Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 23 Juli 2019 | 00.04 WIB

Sosialisasikan Empat Pilar Lewat Ludruk, Warga Sumenep Antusias

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menggelar Sosialisasi Empat Pilar melalui Pagelaran Seni Budaya Ludruk di Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Jawa Timur, Sabtu malam (20/7). Acara itu  mendapat sambutan antusias luar biasa dari warga masyarakat.


Lapangan tempat digelarnya acara itu tampak tak mampu menampung arus penonton yang membludak datang dari berbagai desa yang ada di Kecamatan Saronggi.


“Saya bangga karena malam ini penonton cukup padat. Ini pertanda bahwa masyarakat di sini sangat menyukai Seni Budaya Ludruk sekaligus sosialisasi empat pilar,” kata Kepala Biro Humas Setjen MPR Siti Fauziah saat memberi sambutan.


Birokrat yang akrab disapa Titi itu juga menjelaskan dalam memasyarakatkan Empat Pilar, MPR selalu menggunakan berbagai macam metode. Sasarannya pun berbagai elemen masyarakat. Mulai dari lomba cerdas cermat hingga seminar.


MPR memilih seni budaya sebagai salah metode sosialisasi. Menurut Siti Fauziah, di dalam seni budaya tradisional, seperti Seni Budaya Ludruk ini, mengandung filosofi yang berisi tuntunan dan dapat dijadikan panutan, selain sebagai tontonan.


“Mudah-mudahan cerita ludruk yang disampaikan dalang Didik, melalui lakon ‘Legenda Sumenep’, memberi manfaat untuk masyarakat, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” harap Siti Fauziah.


Pagelaran Seni Budaya Ludruk ini dibuka oleh anggota MPR RI Nizar Zahro yang mengaku bangga dan terkesan dengan antusiasme masyarakat. Karena mereka bisa guyub kumpul dalam satu tenda besar.


Selain itu hadir juga para pejabat daerah bersama warga dan tokoh masyarakat dari berbagai elemen, hadir juga Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antar Lembaga dan Layanan Informasi Biro Humas MPR RI Muhamad Jaya dan para kepala Desa, Camat Saronggi, Danramil, Kapolsek, para kepala Dusun dan Karang Taruna.


“Inilah tujuan diadakannya pagelaran seni budaya ludruk ini, untuk menyatukan semua masyarakat. Karena kita sama-sama menyadari bahwa yang kita urus adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia, negara milik kita semua, bukan negara milik satu kelompok," ungkap putra asli Madura itu.


Nizar juga mengungkapkan, di tengah situasi yang sulit seperti sekarang ini, seni budaya ludruk bisa menjadi salah satu alat yang paling efektif untuk bisa menyatukan rakyat dari semua suku atau etnis. Kebetulan penduduk Kabupaten Sumenep, baik warga pendatang dan penduduk asli, mereka sangat kompak.


“Tinggal sekarang, bagaimana melalui pagelaran ludruk ini rakyat Sumenep, khususnya kecamatan Saronggi, bisa guyub dan rukun,” ujarnya.


Berkaitan dengan sosialisasi Empat Pilar MPR RI (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika), Nizar menjelaskan, itu bukanlah tata urutan kenegaraan, melainkan hanya pengemasan saja.


Intinya, ada empat hal pokok di negara ini yang tak boleh kita langkahi, yakni Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara dan Ketetapan MPR, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.


Jadi, lanjut Nizar Zahro, di negeri ini apapun bentuk kehidupan tidak boleh bertentangan dengan Pancasila. “Kalau bertentangan dengan Pancasila, itu berarti melawan hukum di Indonesia,” ujarnya.


Begitu pula UUD NRI Tahun 1945 adalah hukum tertinggi di negeri ini. Kalau ada hukum lain bertentangan dengan konstitusi maka hukum itu menyalahi aturan yang ada di Indonesia. Misalnya, kalau ada Perda bertentangan dengan UUD maka wajib dibatalkan.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore