Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Agustus 2018 | 11.42 WIB

Aktivis 98 Sebut 'Gerakan 2019 Ganti Presiden' Pembodohan Publik

Aksi 2019 Ganti Presiden. Aktivis 98, Taufan Hunneman menilai aksi ini miskin narasi, lantaran tidak memberikan edukasi politik yang positif kepada masyarakat. - Image

Aksi 2019 Ganti Presiden. Aktivis 98, Taufan Hunneman menilai aksi ini miskin narasi, lantaran tidak memberikan edukasi politik yang positif kepada masyarakat.

JawaPos.com - Tagar '2019 Ganti Presiden' dinilai miskin narasi. Pasalnya tidak ada konten yang dibangun, yang melibatkan proses bekerjanya pendidikan politik buat rakyat.


Selain itu, tagar ini menimbulkan multitafsir atas tagline ganti presiden. Apakah kemudian ganti presiden ini menunjuk pada personality presiden atau sistem kepresidenan.


Pernyataan tersebut disampaikan Aktivis 98, Taufan Hunneman ketika menanggapi pro dan kontra gerakan ini. "Karena multitafsir inilah, maka ada yang menafsirkan sebagai makar," ujar Taufan kepada JawaPos.com, kemarin.


Taufan menilai wajar ada reaksi keras dari arus bawah, yang tidak menginginkan kehadiran pegiat aksi ganti presiden. Sebab ada rakyat sedang menikmati stabilitas negara, sehingga persepsi ganti presiden upaya mengusik ketenangan rakyat


"Ganti presiden di samping miskin narasi, multitafsir, dia juga menjadi gerakkan sumir alias kampanye tersembunyi," jelas Sekjen Fornas Bhinneka Tunggal Ika itu.


Upaya pihak kepolisian yang melarang atau membubarkan harus dilihat dalam berbagai konteks agar tidak terjadi bentrokkan antardua kelompok.


Taufan menyayangkan kubu yang tidak mampu mengelola isu atau ide menyangkut gagasan atau kinerja pemerintah karena tidak mampu maka menciptakan jargon. Bahasa jargon ini merupakan agitasi politik yang efektif jika dihadapkan pada situasi politik yang otoriter.


"Namun karena situasi politik saat ini sudah demokrasi maka bahasa jargon ini merupakan pembodohan atas kehendak publik," tegas pria yang berprofesi sebagai advokat itu.


"Kelompok intelektual harus bersatu dan mendorong penguatan kualitas demokrasi agar ikut aktif mematahkan argumentasi yang melawan konstitusi," pungkasnya.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore