
Gerakan pendeklarasian #2019GantiPresiden Makin marak terjadi di beberapa daerah. Namun hal itu kerap menuai bentrok.
JawaPos.com - Kelompok pendukung Jokowi-Ma'ruf menilai hastag 2019 Ganti Presiden merupakan jiplakan dari Syria pada 2011 silam dan kini negara itu pun 'hancur'. Sejumlah politikus pendukung petahana itu khawatir Indonesia akan mengalami hal serupa dengan Syria.
Menanggapi itu, Akdemisi sekaligus pengamat politik Rocky Gerung menilai pernyataan beberapa pihak yang menyebut jika gerakan ini disamakan dengan kondisi negara Syria, sangat tidak tepat. Apalagi aksi ini disebut sebagai upaya mengganti dasar negara.
"Enggak usah ditanggepi. Tidak upaya untuk mengganti dasar negara. Terus berusaha menjadikan Syria sebagai model, itu otak dungu yang bikin kalkulasi itu," tegas Rocky di Menteng, Rabu (29/8).
Rocky menilai, seharusnya gerakan semacam ini tidak perlu dipermasalahkan oleh siapapun, apalagi hingga terjadi persekusi. Menurutnya perbedaan adalah sesuatu yang normal dalam berdemokrasi.
"Iya biarkan aja perdebatan itu. Kan demokrasi besar dari perbedaan," paparanya.
Justru, kata Rocky, jika pemerintah dan apartanya masih terus ngotot melarang gerakan #2019GantiPresiden maka bisa dipastikan aksi itu semakin meluas dan membesar.
"Gini yah di dalam teori mutakhir tentang public relation itu, sesuatu yang tidak ada, itu bisa jadi ada setelah dilarang. Jadi hastag itu akan makin ada, setelah negara membuat larangan," ujar Rocky.
Sementara itu Rocky pun tidak setuju jika #2019GantiPresiden termasuk gerakan makar. Sebab itu tidak mencederai politik nasional. Unsur-unsur untuk melakukan makar pun dianggap tidak terpenuhi oleh gerakan ini.
"Isitilah makar itu ngaco sebetulnya dan sudah salah. Kalau orang baru pasang hastag di Riau, apa urusannya dengan situasi politik di Monas di depan Istana?" kata Rocky.
"Kalau saya bilang ingin ganti Presiden jam 12 siang nanti, mungkin itu makar, itupun kalau bisa dibuktikan pada jam 11 pagi ini, dan itu saya sudah memgerahkan pasukan untuk kepung istana, baru itu namanya makar. Kalau cuma ngomong apa efeknya," tegasnya.
Mantan pengajar filsafat UI itu juga itu mengingatkan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun pernah menyebut, jika hanya kaos tidak akan bisa mengganti seorang Presiden. Dengan demikian tidak perlu ada penolakan terhadap gerakan #2019GantiPresiden.
"Ya Jokowi sendiri bilang jangan takut hastag, kalau cuma kaos apalagi cuma hastag yang ditempel di kaos. Bodoh sendiri kan," paparnya.
Sebelumnya,
Sekjen PKB Abdul Kadir Karding menilai tagar itu merupakan jiplakan dari Syria. Karena aksi serupa pernah dilakukan di Syria pada 2011 silam. Gerakan ganti presiden tersebut pun membawa petaka bagi negara tersebut.
"Oh iya itu (tagar impor), terjadi di Syria tahun 2011. Dan kenapa Syria kacau karena salah satu faktornya hastag itu dikapitalisasi kelompok yang ingin mendirikan khilafah. Sehingga terjadi seperti Syria hari ini," ujar Karding yang juga merupakan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Jokowi-Ma'ruf di Rumah Cemara, Menteng, Jakarta, Selasa (28/8).

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
