
Photo
PEMBERITAAN terkait kasus dugaan penipuan investasi yang menggunakan afiliator untuk melancarkan aksinya kini semakin terkuak. ”Sultan” digital yang dulu dipuja kini terpaksa berurusan dengan polisi. Entah akan menjadi kasus yang berakhir melegakan atau malah bisa hilang ditelan bumi. Saat ini netizen mulai gundah, bahkan tak jarang yang skeptis jika ada sosok influencer kaya raya muncul dan mempromosikan sesuatu.
Namun, di sisi lain, pebisnis membutuhkan influencer untuk memperkenalkan produk atau jasanya. Lalu bagaimanakah posisi influencer sekarang? Bisakah membantu netizen untuk memilih ”sesuatu” yang benar? Ataukah demi pundi rupiah influencer rela menjerumuskan netizen kesayangan? Lantas apakah afiliator itu juga sama dengan influencer? Karena mereka sama-sama menggunakan media sosial (social media) untuk memberikan pengaruh.
Memang tak mengherankan jika informasi atau bahkan kasus yang terunggah di media sosial kemudian menjadi viral. Jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 212 juta jiwa (sumber Katadata) dan berada di peringkat ketiga terbanyak di Asia.
Sebelum membahas lebih jauh, mari bedakan afiliator dan influencer. Dalam buku berjudul Kewirausahaan dari Industry 4.0 Menuju Society 5.0, affiliate marketing adalah kegiatan memasarkan produk dengan cara mengikuti program afiliasi terlebih dahulu (Dauly dan Sanny:2021). Sehingga afiliator tentu saja seseorang yang memberikan pengaruh besar pada keputusan orang lain untuk berpartisipasi dan ikut menjalankan sebuah bisnis. Bukan tanpa alasan bagi seseorang mengikuti jejak sang afiliator jika tidak ada iming-iming cuan (keuntungan) melimpah. Cara komunikasi afiliator yang utama adalah melalui media digital atau internet. Media sosial yang menjadi pusat arus informasi itu menjadi poros bagi afiliator untuk berkomunikasi dengan calon afiliasinya.
Sama-sama memberi pengaruh, influencer tidak melulu mengajak netizen untuk berafiliasi. Influencer adalah sosok yang dianggap memiliki sisi keberhasilan dan menjadi panutan bagi pengikutnya. Apa pun yang diucapkan dan dilakukan influencer sering kali menjadi inspirasi bagi pengikutnya. Nah, supaya sukses jadi afiliator, maka jadilah influencer.
Ada banyak cara menjadi seorang influencer. Tapi, benang merahnya adalah memberikan pengharapan hingga bisa menjadi tujuan hidup bagi pengikut (netizen). Harapan menjadi kaya membuat netizen akhirnya menggunakan cara yang ditawarkan sang afiliator yang merupakan influencer-nya.
Harapan yang terus dipupuk oleh influencer kaya agar bisa berafiliasi dengan bisnis yang ditawarkan membuat dana miliaran tersangkut dan akhirnya netizen rugi besar, bahkan terlilit utang. Maka, menjadi netizen yang tidak terkena ranjau penipuan sang influencer tidak mudah memang. Perlu kemampuan untuk mengevaluasi sumber, mengidentifikasi bias, mengasah logika, dan menghindari argumentasi yang bersifat mengelabui. Agar tidak menjadi korban informasi, netizen wajib berpikir kritis. Tidak bisa menjadi netizen hanya scroll, like, dan membubuhkan komentar semata.
Berpikir Kritis
Secara umum, manusia pada hakikatnya punya berkah kemampuan berpikir kritis. Bahkan, saking kritisnya, jempol netizen bisa juga menuliskan komentar yang membuat seseorang sakit hati, bahkan berujung pada tindakan hukum. Sebenarnya kemampuan berpikir kritis bisa menjadi jalan ninja buat netizen untuk menghindari keputusan tidak tepat yang disebabkan kesalahan penggunaan informasi.
Namun, kita semua tahu bahwa netizen berhak memilih. Tapi juga haus akan konten. Siapa produsen media dan siapa konsumen media dalam media sosial bisa dibolak-balik. Maka, konsumen media sosial juga punya kuasa sama dengan produsen konten media sosial. Hal itu yang membuat pengguna media sosial berlomba untuk memengaruhi banyak orang dan mendapatkan keuntungan dari sana.
Dalam media sosial yang berbasis user generated media (UGM), membuat konten adalah tulang punggung. Dan juga berbagi konten yang dibuat oleh segudang pengguna. Dari sini kreator konten (content creator) berlomba menarik minat dan menjalin keterikatan dengan netizen guna menaikkan pengikut. Para kreator konten pun tidak menggunakan cara yang biasa untuk bisa memuaskan netizen.
Kreator konten yang berkeinginan untuk dapat memengaruhi atau bisa disebut ingin menjadi influencer memberikan kepuasan dengan konten harapan. Biasanya netizen tidak puas dengan konten yang disajikan tipe media lain, maka mereka memilih media sosial untuk mendapatkan informasi yang diinginkan. Saat pencarian informasi sesuai pengharapan netizen, mereka pun terjebak dalam gelembung algoritma. Semakin dalam mencari konten yang diinginkan, semakin dalam pula terjebak dalam informasi yang sama.
Motivasi jadi orang sukses ala media sosial adalah sukses berbisnis dan kaya raya. Motivasi itulah yang secara psikologis membentuk pencarian netizen menuju ke peluang bisnis menjadi kaya. Peluang itu kemudian dijadikan para influencer yang bekerja sebagai afiliator untuk menggaet pemilik uang. Untuk bisa memberikan pengaruh butuh drama, maka influencer menggunakan kisah hidupnya agar semakin dipercaya. Pengaruh sosial budaya di Indonesia, yang ingin bergaya kebarat-baratan dengan menggunakan barang branded, juga semakin memudahkan afiliator terduga pelaku penipuan investasi untuk bisa mendapatkan banyak investor.
Panutan
Awas, jangan salah pilih panutan, mungkin itu saja yang bisa disematkan pada logika berpikir para pengguna media sosial. Pengguna media sosial yang memiliki peran ganda sebagai konsumen dan produsen konten wajib memiliki kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik yang lengkap untuk terhindar dari jebakan penipuan. Dalam ranah kognitif, netizen memilih influencer dengan cara mengingat, memahami, menganalisis, dan mengevaluasi agar bisa mendapatkan informasi yang membantu, bukan menjebak. Menumbuhkan sikap kritis menjadi mutlak bagi setiap pengguna media sosial.
Terakhir, tidak semua investasi itu menipu. Tidak semua investasi berujung gulung tikar. Banyak pula investasi yang memberikan kekuatan ekonomi lebih tinggi. Selain itu, tidak semua influencer mencari keuntungan dari pengikutnya. Banyak pula influencer yang punya dedikasi untuk memberikan edukasi dalam berbagai bidang. Pesan penulis adalah pilihlah informasi dari jari dengan kritis untuk mendapatkan edukasi yang positif. (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
