Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Agustus 2023 | 21.16 WIB

Urgensi Cuti Bersalin Enam Bulan

Ahmad Suryawan

PUBLIK sempat diramaikan dengan pro-kontra substansi dari Rancangan Undang-Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak (RUU KIA). Terutama tambahan masa cuti bagi ibu melahirkan, dari 3 bulan menjadi minimal 6 bulan. Juga wacana untuk memberikan cuti bagi ayah yang istrinya melahirkan.

Respons publik yang beragam ini menggambarkan bahwa niat baik pemerintah untuk memuluskan program Generasi Emas 2045, lewat peningkatan kesehatan ibu dan anak serta menciptakan kualitas tumbuh kembang anak yang optimal, belum sepenuhnya ditangkap oleh masyarakat, terutama kalangan industri. Muncul kekhawatiran resistensi perusahaan dalam mempekerjakan perempuan yang dapat mengganggu produktivitas kerja. Titik temu antara tumbuh kembang anak yang optimal dengan masa cuti ibu melahirkan adalah pada pemahaman bagaimana proses perkembangan otak anak.

Otak anak terbentuk sejak janin berada di dalam kandungan. Jumlah sel otak atau neuron mengalami peningkatan yang signifikan pada masa janin. Saat bayi lahir, berat otak anak masih setara 25 persen berat otak orang dewasa. Meningkat tajam hingga 80 persen pada usia 2 tahun, dan mencapai 95 persen saat usia 6 tahun. Bila anak sudah berusia di atas 6 tahun, praktis hanya 5 persen dari berat otak yang belum terbentuk. Perjalanan waktu ini menggambarkan betapa cepatnya perkembangan otak anak pada usia 2 tahun pertama, yang dikenal dengan ’’periode kritis’’ perkembangan otak anak.

Pada masa setelah lahir, peningkatan berat otak disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah jaringan penghubung antarsel otak yang dinamakan sinaps. Jaringan sinaps terbentuk lewat mekanisme yang disebut experience-dependent synapse formation atau pembentukan sinaps yang bergantung ada atau tidaknya pengalaman yang diberikan kepada anak. Pembentukan sinaps sirkuit otak anak usia dini berjalan secara berurutan.

Segera setelah lahir, terjadi pembentukan sirkuit otak untuk kemampuan penglihatan dan pendengaran, dengan puncaknya pada usia 3–6 bulan. Disusul kemampuan bicara-bahasa, dengan puncaknya pada usia 8–9 bulan. Pada akhirnya, sirkuit otak untuk kemampuan fungsi kognitif yang lebih tinggi dengan puncaknya usia 2–3 tahun.

Dengan pola berurutan itu, maka ketika anak berusia 2 tahun pembentukan sirkuit otak untuk semua kemampuan anak telah mencapai puncaknya. Usia 3–6 bulan pertama adalah masa pembuka semua sirkuit otak yang akan digunakan sebagai dasar kemampuan anak sepanjang hidupnya nanti.

Dua komponen utama untuk pembentukan sirkuit otak selama masa periode kritis adalah nutrisi dini dan stimulasi dini. Nutrisi dini terbaik adalah air susu ibu (ASI). Stimulasi dini merupakan pemberian rangsangan sensoris melalui berbagai kegiatan secara interaksi berbalas antara orang tua dan anak. Anak secara alami melakukan interaksi melalui ocehan, ekspresi wajah, dan gerak tubuh. Kemudian, orang tua merespons balik kepada anak melalui berbagai vokalisasi dan isyarat yang sama.

Kegiatan interaktif dan responsif ini akan membangun dan memperkuat tatanan arsitektur sirkuit otak serta menciptakan kekuatan hubungan antara anak dan orang tua yang bertahan seumur hidupnya. Defisit pengalaman sensoris di usia dini berefek pada terjadinya defek dan atau disfungsi otak yang memicu gangguan atau penyimpangan perkembangan yang permanen.

Demikian pula dengan gangguan pertumbuhan anak seperti stunting, yang umumnya diawali dengan kondisi growth faltering atau gangguan pertumbuhan. Terutama berat badan di usia 6 bulan pertama sejak lahir. Cuti ibu bersalin minimal 6 bulan merupakan salah satu langkah strategis pencegahan stunting lewat pemantauan pertumbuhan bayi secara mandiri oleh ibunya. Hal ini sangat penting. Sebab, untuk setiap bulan terjadinya stunting ketika anak masih berusia di bawah 12 bulan, maka akan berisiko terjadinya pengurangan potensi tinggi badan sebesar 0,5 cm pada saat dewasa.

Narasi penjelasan di atas menggambarkan bahwa salah satu titik penentu keberhasilan pembentukan sirkuit otak anak adalah jaminan keberadaan ibu sebagai pengasuh utama. Ibu memberikan nutrisi dini terbaik dalam bentuk ASI eksklusif. Dia juga memberi stimulasi dini terbaik dalam bentuk pengasuhan interaktif yang berbalas. Bila dua hal itu diberikan dalam durasi minimal 6 bulan setelah dilahirkan, maka akan membuka dan mengawali rangkaian proses pembentukan sirkuit otak anak. Hasil akhir proses itu adalah terbentuknya otak anak dengan kemampuan cerdas berperilaku dan berperilaku cerdas.

Potensi permasalahan masa cuti bersalin memang layak mendapat perhatian khusus. Menurut data World Population Prospects, saat ini Indonesia tidak termasuk negara yang mengalami resesi reproduksi karena total fertility rate (TFR) masih sekitar 2,15. Artinya, satu wanita rata-rata melahirkan 2 anak sepanjang masa reproduksinya. Jadi, diperkirakan dalam setahun akan lahir 4,8 juta bayi baru.

Kontroversi tentang masa cuti ibu melahirkan akan produktif bila tak hanya berkutat pada lamanya waktu cuti. Konteks apa yang seharusnya ibu lakukan selama cuti layak untuk lebih dipahami masyarakat dan dunia usaha. Kita dapat memahami sepenuhnya mengapa negara maju tidak khawatir tentang kemerosotan produktivitas pekerja wanita yang diberi cuti melahirkan lebih dari 6 bulan. Karena mereka menarasikan cuti melahirkan bukanlah pemenuhan hak wanita semata. Namun, lebih jauh, sebagai strategi ilmiah untuk investasi keunggulan generasi bangsa.

Usia anak tidak mungkin diputar kembali. Otak anak hanya punya sekali kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Jadi, ketika anak masih di masa dini, tak boleh ada kesalahan sedikit pun dalam proses pembentukan otaknya. Kehilangan setiap momen tahapan tumbuh kembang anak usia dini dapat berakibat negatif permanen sepanjang hidup anak. Karena itu, ketika anak berada pada periode kritis perkembangannya: Gunakan, atau kehilangan selamanya. (*)


*) Ahmad Suryawan, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Bidang Ilmu Tumbuh Kembang Bayi dan Anak

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore