubuhan. Rezim kebenaran tersebut menjadi kaki tangan pengendali rezim panoptikon. Rezim kebenaran ini memakai dalih hegemonik. Misalnya, dalih moralitas tuan, birokrasi psikologis, dan legitimasi media massa ’’pelat merah’’.

Represi pengetahuan dari rezim kebenaran ini menunjukkan lenyapnya suara rakyat suara Tuhan. Tergantikan oleh suara tuan (rezim) suara Tuhan. Akibatnya, wajah demokrasi pun tercemar karena ditunggangi oleh sistem democrazy, kegilaan dalam demokrasi.

Sistem democrazy ini melumpuhkan orang-orang baik di lingkaran elite. Hanya, mereka terkunci di tengah mayoritas elite yang gila kuasa, takhta, dan harta. Ini menyebabkan orang-orang baik di lingkaran elite terpaksa mendua (ambivalen). Di satu sisi, mereka menyadari bahwa jabatannya hasil dari amanah rakyatnya. Di sisi lain, mereka berurusan dengan oligarki kekuasaan yang cenderung korup dan otoriter. Kondisi ini menyulut resistansi sosial tak berkesudahan.

Resistansi sosial terhadap kekuatan para elite democrazy ini beragam jenis. Misalnya, wacana tandingan, rutinitas demonstrasi, dan ketidakpercayaan publik. Itu bisa diwujudkan dalam bentuk seni jalanan, musikal, dan kelas-kelas kritis. Inilah jenis resistansi sosial yang terbuka.

Sementara itu, resistansi sosial terselubung bisa berupa anarkisme, terorisme, dan subversi senyap. Penyebaran kebencian, isu SARA, dan hoaks termasuk juga di sana. Secara psikoanalisis, tubuh yang terkekang memicu pencarian saluran libido sosial. Tragisnya, saluran libido sosial ini biasanya menantang sekaligus menyimpang.

Sangat berbahaya jika resistansi sosial terselubung subur di kalangan anak muda. Bukan hanya anak muda ini akan kehilangan masa depannya. Melainkan, resistansi sosial negatif ini dimanfaatkan mafia global. Bukan rahasia lagi, mafia global telah masuk ke negeri kita. Mereka bergerak dalam bisnis peredaran narkoba, perdagangan manusia, prostitusi lintas dunia, dan lainnya. Berkat iming-iming penghasilan besar, anak muda resistan ini rentan terperangkap mafia global.

Untuk mengantisipasi dan mengatasinya, upaya hukum saja tak cukup. Sebab, tak ada hukum manusia yang sempurna. Apalagi, di negeri kita hukum terkadang terkontaminasi oleh kegilaan politik dan akumulasi ekonomi. Untuk itu, persoalan tubuh yang rasis ini membutuhkan jalan kepemimpinan organik.

Yakni, pemimpin yang tak egois dan narsis. Tak suka menyalahkan orang lain. Mendahulukan mutu partisipasi publik. Bukan manusia munafik. Mereka berani hidup melarat demi menjaga amanah demokrasi. Meskipun jabatan dan harga diri taruhannya.

Amanah demokrasi sesungguhnya tak muluk-muluk. Pertama, kesejahteraan rakyat terjamin sepanjang hayat. Bukan pada saat BBM naik atau masa korona saja. Kedua, pendidikan terjangkau dan membahagiakan bagi semua. Bukan bagi kelas berpunya saja, namun juga bagi kelas bawah. Ketiga, keadilan sosial sungguh-sungguh adil dan merata. Bukan sebatas permainan bahasa politik pada masa kampanye.

Keempat, setiap kebijakan yang dibuat bukan atas pesanan dan menjamin oligarki. Melainkan, berpusat pada suara hati rakyat, merakyat, dan bermanfaat. Terakhir, tak ada kekuasaan yang perlu dipertahankan mati-matian. Semuanya hanyalah titipan Tuhan. Lebih penting, tak seorang pun boleh menjadi Tuhan bagi sesamanya. Semoga amanah demokrasi bisa menerjang berbagai resesi di negeri ini. Tanyalah pada hatimu, kawan.




*) ARDHIE RADITYA, Sosiolog Unesa, penulis buku Sosiologi Tubuh

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore