Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Desember 2023 | 18.14 WIB

Banjir Bukan Sekadar Bencana Alam

THIO HOK LAY

MUSIM hujan di pengujung tahun sudah tiba. Artinya, banjir perlu diwaspadai dan diantisipasi agar peristiwa malam kelam di ibu kota pada pergantian 2019–2020 tidak terulang pada tahun ini (2023–2024). Apalagi, di berbagai daerah, sudah ada kabar memilukan banjir menerjang seperti di Malang, Jawa Timur; Semarang, Jawa Tengah; dan Bogor, Jawa Barat.

Tak disangkal bahwa banjir memang musibah. Sampai detik ini, problematika banjir tak kunjung usai dan tuntas dalam hal pembahasan dan upaya penanggulangannya. Namun, menerima dan menempatkan fenomena banjir sebagai bencana alam yang bersifat laten, terjadi secara berulang, rasanya perlu dikoreksi dan diluruskan.

Bagaimana mungkin menerima banjir yang menghancurkan harta benda, merampas kesehatan, bahkan merenggut nyawa manusia sebagai suatu hal yang wajar. Bahkan, dinantikan kehadirannya sebagai sebuah siklus tahunan. Untuk itu, sebagai upaya edukasi dan penyadaran publik, terdapat serangkaian pertanyaan reflektif sekaligus esensial yang perlu diajukan, antara lain: Benarkah banjir merupakan bencana alam? Bukankah alam hanyalah merespons segala perilaku dan tindakan manusia yang dialamatkan kepadanya?

Ringkasnya, alam ibarat cermin. Jangan sampai hanya karena buruk rupa, lantas cermin dibelah. Jangan sampai alam dituduh sebagai penyebab dari tiap-tiap musibah (bencana) yang terjadi. Apabila dibalik, bencana yang hadir itu imbas dari serangkaian sikap dan tindakan manusia yang secara sadar dan sengaja mencederai lingkungan.

Di era modernisasi ini, tampak terjadi pergeseran paradigma (cara pandang) dalam memaknai keberadaan alam lingkungan. Alam telah dipahami sebagai objek yang dapat dieksploitasi (dikuras) dalam rangka untuk memenuhi keinginan hawa nafsu yang pada dasarnya tak pernah mengenal rasa cukup dan puas. Lupa bahwa sumber daya alam (SDA), termasuk daya dukung dan daya lenting lingkungan, memiliki keterbatasan.

Ego diri dalam mengejar aneka keinginan yang tak pernah mengenal rasa cukup dan puas. Inilah yang sering kali menjebak dan memerangkap manusia untuk melakukan aneka tindakan yang berujung pencemaran lingkungan (polusi).

Chapman dkk (2007) dalam bukunya yang berjudul Bumi yang Terdesak menyatakan bahwa di samping pertumbuhan populasi manusia yang berlangsung secara eksponensial, gaya hidup dan pola konsumsi manusia telah mendorong munculnya teknologi yang dalam pemanfaatannya justru semakin merusak lingkungan.

Lingkungan terestrial rusak. Tindakan penggundulan hutan (deforestasi) dan penebangan/penambangan liar (illegal logging) bukanlah tindakan yang mencerminkan perilaku ekologis sekaligus humanistis. Tajuk pepohonan yang semestinya berperan sebagai filter alami bagi pukulan air hujan jadi hilang.

Dampak ikutannya bisa ditebak, yakni hilangnya porositas tanah untuk menyerap air hujan karena terkikis (tergerus)-nya permukaan tanah oleh air hujan akibat penebangan pohon secara massal.

Lingkungan akuatik juga tercemar karena aneka sampah plastik yang dibuang di badan air. Pula, fenomena eutrofikasi akibat pencemaran badan air oleh limbah organik. Dampaknya, oksigen terlarut berkurang, arus air melambat, dan berujung pada pendangkalan badan air.

Lingkungan udara pun tak luput dari pencemaran gas buang dari aktivitas transportasi dan industri. Ringkasnya, tak satu pun area ekosistem di bumi ini, darat, air, dan udara, yang steril dari pencemaran akibat aktivitas manusia.

Ringkasnya, fenomena banjir senyatanya merupakan indikator konkret bahwa kualitas interaksi dan relasi manusia dengan alam perlu mendapatkan perhatian ekstra serius dan perlu diperbaiki.

Penyadaran Lingkungan

Esensi pendidikan adalah upaya penyadaran. Butet Manurung, aktivis pendidikan, menyatakan bahwa pendidikan adalah kunci bagi masyarakat adat untuk melindungi hutan kita. Saat hutan terawat dengan baik, nantinya hutan akan menghidupi kita melalui aneka keanekaragaman hayatinya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore