
Photo
APA yang terjadi jika saya duduk di warung rokok, lewatlah seorang gadis yang pada dasarnya tidak saya kenal, kemudian saya memanggilnya, ''Neng, temenin sini, dong,'' atau ''Hey, kamu manis, deh''?
Si gadis mungkin melengos dan bapak penjual rokok di warung akan tertawa atau malah ikut menggoda. Peristiwa itu dianggap kejadian biasa. Sebab, saya lelaki, tak peduli dengan apa pun yang dirasakan si gadis.
Sekarang bayangkan saya penulis terkenal, lalu seorang mahasiswi sastra ingin belajar atau sekadar penasaran karena dia kagum pada tulisan saya. Saya pergunakan kesempatan itu untuk mengajaknya bicara siang dan malam.
Di satu titik, saya membujuknya datang ke kamar dan menidurinya, kalau perlu dengan cekokan minuman sambil mengintimidasi, "Masak anak sastra enggak berani?"
Apa yang akan terjadi? Sangat mungkin masyarakat akan bilang, "Salah si cewek. Ngapain dia datang ke kamar buaya?" Sebab, saya lelaki, punya sedikit kuasa, tidak apa-apa jadi buaya pemangsa.
Skenario ketiga. Saya mahasiswa KKN dan teman mahasiswi saya terjebak hujan di pondokan saya. Saya mengizinkannya tidur di kamar. Bukannya tidur di kursi atau menjagai dia, saya malah ikut masuk ke kamar.
Saat dia tidur, saya mulai meraba tubuhnya. Teman saya terbangun dan marah. Ketika dia bersuara, apa yang akan terjadi?
Kampus sangat mungkin akan memanggil kami, menyuruh kami berdamai. Sebab, saya lelaki, dan kampus yang dipenuhi lelaki tak pernah mau berpikir bahwa lelaki memang bisa sebrengsek dan sejahat itu. Mereka akan mendorongnya menjadi tindak asusila.
Kasus-kasus semacam itu bukan kisah khayalan, juga bukan omong-kosong. Yang terkini terjadi pada seorang mahasiswi UGM bernama Agni (bukan nama sebenarnya) dan rektorat UGM malah memilih jalan damai.
Sebuah insentif dari institusi pendidikan bagi para predator seks. Sebuah keputusan memalukan bagi institusi pendidikan yang seharusnya berada di garis terdepan untuk melindungi civitas academica-nya dari segala jenis kekerasan.
Permakluman atas para predator seks, yang umumnya lelaki ini, memang sangat mengkhawatirkan di tengah masyarakat yang masih memuja maskulinitas, bahkan machoisme, di dalam budaya patriarki. "Kamu lelaki keren kalau kamu bisa memangsa perempuan", "Ikan asin di meja, wajar dimakan kucing garong."
Korban kekerasan seksual, umumnya perempuan, sering kali bungkam juga karena tekanan budaya semacam itu. Tekanan bahkan bisa datang dari sesama perempuan.
Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan #MeToo yang dipelopori para perempuan penyintas bangkit melawan budaya kekerasan seksual ini. Gerakan tersebut merebak dari Amerika, Asia, Eropa, dan tentu termasuk Indonesia meski situasinya masih tertatih-tatih.
Mengikuti gerakan tersebut, jelas kita tahu bukan hal mudah bagi para penyintas untuk bersuara. Dari sana kita juga bisa belajar satu hal yang sangat penting: mereka tak hanya menghadapi pelaku, tapi juga masyarakat yang buta dan penuh permakluman. Sering kali para lelaki, meskipun bukan predator, menjadi beban tambahan karena kita memutuskan diam, didera rasa sungkan yang tak patut.
Lihat, misalnya, kasus di Akademi Swedia. Pada awalnya mereka berusaha menutupi kasus pelecehan seksual yang dilakukan Jean-Claude Arnault, yang memiliki kerja sama dengan akademi. Bayangkan, bahkan anggota akademi itu sebagian adalah perempuan, termasuk istri si pelaku.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
