Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Agustus 2020 | 21.58 WIB

PKS: Bila Ingin Ekonomi Pulih, Maka Dengarkan Ahli Kesehatan

Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno Mardani Ali Sera menyatakan, lawan berat calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) pada pemilihan presiden 2019 ini adalah dirinya sendiri. - Image

Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno Mardani Ali Sera menyatakan, lawan berat calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) pada pemilihan presiden 2019 ini adalah dirinya sendiri.

JawaPos.com - Angka kasus Pandemi Covid-19 di tanah air masih terus bertambah. Sampai dengan Rabu (19/8) kemarin tercatat total 144.945 orang dinyatakan positif virus Korona.

Menanggapi hal tersebut, ‎Anggota DPR daei Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera mengatakan, pemerintah perlu sadar bahwa masalah ini semakin menjadi bom waktu jika tidak ditangani secara sungguh-sungguh.

"Dalam beberapa kesempatan, Pak Jokowi menyatakan hati-hati dalam menghadapi gelombang kedua Covid-19. Ini ironi, mengingat puncak gelombang pertama belum kita ketahui jika melihat grafik kasus positif Covid-19 yang selalu meningkat," ujar Mardani kepada wartawan, Kamis (20/8).


Meski terlambat, langkah mencegah persebaran mesti menjadi fokus pemerintah. Terapkan 3T, yakni test, tracing, treatment. Kemudian diiringi dengan peraturan yang memaksa protokol kesehatan agar dipatuhi warga.

Menurut Mardani, Covid-19 tidak hanya berbicara mengenai kesehatan individu. Tapi kesehatan masyarakat dan bangsa. Pasalnya, Jika kasus terus meningkat tapi fasilitas layanan kesehatan tidak bertambah, kapasitas bisa membludak dan petugas kesehatan kita bisa kewalahan.

"Tanpa langkah preventif yang masif dan terukur, jelas ini seperti pembiaran," tegasnya.

Sebagai informasi, jumlah dokter di Indonesia terendah kedua di Asia Tenggara yakni 0,4 dokter per 1.000 penduduk. Secara tidak langsung hanya punya empat dokter yang melayani 10 ribu penduduk.

"Jauh lebih rendah dari Singapura yang mempunyai dua dokter per 1.000 penduduk," ungkapnya.

Sampai saat ini, banyak langkah pemerintah yang mengundang blunder, penerapan new normal yang tidak dikaji secara matang sehingga memunculkan cluster-claster baru seperti perkantoran.

"Mau sampai kapan kebijakan tanpa grand design yang jelas dan based on science lintas bidang ini terjadi dan berjalan," tanyanya.

Belum lagi, lanjut Mardani, masalah resesi. Meskipun resesi ini terjadi di semua negara, tapi yang belum pasti adalah kecepatan pemulihan ekonominya. Ekonomi tidak akan pulih total bila Covid-19 masih ada di luar sana. Atasi ekonomi, dengan mengatasi pandemi terlebih dahulu.

"Kita semua layak khawatir Indonesia bisa masuk jurang resesi lebih dalam pada kuartal III-2010 jika tidak segera berbenah. Menyelamatkan rakyat terlebih dahulu merupakan strategi terbaik jika ingin menyelamatkan ekonomi," tuturnya.

Apa yang jadi andalan untuk pemulihan ekonomi. Apakah pariwisata. Justru orang ingin bepergian jika sudah aman. Karena itu, bila ingin ekonomi pulih, maka dengarkan ahli kesehatan.

"Evaluasi hasil riset dari luar. Semoga ke depan kebijakan-kebijakan pemerintah semakin tajam dan peka terhadap kondisi masyarakat," pungkasnya.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore