
Anggota MPR Bambang Soesatyo berpidato usai pelantikan pimpinan MPR periode 2019-2024 di ruang rapat Paripurna MPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/10/2019). Sidang Paripurna tersebut menetapkan Bambang Soesatyo sebagai Ketua MPR periode 201
JawaPos.com - Semua kelompok masyarakat yang hidup di bumi nusantara wajib takdir kebhinekaan Indonesia. Karena itu, bagi mereka yang menolak harus segera dirangkul oleh pemerintah.
Karena itu butuh sebuah rumusan pendekatan kepada kelompok atau komunitas-komunitas yang masih menolak pancasila dan kebhinekaan di negeri ini. Sudah saatnya pemerintah dan MPR menjalin kerja sama dengan semua lembaga atau institusi keagamaan demi terwujudnya Indonesia yang beragam dan damai.
"Rongrongan terhadap kebhinekaan sudah demikian nyata, butuh upaya lebih kuat lagi untuk melawannya. Ingat kita ditakdirkan berbhineka," ujar Bambang Soesatyo.
Dijelaskan politikus Golkar yang biasa disapa Bamsoet ini, saat ini ada sejumlah komunitas terang-terangan menyatakan tidak lagi mencintai fakta keberagaman yang menjadi takdir bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Dalam tahun-tahun terakhir ini, kelompok atau komunitas intoleran itu terlihat dimana-mana. Di sekolah, kampus perguruan tinggi, di banyak tempat kerja, dan di banyak institusi negara atau institusi pemerintah," ujar Bamsoet.
Pada saat yang sama, kata Bamsoet, ada kekuatan lain yang menunggangi kelompok-kelompok itu agar menjadi salah satu instrumen teror yang nyata. "Inilah realitas masalah atau persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini," tuturnya.
Negara memang sudah menyikapi kecenderungan ini dengan membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Di luar BPIP, banyak tokoh masyarakat dan pemuka agama, termasuk pejabat pemerintah, tak henti-hentinya menyerukan perlunya menjaga kerukunan dan budaya toleran.
"Sudah banyak kegiatan dialog lintas agama dan budaya sudah digelar," jelasnya.
Namun, Publik merasakan bahwa ragam program dan pendekatan untuk mereduksi perilaku intoleran itu belum membuahkan hasil sebagaimana diharapkan. Masih ada kecenderungan saling hina antar-kelompok atau antar-golongan bahkan makin tinggi intensitasnya.
Karena itu, menurut Bamsoet, perlu dicari dan dijajagi rumusan program dan model pendekatan lain. Utamakan program dan pendekatan baru yang bertujuan menghilangkan saling curiga.
"Selama ini, dirasakan ada kebuntuan karena keengganan berdialog. Belum lagi sikap saling curiga antara negara dengan komunitas-komunitas itu. Untuk tujuan ini, pemerintah dan parlemen perlu mengambil inisiatif," urainya.
Agar lebih komprehensif memahami akar permasalahan, Bamsoet mendorong pemerintah dan parlemen mendengarkan pandangan dan masukan dari lembaga-lembaga agama.
"Menjadi ideal jika rumusan program dan model pendekatan baru itu dilandasi kemauan baik saling merangkul dalam konteks sesama anak bangsa, untuk kemudian berdialog. Jika ada kontinuitas dialog, perilaku intoleran menjadi tidak relevan lagi," pungkasnya.

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Ekuador vs Curacao: Alan Franco Sudah Lupakan Kekalahan di Laga Perdana
